Bulan: Februari 2018

Sarwa Éncé Pakibeh Ngantiang Ujan

Angayu bagia pisan ring Karangasem sampun wetu pupulan cerpén sané kasurat olih para kawi sastra Bali Modérn sané wénten ring Karangasem. Janten pupulan puniki mabuat pisan anggén sarana ngalestariang kawéntenan basa Baliné. Wénten kalih dasa carita sané wénten ring pupulan mamurda Ngantiang Ujan. Pangawi-pangawi punika, minakadi, I Putu Supartika, Gedé Aries Pidrawan, I Nyoman Agus Sudipta, I Ketut Sandiyasa, I Wayan Paing, Wayan Tojan, Ni Madé Gawati, IBW Widiasa Keniten, IDK Raka Kusuma, IB Wayan Putu Adnyana. Maosin pupulan Ngantiang Ujan katerbitang olih Pustaka Ekspresi,Tabanan, Oktober 2016, sakadi sarwa éncé ( mategepan ) pikayunan, wilangan, enteg kayun, penampén sané wénten ring jagaté utamané ring jagat Bali. Pakibeh parajana, pakibeh jagat pinaka unteng ring pupulan puniki. Indiké puniki janten nganutin panampén sang kawi. Panampén-penampén puniki kasurat manut enteg kayun nganutin rasa basa lan rasa sastra sané mungguh ri jroning kayun sang kawi. Pakibeh Pandidikan I Putu Supartika ring cerpén Paplajahan ané Tusing Nyidang Kaengsapang (kaca 1) sakadi ngaturang parindikan kawéntenan parajanané sané tuna ring kaweruhan. Sakéwanten, meled pisan mangda sida mapikolih ri kauripan. Utsaha puniki patut pisan uripang. Tuna kaweruhan nénten nyurudang ngrereh kaweruhan. Saking kaweruhan jaga sida mikolihang pakaryan sané kaapti. Mangda sayan lengut satwané raris kawewehin antuk semara ngalang (berselingkuh). Sakéwanten, sané mabuat pisan, Putu Supartika ngaturang ring kawéntenan parajané sané durung sida mikolihang kaweruhan sanė kaapti. Putu Supartika nelatarang indik anak belog sakéwanten prasida mikolihang pakaryan antuk...

Read More

Mantra Refleksi Sahadewa

Sebuah antologi puisi bertajuk Penulis Mantra karya Dewa Putu Sahadewa, diterbitkan oleh HW Project, Jakarta, Agustus 2016, Antologi ini ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris bahkan berisi CD-nya. Puisi-puisi dalam antologi Penulis Mantra ini melukiskan perjalanan spiritual, kepedulian sosial, dan juga harapan-harapan hidup. Mantra refleksi Sahadewa seakan membuka kesadaran baru. Perhatikan puisi pembukanya dengan judul Memasuki Akhir Tahun (2). Judul ini menarik, biasanya yang sering dilakoni adalah memasuki tahun baru. Akan tetapi, Sahadewa justru menjadikannya memasuki akhir tahun. Akhir adalah awal dari sebuah perjalanan kehidupan manusia. Apa yang mesti dilakoni manusia? Sahadewa memberikan jalan seperti ini::…Tubuhku menjadi bayangan/ mengumpulkan sisa-sisa sinar/ untuk dibulatkan menjadi matahari kecil/ yang membakar sejarah perjalanan/…// Puisi di atas memberikan renungan betapa perjalanan hidup manusia itu akan terikat oleh bayangannya sendiri. Beragam warna bayangan hidup manusia bisa hitam pekat, bisa abu-abu, dan syukurlah jika bayangan itu putih. Yang cukup membahagiakan adalah bisa mengumpulkan sinar. Bayangan yang disinari tentulah akan lebih jelas tampaknya. Apalagi Sahadewa berharap sinar-sinar itu menjadi matahari kecil dalam hati dan jiwanya. Betapa indahnya jika matahari bisa memberi terang pada bayangan gelap. Artinya, bisa dengan mudah bisa memilih dan memilah . Sinar matahari dalam jiwa ini diharapkan bisa membakar sejarah perjalanan hidupnya. Kesejatian Mantra Dalam Hindu dikenal dengan Tatwam Asi (Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku), gambaran pemikiran itu bisa disimak dalam Puisi yang Dibangkitkan: Buat Penyair (4). Larik awal dimulai: Salah...

Read More

Sadrasa Serombotan Klungkung

Serombotan Klungkung sebagai salah satu kuliner khas Klungkung dari sekian banyak kuliner yang dimiliki Klungkung. Serombotan seakan menjadi ciri tersendiri bagi Klungkung. Jika ke Klungkung khusunya ke sengol Klungkung, belum menikmati serombotan rasanya ada yang kurang. Dengan cita rasanya yang khas, sesuai dengan nama Klungkung yang memberi keindahan pada rasa. Rasa indah inilah yang perlu dibangkitkan di Semarapura. Semara bermakna keindahan, pura bermakna tempat. Tempat menumbuhkan keindahan, itulah Klungkung dengan kotanya Semarapura. Keindahan rasa serombotan yang secara tersirat menggambarkan keragaman yang menyatu dalam sebuah tempat. Keragaman ternyata mampu membangkitkan sejuta rasa. Rasa jika dicermati ada rasa manis, rasa pahit, rasa masam, rasa sepet, rasa pedas, dan rasa asin. Sadrasa (enam rasa) ini ada dalam serombotan. Mungkin inilah yang diramu oleh para sastrawan besar yang ada di Klungkung. Lantas diwujudnyatakan dalam kuliner. Dan mengajarkan bahwa yang perlu dinikmati adalah keindahan sadrasa dan itu ada di Klungkung. Sayur-sayuran yang ada dalam serombotan mewakili sadrasa itu. Pahit bisa diwakili oleh pare, pedas, masam, asin dan manis diwakili oleh bumbunya, sepet diwakili oleh terungnya, dan beragam sayuran dengan rasa-rasa yang berbeda. Secara tidak langsung, di dalam rasa ada maharasa yang dirasakan oleh tubuh saat menikmati serombotan. Serombotan memberikan alnernatif bagi yang mengurangi protein hewani dan menggantinya dengan protein nabati. Orang-orang bijak mengatakan bahwa makanan bisa memengaruhi  rasa seseorang. Makanan tamasika memberikan kemalasan. Makanan rajas akan membangkitkan unsur-unsur gerak, makanan satwika akan membangkitkan energi...

Read More

Kematian, Karma, dan Kelahiran

Samsara sebuah kumpulan cerpen karya Putu Fajar Arcana diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005. Dalam kumpulan ini, Fajar memuat enam belas cerpen terpilihnya antara lain Requiem, Drupadi, Baru saja Kusadari tentang Kematian, Lantai Tiga Belas, Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu, Aku Cemas Menunggu Matahari, Lelaki yang Berumah di Halte, Perselingkuhan Ayah, Selokan yang Tembus ke sawah, Kado yang Terlambat Tiba, Kereta Senja, dan Aku Temukan Diriku Terkapar di Ruang. Cerpen-cerpen dalam kumpulan Samsara ini menyiratkan kematian, karma, dan kelahiran. Kematian itu sudah pasti karena setiap yang lahir pastilah akan mati. Kelahiran ditentukan oleh karma.  Lahir, hidup, dan mati itu hukum alam (rta) yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa diminta oleh setiap yang hidup. Fajar Arcana sepertinya menyadari hakikat dari sebuah kehidupan. Setiap manusia dalam konsep Hindu terdiri atas tiga angga sarira (badan kasar), suksma sarira (badan halus), dan antakarana sarira (atma, sumber hidup). Atma tidak pernah mati, badan kasar inilah yang mati, kropos, tua karena beragam sebab. Atma setelah lepas dari badan ini akan memasuki wadag baru. Selama atma belum bisa mencapai kemanunggalan, maka tetap mengalami kelahiran kembali secara berulang-ulang (reikarnasi). Permasalahannya, atma ini tentulah akan terikat dengan karma. Karma itu bisa benar, baik, suci atau sebaliknya, maka karma itulah yang akan menentukan wadag yang tepat dengan atma itu cerpen Drupadi (hlm 12): …Kalau saja waktu itu aku bisa berbicara, tak hanya bisa mendengar, pastilah akan kukatakan....

Read More

Pembelajaran yang Membawa Perubahan

Sebuah pembelajaran diharapkan membawa perubahan. Perubahan yang dimaksud termasuk dalam ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Untuk mencapai perubahan ini tentulah tidak mudah, perlu proses berkesinambungan hingga bisa diwujudkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang bisa diamati. Wujud nyata pengamatan itu berupa evaluasi dari ketiga ranah. Keberhasil guru terlihat dalam ranah itu. Secara tidak langsung, guru sebenarnya mengevaluasi dirinya dalam pembelajaran tidak hanya mengevaluasi peserta didik. Guru dalam konsep seperti ini dapat dikatakan sebagai agen perubahan (agent of change). Guru menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan perubahan. Untuk itu, guru mampu mencipakan suasana pembelajaran yang kondusif, kontekstual, menyenangkan dan menantang bagi partisipasi aktif dan kreatif peserta didik sehingga tercapai tujuan secara optimal, efektif dan efisien. Dalam artian, seorang guru dituntut mampu dan terampil memerankan sejumlah peran secara simultan, misalnya kapan dan bilamana berperan sebagai desimiator, manajer, dokter, organizer, fasilitator, motivator, komunikator, dan asesor bagi terciptanya proses pembelajaran yang hidup, dinamis, inovatif (Mantra, 2017). Sebagai upaya agen perubahan, guru perlu terus membelajarkan dirinya secara kreatif hingga peran-perannya bisa diwujudkan dalam proses pembelajaran. Perubahan yang Inovatif Guru yang mengharapkan terjadinya perubahan dalam pembelajaran hendaknya memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang inovatif. Guru tidak akan pernah berpuas diri dengan pembelajaran yang telah dilakukannya. Inovasi-inovasi dalam pembelajaran akan memberikan kemungkinan-kemungkinan terbaru dalam berpikir baik bagi peserta didik maupun bagi guru. Guru yang konvensional dalam pembelajaran tentu akan membuat pembelajaran menjadi monoton dan peserta didik...

Read More