Semenjak pamanku memberiku kumis harimau, rasa percaya diriku sebagai pejabat semakin bertambah. Paman pernah bercerita kumis harimau mampu meningkatkan kadar kewibawaan sebagai seorang pejabat. Aku memang pejabat yang tanpa persiapan apalagi disiapkan. Semuanya serba kebetulan. Kebetulan punya teman dekat. Kebetulan punya uang lebih hingga aku dengan mudah bisa meraih jabatan yang kuharapkan. Lucunya lagi aku disuruh memilih jabatan itu. Apa yang kupilih pasti akan diberikan karena harganya sudah pas bahkan katanya uang yang kuberikan tanpa kuitansi itu lebih dari cukup. Aku merasa terhormat saat itu. Orang-orang tak ada yang berani mengomentari karena sudah merasa kalah bersaing.

Jika ada waktu, kusempatkan mengunjungi pamanku. Ia gembira dan merasa berhasil karena berkat kumis harimau pemberiannya aku dipercayai oleh bawahanku. “Gimana di kantor sekarang?”

“Berkat Paman. Tiang sukses menjadi pejabat. Jika tidak, pastilah tiang sudah menjadi bulan-bulanan. Dikatakan pejabat hanya pintar tukang perintah saja. Pejabat yang hanya punya telunjuk saja. Syukur ada kumis harimau. Rata-rata tunduk dan segan pada tiang. Hampir setiap anak buah memuji kepemimpinan tiang.”

“Paman ikut berbangga. Semoga kau menjadi pejabat yang sukses. Semoga cita-citamu untuk menjadi pejabat yang lebih tinggi bisa tercapai.”

“Semoga saja.” Aku pun tidak lupa menyelipkan kertas warna merah di kantongnya. Paman pura-pura menolak. Aku tahu itu. Biasa basa-basi agar tak sampai dikatakan mata duitan.

Setiap aku melakukan kunjungan. Kumis harimau itu tetap kubawa. Dalam balutan kapas dibungkus kain kafan putih yang telah dirajahi harimau yang sedang menyeringai. Matanya mendelik. Taringnya berkilat. Harimau loreng gagah dengan mulut terbuka. Aku melihat saja saja merasa dirasuki ruh harimau. Apalagi ditambah dengan sarana kumis aslinya.

Kumis harimau itu sudah dipasupati. Sengaja kucari hari Tumpek Landep hingga benar-benar bertuah seperti ujungnya keris pusaka. Istriku memang tahu sedikit tentang bebanten. Ia buatkan semayut pemasupati dengan alas daun endong merah dan tumpeng merah, ayam biing serta bahan-bahan upakara yang lainnya. Kusuruh paman yang menghaturkan upakara itu. Mulutnya komat-kamit. Itu artinya ada mantra yang dikeluarkan dengan penuh kekuatan. Wajahnya tampak memerah dan mengeluarkan energi harimau dari dalam secara maksimal.

“Masukkan ini ke dalam dompetmu. Ingat bawa setiap bepergian. Paman yakin tak ada yang berani bicara tentang dirimu. Ia akan tunduk dan hormat. Matamu akan kelihatan menyala seperti mata harimau mengintai mangsanya. Kata-katamu akan bergetar seperti auman harimau saat menggertak lawannya. Tubuhmu akan membesar seperti harimau saat memperlihatkan taring-taringnya. Tak usah gentar. Kau akan disegani oleh bawahanmu. Tatap matanya. Bayangkan kamu mengguliti tubuhnya. Remukkan tulang belulangnya dengan gerakan tangan mengepal. Niscaya yang kau hadapi tunduk seperti putri malu yang kau sentuh. Jika ini tak mempan, paman berikan mantra harimau mengaum. Coba dulu ini. Selama ini yang memakai kumis harimau ini, rata-rata mengaku berhasil. Apalagi kau ada tetesan darah dari paman.”

“Terima kasih, Paman. Tiang akan selalu ingat akan pesan Paman.”

Kulihat paman senyum-senyum. Di balik senyum itu, pastilah ada yang diharapkannya. Sudah sedari dulu. Paman ingin keponakannya menjadi pejabat. “Kesempatan itu sudah datang, cepat ambil karena tidak ada kesempatan yang kedua. Kau harus punya ambisi. Jangan ikuti kakakmu itu. Ia manusia pasrah. Tak cocok untuk zaman sekarang seperti itu. Coba kau lihat. Ia hanya mengoleksi buku-buku saja. Apa buku itu membuat perut ini kenyang?”

Aku tak menjawabnya karena aku tahu bahwa kakakku sebenarnya lebih hebat dariku. Tapi, ia tak mau membeli jabatan sepertiku. Ia ingin menjalani hidup yang mengalir. Ambisinya tak ada. Paman tahu itu dan sekarang akulah yang bisa melakoni harapan-harapan paman termasuk memberikan sesikep berupa kumis harimau.

Pernah saat rapat anggaran, aku menggebrak meja. Semua yang hadir tergagap. Darahku memanas. Gigiku gemeretak. Aku mendengus. Aku berteriak lantang. Satupun tak ada yang berani menoleh. Mereka merunduk. Sepatah kata pun tak kudengar. Aku memang marah besar saat itu. Aku diisukan mem-blow up anggaran. Aku tak terima. Isu miring datang padaku. Aku tak tahu dari mana isu itu diperoleh. Aku dikatakan mengambil uang alias korupsi. Terpaksa aku kerahkan energi kumis harimau. Dan ternyata benar. Kumis itu benar-benar bertuah.

“Jangan membuat berita bohong. Meskipun berita bohong sekarang ini laris manis. Tiang bukan pejabat yang suka mengambil uang tanpa kerja keras. Apalagi mau menilep uang. Tiang ini pejabat bersih. Jangan coba-coba bermain-main dengan tiang. Jika ada lagi yang menyebar berita bohong, tiang tak segan-segan mengambil tindakan keras.

Ada bawahanku bercerita. Ia melihatku seperti harimau yang sedang mencincang seekor kelinci. Mulutku dilihat merobek-robek peserta rapat. Gigiku dilumuri darah. Ia sampai ketakutan dan menutup matanya melihat keberingasanku. Ia mau kencing waktu itu karena ngeri melihat wajahku yang keras dan memerah.

Aku benar-benar bersyukur memiliki paman yang bersedia memberiku kumis harimau. Jika tidak, pastilah wibawaku akan terusik oleh ketidakmampuanku.

Rasa percaya diriku semakin bertambah. Tak ada lagi yang berani mengusik kekuasaanku. Aku sudah berada di atas angin. Apapun yang kuperintahkan pasti akan diikuti. Tak ada kata protes apalagi menolak perintahku. Telunjukku semakin memiliki jiwa.

Bawahanku benar-benar segan padaku. Kepalanya selalu mengangguk saat bertemu denganku. Itu sebagai tanda bahwa hatinya sudah kuraih. Ia tak akan berani lagi menggoyang atau menceritakan kekuranganku. Rata-rata bilang gerak-gerikku seperti harimau kelaparan. Setiap ada kesempatan kumakan. Setiap yang berani berkata tidak, kusingkirkan. Aku benar-benar berkuasa. Jiwaku benar-benar berjiwa harimau.

Langkah-langkahku sudah seirama dengan langkah harimau, kadang pelan, tapi pasti. Kadang mendelik menelisik setiap peluang. Aku berada di atas segala-galanya. Istriku bersyukur karena punya suami yang disegani oleh bawahannya meskipun dengan bantuan kumis harimau.

“Berkat kumis harimau pemberian paman, beli sudah bisa mengatasi keadaan. Apapun yang kukatakan tak ada yang berani menentang.”

Tiang ikut berbangga punya suami seperti beli. Sudah sedari dulu, tiang berharap beli punya bawahan. Selama ini selalu di bawah orang lain. Tiang tak ingin beli tidak punya jabatan. Tanpa jabatan tak ada yang segan dengan kita. Lihat saja kakak beli. Ia pintar tanpa jabatan siapa yang segan padanya? Jabatan itu sama dengan dihormati.” Istriku pun memelukku seperti masa-masa pacaran dulu. Ia tampak ceria. Keinginannya telah terwujud.

Nafsu kebinatanganku tak terbendung lagi. Kepalaku membesar. Darahku bergeluncak seperti harimau. Taringku ingin menikmati anyirnya darah kekuasaan.

“Pergiiiiiiiiiiiii! Harimau! Pergiiiiiiiiiiiii!” Bawahanku kesurupan. Tembak harimau itu, Pak. Tolong tembak segera. Orang itu harimau.” Ia berteriak-teriak menudingku. Teman-temannya berusaha menenangkan. Aku mau mencingcang tubuhnya. Tapi, tak mungkin karena ia menyatakan kebenaran.

Teman-temannya menoleh-noleh. “Mana ada harimau? Ini kantor. Tempat kita kerja.”

“Itu yang di sampingmu. Ia manusia berhati harimau.”

Bawahanku menolehku. “Maaf Pak. Teman kita ini sedang stres berat. Ia baru saja dipermainkan oleh kekasihnya. Nanti pasti sadar.”

“Pergi harimau! Pergiiiiiiiiiiiii!”

Aku tak tahan. Kupegang tangannya. Kupelototi matanya. Ia semakin menjerit. “Harimau Harimau! Harimauuuuuuu!” Ia meronta. Teman-temannya menenangkannya. Ia bukannya berhenti bahkan semakin menjadi-jadi. Anak buahku yang lain melihatku dengan mata membelalak. Ia juga menjerit ketakutan. “Pak harimau! Harimau! Harimauuuuuuuuu!” Orang-orang di sekelilingku berbalik. Ia memegang tubuh dan tanganku. Kuhempaskan orang-orang yang memegangku. Aku menyeringai. Kucabik-cabik tubuhnya. Entah dari mana bongkahan pasir tiba-tiba menambal mataku. Aku tak bisa melihat hitam putih lagi.