Mira MM Astra sebagai salah satu sastrawan Bali yang memiliki talenta Bali. Judul kumpulan puisinya Pinara Pitu sudah menyiratkan ada nuansa simbol-simbol Hindu dan gaib di dalam kumpulan puisi ini. Kumpulan puisi yang diterbitkan oleh Gambang Buku Budaya, Mei 2016 ini seakan-akan mewakili perjalanan kreatif dari Mira. Pencarian Mira yang tidak kenal lelah patutlah dihargai. Ia mampu memantik ungkapan-ungkapan simbol Hindu menjadi sebuah karya kreatif berupa puisi. Memasukkan diksi Hindu tidaklah mudah ke dalam sebuah puisi agar terjalin harmonisasi bahasa dan harmonisasi daya ucap dan daya ungkap. Akan tetapi, Mira tidak mengalami kesulitan dalam memadukannya ke dalam larik-larik puisi hingga simbol-simbol Hindu tidak hanya berupa pelengkap justru menjadi daya tarik tersendiri dalam kumpulannya ini.

Ungkapan Simbol Hindu

Jika ditelusuri di dalam puisi-puisinya hampir sebagian puisinya memasukkan simbol-simbol Hindu. Kelebihan-kelebihan Mira ini menjadikan puisinya semakin kuat dan enak untuk dinikmati. Beberapa simbol, misalnya dalam puisi Batu Mimpi (hlm 5), pancadhatu (lima unsur logam, emas, perak, tembaga, kuningan, besi), yang biasa digunakan untuk memperkuat energi saat upacara ngenteg linggih (upacara menstanakan Tuhan),.  (airsanya  (kaja kangin, timur laut), arah yang diyakini sebagai tempat bertemunya utara dan timur), bahnimaya (api gaib) yang biasanya dilakoni oleh pegiat yoga. Simbol-simbol Hindu tidak hanya dimasukkan dalam larik-larik puisinya, Mira justru menjadikannya judul puisinya, misalnya, Pinara Pitu juga Naga Banda.

Ruang perjalanan kreatif Mira dalam Pinara Pitu ini seakan-akan menuturkan perjalanan puitik dan spiritualmya dari Minahasa hingga Bali (Denpasar dan Semarapura). Kisah-kisah kreatifnya diungkapnya dengan beragam cara. Maka hadirlah kata-kata manguni (burung hantu sebagai lambang ke-Minahasa-an). Burung hantu memiliki sifat-sifat yang dinamis, santun, sportif dan memiliki kewaspadaan. Sifat-sifat manguni ini sepertinya mewakili Mira yang dituangkan dalam larik-larik puisinya. Bali yang paling menonjol diungkapkan Mira adalah Semarapura, maka hadirlah Tukad Unda, Naga Banda, Dasar Bhuwana, termasuk Kertagosa. Bahasanya yang khas ini sebagai salah satu kekuatan dari Mira.

Puisi Naga Banda (hlm 79) menyiratkan nuansa gaib yang kental. Para kesatria terpilih akan diberikan menggunakan Naga Banda dalam menuju alam keabadian. Mira sepertinya mengalami dan bisa merasakan betapa ruh akan menuju alam kesunyian yang disertai dengan permohonan tulus agar ruh bisa menyatu dengan Tuhan. Melepaskan Naga Banda (tali pengikat hidup) tentulah dengan panah-panah suci yang dimohonkan oleh orang-orang suci. Mira memahami kesadaran tentang laut gunung. Dua kekuatan yang berada di puncak dan di alam dasar. Konsep akasa pertiwi menyatu dalam puisi ini: inilah 1.600 depa jarak kesunyian kita/ sebelum penuh mata panah mengarah/ dari timur laut ke tenggara/ terimalah tarian mudra terakhir bhagawanta sogata/ terimalah selembar kajang modre/ selimut kewaktuan yang menggurat gunung/ menyurat laut/ mengayuh cahaya di hijau kemilau sisik ke sepuluh penjuru/ di mana hanya terdengar lenguh lembu/ setipis gerimis senja/ berpupur cendana dan rajah mirah windhusara//…//

Pilihan kata yang digunakan Mira kajang modre, mudra, pupur cendana dan rajah mirah windhusara. Kajang menyuratkan aksara-aksara mistis. Ada kajang Sari dan juga kajang kawitan. Keduanya memiliki kekuatan mistis yang digunakan saat upacara pengabenan (upacara pembakaran mayat di Bali). Mira mengatakan bahwa kajang itu sebagai selimut waktu yang menggurat gunung dan menyurat laut. Salah satu aksara yang sering dipakai dalam kajang adalah aksara Rwabhinedha (Ang-Ah) yang dihidupkan dengan mudra dengan harapan ruh memeroleh sinar terang keabadian di alam niskala. Ruh bisa merasakan keharuman (pupur cendana) dalam lingkaran sinar putih dan merah (windhusara).

Ada puisi yang melukiskan perjalan hidup Mira, misalnya dalam Debu Weton (Debu Kelahiran), (hlm 85), yang ditujukan pada Harsharani Zahra Wikannanda.  Puisi ini enak direnungkan karena di dalamnya ada nilai lebih tentang sebuah kelahiran. Kelahiran diharapkan memberi makna dalam hidup dan memberi arti dalam kehidupan. Berikhtiarlah agar kelahiran itu terus memancarkan sebuah kedamaian dan memberikan keharuman dalam hidup walaupun  tantangan dan rintangan pasti akan selalu ada dalam sebuah perjuangan hidup: …/ dan jika kelak tumbuh sayap selakamu yang belia/ ikatlah gelang besi kari pada sepasang kaki kijangmu/ bersanding keris tombak, prayascitta, dyus kamaligi/ tariklah nafas airmu, tumbuhkan jadi api yang tersimpan rapi/ tertunjang kayu canging, lenga burat wangi, sesaji geti-geti/panah arah waktumu dari selatan ke utara bersama gerak saksi bintang katai//…//

Dalam kutipan di atas tergambarkan bahwa Mira  mengharapkan agar anak yang tumbuh memiliki pikiran-pikiran yang suci (prayascitta), memiliki keharuman (lenga burat wangi), dan memberi sinar terang pada diri dan pada sesama (bintang katai). Puisi Debu Weton sepertinya berdekatan dengan puisi Ketika Aku Memilih Namaku (hlm 92). Dilihat dari diksi yang dipilih Mira, misalnya bait pertama: demi membebaskanmu/ nafasku terjelma jadi pemburu/ bersayap selaka warna/mengepak di gemerlap senyap//…//

Pada puisi Debu Weton ada larik berbunyi/ tariklah nafas airmu/ sayap selakamu yang belia/ yang bisa disandingkan dengan larik/ nafasku terjelma jadi pemburu/ bersayap selaka warna// Jika dalam Debu Weton masih belia, sedangkan pada Ketika Aku Memilih Namaku sudah berwarna. Ini artinya, ada urutan waktu dan perjalanan menuju ke arah yang lebih pasti karena sudah menentukan warnanya.

Mira memiliki kekhasan dalam daya ungkap puisinya yang terkumpul dalam Pinara Pitu. Pinara Pitu menyiratkan perjalanan puitik dan spiritual Mira. Mira menggali simbol Hindu dan memaknainya kembali hingga ungkapan-ungkapan itu tidak lepas. Mira menata dan melarutkannya ke dalam larik-larik puisinya. Sebagai sebuah penggalian, hadirnya simbol Hindu memperkuat puisi yang diciptakan Mira.