Tukad Unda secara tersurat memisahkan dua kabupaten Karangasem dengan Klungkung. Jika dicermati dalam pemisahan itu ada aliran sungai yang memberikan sejuk setiap yang melewatinya. Bagi tetua, tukad Unda memilii cerita yang unik. Masyarakat yang akan menyeberang ke timur atau ke barat akan dilakukan secara bertahap, yang diistilahkannya dengan “Ngunda”. Dalam cerita itu, tersirat makna betapa terjalin hubungan yang harmonis antarwarga, saling memperhatikan, saling menjaga keselamatan, dan ada canda tawa di dalamnya. Keseimbanagn tampak dalam setiap langkah kehidupan.

Bisa dikatakan bahwa sungai terbesar di Bali ini sebagai Gangganya Bali. Di sini tersirat makna betapa sucinya tukad Unda, merasa bersyukur jika airnya yang bening tetap terpelihara. Kesuburan akan tampak jika tukad Unda berair bening, besar, dan suaranya memberikan inspirasi bagi setiap yang melewatinya. Air bening dan besar mengisyaratkan akan betapa pentingnya keseimbangan dengan pelemahan. Gunung di hulu, pepohonan di hulu terjaga kelestariannya memberikan tanda kehidupan yang subur bagi yang ada di hilir. Itu artinya, hulu dengan hilir harus tetap terjaga kelestariannya.

Ada catatan babad yang menuliskan bahwa tukad Unda berair amat deras dan besar. Ketika Dalem Waturenggong dengan Danghyang Nirarta pulang dari Silayukti-tempat Mpu Kuturan memikirkan Bali dengan konsep Tri Murti- tiba di tukad Unda dihadang banjir besar.  Tukad Unda disucikan. Dimohon agar bisa diseberangi. Dengan kekuatan dan kesucian Danghyang Nirarta diberikanlah ilmu Aswasiksa (ilmu tentang mengendarai kuda) kepada Dalem. Kekuatan pecut yang telah dimantrai bisa membuat air menjadi terbalik. Dalem, Danghyang Nirarta beserta pengikutnya bisa selamat dan kembali ke Puri.

Dari kisah di atas, tersirat air tukad Unda sudah disucikan dan berair cukup besar. Akan tetapi, sekarang air tukad Unda semakin menyusut. Ini juga mengidikasikan bahwa ada yang salah dengan pelemahan. Hutan-hutan yang di hulu tentulah sudah terganggu keseimbangannya. Sebagai masyarakat Bali, sudah sepantasnya memikirkan tentang air, khusunya tukad Unda. Jika semakin menyusut yang bermasalah tidak hanya Klungkung. Bali pun akan terkena dampaknya.

Tukad Unda terus dibenahi hingga airnya memberikan ketenangan setiap yang lewat maupun yang khusus menikmati keindahannya. Sekarang, tukad Unda menjadi objek wisata desa. Penataannya sudah tampak. Kebersihannya lebih terjaga. Beberapa sarana wisata sudah mulai terbangun. Sinar lampu tampak indah saat menyorot air yang turun dari bendungan.    Jika objek wisata ini dikelola dengan opimal pastilah akan bernilai positif bagi masyarakat sekitarnya khususnya desa Paksebali. Satria sebagai pengerajin payung pun bisa dioptimalkan sehingga pengunjung tidak hanya menikmati sejuknya tukad Unda juga bisa melihat payung-payung yang ditatah dengan tangan-tangan terampil.

Tukad Unda memberikan nuansa tersendiri dalam kehidupan. Airnya yang bening perlu tetap dijaga sepanjang musim. Keseimbangan antara hulu dan hilir selalu diusahakan hingga tukad Unda memberi hening pada jiwa-jiwa yang melintasinya. Tukad Unda teruslah berair sepanjang Bali masih menghormatimu sebagai Gangganya Bali.