Sebuah pertanyaan muncul. Siapakah sebenarnya teman sejati kita? Apakah istri yang cantik. Anak-anak yang sukses? Sahabat yang datang silih berganti ke rumah? Tentu bukan. Teman sejati dalam kehidupan kita adalah karma. Karma inilah yang senantiasa akan menguntit setiap langkah kehidupan kita. Kehidupan yang mana? Kehidupan setelah mati. Saat itulah karma-karma itu akan memunculkan wajah aslinya. Di dunia fana ini, bisa saja berpura-pura dengan karma. Laku kita yang tampak dari luar baik ternyata di dalamnya tertanam sikap-sikap yang kurang terpuji. Di dunia banyak pujian yang diperoleh dan semua itu akan membuat rasa tinggi hati (ego) semakin membara karena segala yang dikehendaki bisa terwujud. Banyak yang hormat, banyak yang manggut-manggut di hadapan kita. Ternyata itu hanya sebuah ilusi belaka. Orang bijak menyebutnya dengan maya. Unsur maya sering melenakan dan mengenakkan hingga melupakan hakikat Sang Diri Sejati (atma) yang ada dalam diri. Atma dalam tubuh terbungkus dengan beragam kesombogan, keangkuhan, keegoan, dan kemunafikan hingga tidak sempat lagi melihat hakikat Sang Diri Sejati (atma). Semakin lama atma terbungkus dalam kemelekatan semakin lama pula akan menglupaskan dirinya. Kerak-kerak hitam semakin menumpuk hingga sulit untuk keluar dari kubangan hidup.

Karma-karma dalam Hindu sebagai teman setia yang terus saja mengikuti perjalanan kehidupan kelak. Maka Sarasamuccaya mengingatkan agar selalu berupaya berkarma yang baik: Apanikang kadang warga rakwa, ring tunwan hingan ian pangatȇrakȇn, kunang ikang tumủt, sahāyanikang dadi hyang ring paran, gawenyāṡubhāṡubha juga, matanyan prihȇnna tiking gawe hayu, sahāyanta anuntunakena ri pȍna dlāha. (Karena kaum kerabat itu, hanya sampai di tempat pembakaran batasnya mereka itu mengantarkan; adapun yang turut ikut menemani ruh di akhirat adalah perbuatan yang baik, ataupun yang buruk saja; oleh karena itu hendaklah diusahakan berbuat baik, yaitu teman anda yang menjadi pengantar ke akhirat kelak)

Subha karma (karma baik) inilah yang hendaknya terus dihidupkan sepanjang atma masih setia di dalam tubuh ini. Kisah Mahabarata mengilustrasikannya dengan perjalanan Darmawangsa menuju Swargaloka. Sekora anjing (dalam bahasa Bali Asu) yang menyertainya. Adik-adiknya (Bima, Arjuna, Nakula-Sahadewa), dan istrinya (Drupadi) tidak mengikutinya justru Asu (seekor anjing). Anjing sebagai binatang yang setia dengan tuannya. Siapa tuan itu tiada lain adalah atma. Sebuah simbolis yang membuat kita merenung ternyata kemewahan dan segala atribut yang melenakan tidak ikut serta ke alam keabadian. Karma itulah yang setia.

Membangun karma-karma suci tidaklah mudah. Akan tetapi, yakinlah bahwa jika hati nurani menyatakan langkah dan perbuatan itu benar. Pastilah akan benar. Jika bertentangan tentu akan menimbulkan konflik batin dalam diri. Manusia yang berhati mulia memang akan selalu banyak godaan dan tantangan. Di situlah letaknya kemuliaan itu tanpa pernah mengalami tantangan dan godaan, tak akan bisa memenangkan sebuah pertarungan dalam kehidupan. Pertarungan itu berupa karma-karma yang memuliakan hidup.

Manusia tidak akan luput dari beragam gadaan. Godaan terkadang melupakan kelahiran sebagai manusia. Manusia perlu berupaya menjadikan dirinya lebih baik dari sebelumnya dalam berkarma. Pola sikap, tindak, dan perilaku selalu berkaca pada tuntunan jiwa yang sejati. Sederhananya perbanyaklah berbuat yang benar dalam kehidupan ini walau susah. Lebih baik memulai berbuat benar daripada tidak sama sekali.