Sebuah pembelajaran diharapkan membawa perubahan. Perubahan yang dimaksud termasuk dalam ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Untuk mencapai perubahan ini tentulah tidak mudah, perlu proses berkesinambungan hingga bisa diwujudkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang bisa diamati. Wujud nyata pengamatan itu berupa evaluasi dari ketiga ranah. Keberhasil guru terlihat dalam ranah itu. Secara tidak langsung, guru sebenarnya mengevaluasi dirinya dalam pembelajaran tidak hanya mengevaluasi peserta didik.

Guru dalam konsep seperti ini dapat dikatakan sebagai agen perubahan (agent of change). Guru menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan perubahan. Untuk itu, guru mampu mencipakan suasana pembelajaran yang kondusif, kontekstual, menyenangkan dan menantang bagi partisipasi aktif dan kreatif peserta didik sehingga tercapai tujuan secara optimal, efektif dan efisien. Dalam artian, seorang guru dituntut mampu dan terampil memerankan sejumlah peran secara simultan, misalnya kapan dan bilamana berperan sebagai desimiator, manajer, dokter, organizer, fasilitator, motivator, komunikator, dan asesor bagi terciptanya proses pembelajaran yang hidup, dinamis, inovatif (Mantra, 2017). Sebagai upaya agen perubahan, guru perlu terus membelajarkan dirinya secara kreatif hingga peran-perannya bisa diwujudkan dalam proses pembelajaran.

Perubahan yang Inovatif

Guru yang mengharapkan terjadinya perubahan dalam pembelajaran hendaknya memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang inovatif. Guru tidak akan pernah berpuas diri dengan pembelajaran yang telah dilakukannya. Inovasi-inovasi dalam pembelajaran akan memberikan kemungkinan-kemungkinan terbaru dalam berpikir baik bagi peserta didik maupun bagi guru. Guru yang konvensional dalam pembelajaran tentu akan membuat pembelajaran menjadi monoton dan peserta didik akan cepat jenuh dengan langkah-langkah pembelajaran yang telah didesain guru. Guru yang inovatif bisa saja cepat mengambil sebuah keputusan pembelajaran agar peserta didik cepat memahami fakta, konsep, prosedural, dan metakognitif yang ada di setiap mata pelajaran. Guru-guru yang seperti ini selalu berupaya agar pembelajarannya terbarukan.

Langkah-langkah yang paling sederhana dilakukan oleh seorang guru, misalnya (1) pembelajaran yang dilaksanakannya memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat maupun pemikirannya; (2) Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik menilai pembelajaran yang sedang berlangsung; (3) Guru berani dikritik oleh peserta didik; dan (4) Guru bersama-sama peserta didik berdiskusi mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya. Keputusan-keputusan yang dilakukan secara bersama-sama akan lebih memberikan suasana yang kondusif hingga peserta didik tidak merasa canggung dalam proses pembelajaran. Dalam pemikiran seperti ini, guru sudah menghormati keberadaan peserta didik sebagai peserta didik yang unik (peserta didik yang memiliki keberagaman). Semakin berkualitas sebuah pembelajaran yang dilakukan guru diharapkan melahirkan anak-anak bangsa yang berkualitas pula. Kualitas ini berkaitan juga dengan sarana, input, proses pembelajaran, out put dan out come. Pembelajaran berkualitas jika mampu memotivasi peserta didiknya agar bisa sukses menjalani proses pembelajaran. Belajar bukanlah sekadar mengumpulkan ilmu pengetahuan belaka. Belajar itu suatu proses aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu yang belajar. Belajar membawa perubahan individu dalam kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Peseta didik dapat dikatakan belajar jika ada perubahan baik dalam perkembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya (Japa, 2017).

Di tangan guru-guru yang tidak pernah berhenti untuk belajar itulah akan terjadi perubahan.. Guru-guru yang seperti ini akan menjadikan hambatan sebagai sebuah tantangan yang patut dijadikan peluang untuk membelajarkan peserta didik. Peserta didik dapat merasakan adanya perubahan dalam proses pembelajarannya. Meskipun harus diakui, keberhadilan guru dalam membawa perubahan tidak serta-merta dapat dilihat, ada proses yang harus dilewati. Guru-guru yang memiliki jiwa, hati, pikiran, menuju perubahan akan bersikap terbuka. Guru-guru yang “gelisah” seperti ini disegani oleh peserta didik karena adanya komunikasi yang intens dan harmonis dengan peserta didik dalam proses penbelajaran.