Gede Artawan seorang sastrawan yang selalu gelisah melihat ketimpangan-ketimpangan yang ada di masyarakat. Sebagai Dosen sekaligus sastrawan yang berpikiran kritis kreatif, Artawan mampu mengubahnya menjadi karya sastra yang di dalamnya memuat beragam permenungan bagi pembaca. Pembaca akan dibuat tertantang untuk mengikuti terus cerpen-cerpennya yang mengalir secara lancar. Petarung Jambul kumpulan cerpen Gde Artawan yang diterbitkan oleh Arti Foundation, Denpasar, Oktober 2008. Buku yang dibiayai Widya Pataka ini merupakan pertarungan Gde Artawan melawan beberapa kenyataan sosial.

Tokoh-tokoh Sakit dan Gelisah

Saking semangatnya, Artawan menderita beberapa penyakit mulai dari mual, takut, sedih hingga luka yang diderita dalam batin Gde Artawan. Ketidakberterimaannya dengan ketimpangan inilah awal mula penyakit yang menjangkiti setiap tokoh yang dihadirkan oleh Gde Artawan. Memang cukup ironis penyakit-penyikit itu datang silih berganti yang seakan-akan tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Tokoh-tokoh sakit dan gelisah itulah yang bisa ditangkap dalam kumpulan cerpen Petaruang Jambul ini. Sebelas cerepen terpilih ini mulai dari Mual, Takut, Sedih, Luka, Sepi, Westri, Berkibarlah Terus Benderaku, Petarung “Biing Kedas Jambul”, ‘Kulkul’ Tak Berbunyi di ‘Bale Banjar’, Selendang Bidadari dan Sayap-sayap. Kesebels cerpen Gde Artawan secara tersirat melukiskan keadaan sosial masyarakat yang sedang sakit.

Pertarungan pertama yang dilakukan Gde Artawan adalah melawan penyakit mualnya. Mual karena tidak bisa terima dengan ketimpangan yang ada di masyarakat, baik itu ketimpangan moral, sosial, atau ketimpangan taraf hidup. Keberaniannya patut diacungi jempol karena Gde Artawan berani melawan yang menyebabkannya. Konspirasi baginya adalah sebuah kesepakatan yang perlu dientaskan. Perlawanan kreatif ini ditunjukkannya seperti dalam cerpen Mual (hlm 3)….”Aku tantang setiap oknum yang mengalirkan rasa mual itu ke tubuhku, oknum itu mungkin alam, mungkin manusia, atau kekuatan supra natural sekalipun. Aku tantang jika ternyata ada latar belakang atau kepentingan apa pun yang mendasari dihujamkannya rasa mual itu ke tubuhku. Jika ada konspirasi terstruktur hingga rasa mual itu dengan sukses masuk ke tubuhku, aku tantang agar konspirasi itu skalanya dimaksimalkan dan ditingkatkan agar kadar mual yang menderaku meningkat. Hasilnya tetap nihil….”

Melawan Takut

Pertarungan kedua yang dilakukan oleh Gde Artawan adalah melawan takut. Cerpen Takut (halm 12) menuturkan rasa takut. Setiap manusia, tentu pernah mengalami rasa takut.Dari takut bisa muncul keberanian. Takut yang berlebihan dialami oleh sang tokoh cerpen. …”Aku merasakan ketakutan luar biasa di dalam bemo karena wajah penumpang membiaskan aroma ketidakakraban. Sorot mata para penumpang penuh kebencian seakan yang dihadapi bukan rekan sebangsa setanah air Indonesia. Sorot mata mereka membiaskan semangat permusuhan yang dalam. Di antara kami seakan diwarnai perseteruan turun-temurun dari para leluhur….”

Kutipan di atas mengindikasikan betapa cepatnya menjalar kebencian menjalar di setiap kehidupan manusia. Di kalangan rakyat jelata, sudah timbul rasa benci dengan sesama. Terus masih wajarkah disebut sebagai manusia yang setia kawan. Gde Artawan secara tersirat mempertanyakan adanya perubahan karakter di kalangan kehidupan sosial masyarakat. Kebencian, kemarahan, dan ketidakpeulian terhadap sesama sudah merembet ke dalam hati nurani rakyat jelata. Sebenarnya Gde Artawan merasa miris melihat perubahan ini. Ia merasa takut jika dibiarkan tumbuh yang lama-kelamaan akan menjadi bom waktu saja. Di hati Gde Artawan berharap minimal ada jalan keluar agar bisa mengurangi rasa benci terhadap sesama dan tumbuh rasa saling menghargai di antara sesama.

Melihat kebocoran yang sering terjadi dalam setiap anggaran juga menggelitik kreativitas Gde Artawan. Kreativitas disalurkannya dalam cerpen Sedih (hlm 22). Artawan menggunakan pipa air sebagai alternatif untuk menyindir setiap ada kebocoran. Ini artinya, Gde Artawan tidak bisa terima dengan adanya korupsi hingga kesedihan terus mendera jiwanya. …”Keuangan negara saja bisa bocor, apalagi pipa.” Dari dialog ini dapat ditangkap seoalah-olah terbiasa ada kebocoran. Gde Artawan tidak bisa terima jika setiap kali ada kebocoran. Gde Artawan harus menumpahkannya dalam wujud tangisan. Kamar mandi dan dan pantai sebagai tempat yang tepat baginya. Ia sering menjadi tontonan gratis dan didemo oleh orang-orang yang merasa dirugikan oleh sikapnya (hlm 28). Ternyata menangis juga berdampak pada orang-orang apalagi tertawa.

Dalam setiap hajatan politik, tentu ada yang akan merasa terluka. Terluka karena kalah atau terluka karena keinginannya tidak diperolehnya. Setiap pertarungan politik semestinya siap melihat kenyataan. Gde Artawan sepertinya memprotes terhadap beberapa elit-elit politik yang gemar mempermainkan sebuah keadaan. Elit-elit politik yang tiba-tiba muncul menjadi perhatiannya. Artawan tersenyum melihat elit-elit yang baru bangun dan seakan-akan dekat dengan rakyat lebih-lebih mampu mengeluarkan kata-kata bijaksana. Seakan-akan kedamaian dekat sekali dalam hidup. Padahal, tidaklah seperti itu. Artawan melihat kemunafikan dalam elit-elit politik….”Tragedi beruntun di kota ini harus menumbuhkan kearifan kita untuk mulatsarira, introspeksi diri.” Dua elit itu tak ingin dipersalahkan karena anak buahnya membabi buta memaku batang pohon akasia itu saat memasang bendera. Tiba-tiba saja dua elit parpol itu bisa dengan fasih meluncurkan kata-kata bijaksana dan mulatsarira dengan aksentuansi yang sangat meyakinkan layaknya orator ulung walau tak pernah dapat kesempatan tampil di depan publik (cerpen Luka hlm 33).

Cerpen-cerpen Gde Artawan menyiratkan ketimpangan-ketimpangan yang ada di dalam masyarakat. Artawan tidak bisa terima dengan kenyataan-kenyataan itu. Ia ingin bertarung. Pertarunga Artawan dilakukannya dengan cara kreatif. Cerpen-cerpen dalam kumpulan Petarung Jambul seperti mewakili Gde Artawan dalam menyatakan sikapnya terhadap situasi yang ada di masyarakat saat ini. Ketidakberpihakan kepada masyarakat kecil itulah bagian yang ingin diungkapkan oleh Gde Artawan. Sikap berdiam bukanlah sikap seorang petarung. Gde Artawan akan tetap bertarung walau rintangan siap menghadangnya.