Bulan: Februari 2018

Dadong Burayut Candidasa

Jika membaca geguritan Burayut akan timbul sebuah pertanyaan. Mengapa perempuan Burayut bisa mendidik dan membesarkan anak-anaknya yang delapan belas orang itu? Sedangkan nama-nama Bali saja empat (Gede, Made, Nyoman, dan Ketut). Bahkan sekarang semakin berkurang karena KB berhasil di Bali ( Nyoman dan Ketut) mulai tidak muncul lagi. Perempuan Burayut bisa menata kehidupan keluarganya tentu dengan beragam tantangan yang harus dimenangkan olehnya agar bisa menghidupi anak-anaknya. Delapan belas anak yang dilahirkan oleh perempuan Burayut. Luar biasa. Jika dilihat dari ukuran sekarang ini. Betapa ramainya keluarga Burayut.Jika dibentang di dalam sebuah lingkaran (windu) dibuat garis tegak lurus, mendatar, dan menyilang sepertinya setiap sudut rumah akan berdiri anak-anak Burayut. Kedelapan belas itu bisa meraih kesuksesan dalam meraih cita-cita. Dan mengapa pengarang memilih angka delapan belas? Apakah ini ada kaitannya dengan delapan belas huruf Bali (Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Ma, Ga, Ba, Nga, Pa, Ja, Ya, Nya). Apakah ada juga Nawa Sanga. Nawa bermakna sembilan, sanga bermakna sembilan jika dijumlahkan juga berangka delapan belas (1 + 8 = 9). Angka tertinggi. Hebatnya pengarang Bali memberikan ruang untuk berkontemplasi. Jika melihat dari ungkapan di atas, wajarlah dikatakan bahwa kisah Dadong Burayut sebagai sebuah simbol kesuburan. Kesuburan tidak hanya secara material, juga kesuburan spiritual. Dadong Burayut memberikan kemungkinan bahwa anak-anak yang didik dengan kasih sayang akan melahirkan sebuah kebahagian bagi orang tuanya. Dadong Burayut Candidasa memberikan ruang kesuburan...

Read More

Bersahabat dengan Buku

Bersahabat dengan buku perlu terus digelorakan seirama dengan pembudayaan literasi (keberaksaraan). Keberadaan buku  pada negara-negara yang sudah mapan dengan perbukuan, amat diperhatikan. Buku-buku tua diselamatkan, buku-buku baru dan modern diciptakan hingga bangsanya terus bersemangat untuk maju dan belajar. Sebuah buku merekam perjalanan pemikiran anak-anak bangsanya. Buku membuka kisah bangsa masa lampau yang bisa dijadikan jembatan ke masa depan. Buku mencatat pemikiran-pemikiran anak-anak  bangsa. Buku menyatakan dirinya sebagai bangsa terpelajar. Pengenalan buku dalam dunia pendidikan merupakan sebuah keharusan. Membiasakan peserta didik mencintai buku sebagai sebuah langkah awal menuju bangsa yang cerdas. Peserta didik aset bangsa perlu terbiasa dengan buku. Buku bukan lagi sebuah barang yang menakutkan untuk dikenali dan dibaca tentunya. Peserta didik yang cinta buku sebenarnya mencintai masa depannya dan masa depan bangsanya.Keberadaan buku terus berkembang baik jumlah maupun cetakannya. Sekarang buku tidak hanya konvensional juga digital. Hal ini patut disyukuri karena secara tidak langsung mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan. Buku sebagai bagian dari kehidupan masyarakat digital. Kegemaran untuk membacanya perlu dibiasakan. Memantik Membaca Buku Dunia pendidikan selalu berkembang dengan cukup pesat. Pendidikan konvensional bersaing dengan pendidikan digital. Dunia pendidikan yang belum memaksimal buku baik digital maupun konvensional tentu akan selalu tertinggal. Harus diakui semangat membaca perlu kerja keras untuk membangunnya, tidak hanya pemerintah lembaga-lembaga swasta dan lembaga terkait lainnya ada keterpanggilan untuk memantik semangat membaca buku. Menjadikan buku sebagai sahabat yang paling setia. Pojok-pojok buku atau taman-taman buku perlu...

Read More

Belajar dari Peserta Didik

Belajar tidak dibatasi oleh usia, waktu, dan juga tempat. Wahana belajar terbentang luas dalam kehidupan modern sekarang ini. Guru pun tentu selalu berupaya membelajarkan dirinya hingga ilmu pengetahuan yang dimilikinya selalu terbarukan. Guru tidak bisa berbangga dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya saat di bangku kuliah. Guru hendaknya tetap memiliki semangat untuk memajukan dirinya agar seirama dengan ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini. Perkembangan ipteks sebagai tantangan tersendiri bagi guru-guru yang berusia lima puluh tahun ke atas. Terkadang dengan nada guyonan dikatakan gatek (gagap teknologi), TBC (Tidak Bisa Komputer), guyonan seperti itu tentu tanpa alasan karena kenyataan menunjukkan bahwa ada guru-guru yang mengalami hal itu. Sebenarnya guyonan itu bisa dijadikan cambuk bagi guru untuk selalu belajar dan membelajarkan dirinya dengan lebih banyak bertanya pada yang lebih tahu atau lebih muda. Peserta didik pun bisa dijadikan teman untuk belajar ipteks. Ini juga sebagai sarana perekat jalinan guru dengan peserta didik. Kumonikasi kecil seperti ini secara tidak langsung bisa memotivasi peserta didik untuk selalu belajar tentang ilmu pengetahuan khususnya ipteks. Guru akan semakin bisa memahami peserta didik melalui kedekatan kumonikasinya. Hal ini tidak akan mengurangi wibawanya sebagai seorang guru justru bisa melekatkan tali kasihnya sebagai seorang pendidik yang tetap mengedepankan sendi-sendi moral-humanistis. Peserta didik yang dimintai bantuan seperti ini akan merasa dirinya memiliki nilai lebih dan penghargaan itu diberikan dari gurunya. Guru membangun dan menciptakan suasana yang bersahabat, yang membuat peserta didik...

Read More

Kawéntanan Bali ring Bali Melah Bali Benyah

Satus kutus puisi sané mapupul ring pupulan Bali Melah Bali Benyah kasurat olih  I Ketut Ariawan Kenceng kacitak olih Pelawa Sari, Dénpasar, 2016 puniki nelatarang indik kawéntenan Baliné. Manut Ariawan Kenceng Bali punika kepah kalih melah (becik) lan  benyah (nyag). Punapi sané melah (becik) punapi sané benyah punika manten daging pupulan puniki. Panampén Ariawan Kenceng sampun janten pisan ring pupulan Bali Melah Bali Benyah.  Ariawan Kenceng taler sampun ngawedarang pupulan puisi Bikul lan pupulan puisi Bubu sané nganggén wentuk Haiku. Ring pupulan puniki Ariawan nénten malih nganggén wentuk Haiku (sané kaiket wilangan lan wentuk). Pupulan Bali Melah Bali Benah sampun puisi bebas tan kaiket antuk wentuk utawi wilangan. Bali Melah (Becik) Kawéntenan Bali melah (becik)  sakadi ring puisi Karang Awak (kaca 16) sané mawit saking sasuratan lugra Ida Pedanda Made Sidemen ring kakawian singgih Pranda Salampah Laku. Ariawan Kenceng wénten nyurat sakadi puniki…/ngebatang tresna asih/ ring karang palekadan/ ring karang paukudan/ tan surud nyampatin ngedasin/ tan mari nandurin/ winih-winih kaluihan/ ajah-ajah kawruhan/ gumani wénten pikenohné/ nagingin kauripané//  Pesonténg puisi ring ajeng, ngindikang mangda setata seleg malajah. Teleb mayasa kérti, uning ring angga dados manusa mangda setata ngeresikin angga. Puisi Panglipuran (kaca 23) Ariawan Kenceng nelatarang kawéntenan palemahan ring Panglipuran Bangli. Panampén Ariawan Kenceng, Panglipuran punika genah sané asri, katata manut anggah-ungguh wewangunan Bali, kantun ngamel aab jagat sakadi Bali rihin, durung keni ius jagat kadi mangkin (globalisasi). Para panglingsir,...

Read More

Bagus Diarsa, Bebotoh Pemuja Tuhan

Dalam konsep Hindu ada empat jalan memuja Tuhan (Sanghyang Widhi Wasa), yang sering disebut dengan catur marga terdiri atas (1) bakti marga, (2) karma marga, (3) jnana marga, dan (4) raja marga. Keempat jalan ini bisa dipilih sesuai dengan kemampuan dan kemauan dari pemuja Tuhan. Ada lewat bakti persembahan, ada lewat perilaku melayani umat, ada lewat ilmu pengetahuan, dan ada lewat yoga semadi. Keempatnya memiliki ciri tersendiri yang memberikan kesempatan bagi pemuja untuk mendekati Tuhan. Inilah kebebasan untuk memilih sesuai dengan keyakinan dari pemujanya menuju Tuhan. Bagus Diarsa justru memilihnya menjadi seorang bebotoh (penjudi sabungan ayam) memuja Tuhannya. Kelihatannya memang agak aneh. Akan tetapi, setelah direnungi, ternyata dalam keseharian hidup manusia terjadi pertaruhan beragam keinginan yang selalu bergerak dan bergolak. Pertaruhan itu hendaknya bisa dimenangkan. Pengarang menggunakan ayam aduan. Ayam sebagai simbol sifat-sifat rajas bagian dari tri guna (satwan, rajas, dan tamas). Sifat-sifat rajas dan tamas ini perlu penyadaran (satwam) hingga tidak lagi merajai kehidupan manusia, pengarang mengalahkan sosok raja dalam sebuah pertaruhan. Cerita rakyat Bagus Diarsa yang dimuat dalam buku Satua-satua Bali (VIII), dicetak oleh toko buku Indra Jaya, Singaraja, 1994, ditulis oleh I Nengah Tinggen menyiratkan hal itu. Jiwa Welas Asih Sebuah langkah yang dilakukan Bagus Diarsa dengan menguji dirinya. Ujian pertama memasuki sebuah warung makan sederhana yang pertama ia temukan adalah bau kurang sedap. Mengapa justru bau? Bau langsung berkomunikasi dengan manusia lewat pernafasan masuk dan...

Read More