Seberkas Puisi Cinta karya  Wimpie Pangkahila, seorang guru besar di Fakultas Kedokteran, Unud, diterbitkan oleh Buku Arti, Februari 2017, sebuah kumpulan puisi yang menyiratkan keberagaman makna cinta yang tumbuh, hidup, mekar, berbuah dalam kehidupan manusia dan kritik sosial. Suka duka cinta yang hidup mengantarkan sebuah makna dalam hidup. Cinta memberikan keberagaman keindahan dalam hidup. Perlu kemampuan untuk mewujudkannya dalam laku sikap dan tindak dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Cinta dalam pandangan Pangkahila memiliki konteks yang amat luas dan mulia. Cinta sesama, cinta Tuhan, cinta ibu pertiwi, cinta kepada yang tidak mengenal cinta, cinta pada alam semesta. Keberagaman makna cinta ini diwujudkan dalam larik-larik puisi yang yang cukup indah. Puisi pembuka dalam kumpulan ini Pada Suatu Malam di Sebuah Kamar (hlm. 1), misalnya, melukiskan betapa cintanya seorang ayah kepada anaknya karena kesibukan yang terus mendera dalam kehidupannya, maka terkadang belum sempat melihat kecerian anaknya. Si anak terburu tertidur dan sang ayah yang terikat dunia kerja. Perubahan terjadi dalam kehidupan manusia. Cinta sang ayah belum sempat bertemu dengan sang anak karena terbentur tuntutan kerja. Hal-hal ini terjadi di kota-kota besar: …/ anakku/ telah kupecahkan rindumu/ untuk bermanja dalam pangkuanku/dan merasakan kehangatan pelukanku/ karena aku diburu waktu/ luluh dalam kerja yang tak pernah selesai//…//…/ karena esok aku harus meninggalkanmu lagi/ karena tidak ada yang abadi di dunia ini/ sayang sekali//. Kutipan di atas betapa kasih sayangnya seorang ayah kepada sang anak dan sang ayah merasa bersalah. Akan tetapi, tuntutan dunia kerja tidak bisa menyampaikan cintanya pada sang anak.

Harapan-harapan kelahiran bayi dilukiskan cukup indah oleh Pangkahila. Anak adalah pelanjut dari orang tuanya. Harapan agar menjadi anak yang berbakti pada nusa dan bangsa adalah sebuah harapan bagi setiap orang tua. Pangkahila menyuratkanya  pada puisi Selamat Datang di Dunia (hlm. 4), seperti ini: …// selamat datang di dunia nyata/ kau harus bertumbuh dan harus berkarya/ bagi sesama/ bagi nusa dan bangsa//…// . Harapan-harapan mulia seorang ayah atas kelahiran sang anak. Jika harapan ini terwujud, tentu akan membahagiakan tidak hanya orang tuanya juga bangsa dan negara. Generasi yang seperti ini akan meneruskan cita-cita dan harapan orang tuanya. Pada larik di atas, / kau harus bertumbuh dan harus berkarya/  mengilustrasikan betapa tingginya harapan dari orang tuanya.

Rasa hormat dan segannya Pangkahila pada sang kakak bisa dinikmati pada puisi Di Depan Pusara (hlm.6). seorang adik yang amat menghormati sang kakak. Ada perasaan bersalah dari sang adik karena belum sempat memberikan sesuatu padanya. Takdir telah menjemputnya. Pangkahila tidak bisa berbuat banyak. Pasrah. Karena Tuhan memiliki jalan tersendiri. Manusia bisa berusaha. Akan tetapi, Tuhan yang menentukan: …// di depan pusara kakakku/ aku Cuma mampu mengadu/ Tuhanku, Tuhanku/ biarlah semua terjadi sesuai kehendakMu//.

Problematika Sosial

Pembaca jika sempat ingat dengan kisah Aisyah pastilah akan bisa merasakan betapa cinta sang anak kepada ayahnya. Dengan becak, Aisyah menghidupi sang ayah. Betapa mulianya hati Aisyah. Wimpie terketuk hatinya melihat kenyataan sosial seperti itu. Ia sendiri berpikir masih banyak Aisyah-Aisyah lain di negeri ini. Sebuah Doa untuk Aisyah (hlm. 26) menyiratkan hati Pangkahila: …/ tiba-tiba  saja aku tersedu/ melihat anak gadis itu melakukan sesuatu yang tak biasa/ ya Tuhan dia mengayuh becak di jalan raya/ membawa barang murahan untuk dijual demi hidup tak layak hari ini/ sementara di sisinya sang ayah terbaring pasrah tak berdaya//…//. Kepedulian pemerintah dan pejabat amat diharapkan oleh Wimpie Pangkahila. Kepedulian itu belum dirasakan oleh anak-anak seperti Aisyah. Semoga tidak ada Aisyah-Aisyah lagi di bumi tercinta ini.

Sebuah puisi yang terinspirasi dari lagu Padamu Negeri karya Kusbini mengilhami Wimpie pangkahila melahirkan puisi dengan judul sama Padamu Negri (hlm 30). Puisi ini cukup berani karena di dalamnya ada kritik sosial yang dilakukan Pangkahila terhadap problematika  sosial yang terjadi di Nusantara. Korupsi dan kepura-puraan telah tumbuh subur di negeri ini: …/ tetapi ketika mulai menyebut bait pertama/ dan melantunkan bait selanjutnya/ tiba-tiba saja lidahku jadi kelu/ dan wajahku terasa beku/ karena lagu itu tak lagi merdu seperti dulu// tiba-tiba saja semua kalimat jadi berbea/ Padamu Negerimereka sok suci/ Padamu Negeri mereka korupsi/ Padamu Negeri mereka mencuri/ Bagi Negeri istri anak kami// ah, sampai kapan negeri kita seperti ini/ mestinya setelah pemilu tak lagi begini/ tetapi apa mungkin kalau melihat badut-badut itu/ bergoyang tubuh dalam kampanye yang tak pasti/ sejarah masa lalu akan berulang lagi//…//. Pemilu bukannya memberikan pencerahan baru justru korupsi dan tindakan yang kurang terpuji masih saja terjadi di negeri ini. Wimpie Pangkahila amat menyayangkan hal-hal seperti itu terjadi di negeri tercinta, Indonesia.

Harapan Wimpie Pangkahila tentang pemimpin Indonesia ditemukannya pada Joko Widodo. Baginya, pemimpin itu hendaknya dekat dengan rakyatnya. Pemimpin yang seperti ini seakan-akan tidak ada sekat dengan rakyatnya. Akan tetapi, rakyatnya tetap segan. Rakyat merasakan memiliki pemimpin. Bukannya pemimpin yang hanya berada di awang-awang atau pemimpin yang jauh dari kepedulian dengan kehidupan sosial masyarakat. Wimpie menuliskannya dalam puisi Dari Kami untuk Pemimpin Sejati (hlm. 33): …/ hari ini aku telah temukan jawabannya/ kesederhanaan dan kejjuran/ kedekatan tanpa sekat dengan rakyat warga bangsa/ yang membuat dia membawa perbedaan//…//. Pemimpin yang ideal menurut Wimpie bisa menyelami kehidupan masyarakat bawah. Pemimpin yang peduli dengan kondisi sosial bangsa dan negaranya.

Puisi-puisi Wimpie Pangkahila mencatat beragam peristiwa yang terjadi di negeri ini. Kecermatan dan hatinya terenyuh setiap melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi Indonesia. Katakanlah kasus pembunuhan Angeline yang dilakukan oleh ibu tirinya. Puisi Duka untuk Angeline (hlm. 52) menyuratkannya: …// Angeline, Angeline/ aku melihat kau tak menangis lagi di pangkuan Sang Pencipta/ karena memang tak ada air mata duka di sana/ tetapi mengapa air mataku seolah tak reda juga/ dan mengapa hati ini masih juga terluka/ semoga tak ada lagi anak kita yang mengalami siksa/ di rumah sendiri oleh keluarga sendiri//.

Puisi-puisi Wimpie Pangkahila menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dihayati oleh pembaca dengan bahasa yang cair. Puisi-puisi sederhana yang memiliki nilai cukup mendalam tentang cinta dan kehidupan sosial. Metafora-metafora yang dibangun oleh Wimpie Pangkahila mudah dinikmati. Peristiwa-peristiwa sosial yang terjadi di Nusantara menginspirasi Wimpie Pangkahila dalam melahirkan sebuah puisi. Puisi-puisinya dekat dengan lingkungan sosial. Wimpie Pangkahila tidak berdiam diri melihat ketimpangan sosial yang terjadi di bumi ini. Jiwa kreatifnya tumbuh sebagai jawaban terhadap sebuah fenomena sosial yang terjadi. Catatan-catatan berupa puisi ini akan menjadi kenangan tersendiri dalam jagat penulisan puisi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi direkam dalam bahasa puisi.