Montase kumpulan puisi Wayan Jengki Sunarta yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi, Tabanan, Agustus 2016 ini menyiratkan perjalanan puitik Jengki dalam setiap pertemuan. Pertemuan itu bisa berupa tempat, orang, maupun sikap atau kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki oleh seseorang. Kesan-kesan ini menjelmakan karya kreatifnya berupa puisi. Menikmati puisi yang terkumpul dalam Montase sepertinya diajak dalam sebuah perjalanan. Jengki secara tidak langsung mengabadikan perjalanannya. Akan tetapi, dalam perjalanannya itu sikap kritis Jengki tersirat dalam larik-larik puisinya. Pembaca setelah disuguhi keindahan perjalanannya selanjutnya disuguhi juga sikap-sikap kiritisnya.

Perjalanan kreatif Jengki bisa ditemukan mulai dari judul-judul puisinya, katakanlah Ubud, Gerimis Menyapa, Di Tepi Losari, Di Buahbatu Bandung, termasuk juga Mengenang Kupang. Tempat-tempat yang sempat dikunjungi Jengki menumbuhkan kreativitasnya untuk menciptakan sebuah puisi. Inilah kelebihan Jengki. Kehadirannya tidak hanya diharapkan oleh tempat yang dikunjungi juga tempat itu memberikan ruang jiwa kreatifnya. Dialog batin ini tidak semua orang memilikinya. Patut bersyukurlah Jengki memiliki daya kreatif seperti ini.

Kerinduan Masa Lalu

Kerinduan Jengki pada masa-masa sebelum Ubud menjadi desa internasional tersurat dengan amat jelas dalam puisi Ubud, Gerimis Menyapa (hlm 2). Ubud sebagai desa internasional tentu tidak bisa lepas dari pengaruh turis yang hadir di Ubud. Jengki merasakan jauh hatinya dengan Ubud. Kelangenannya dengan nuansa desa yang alami ingin hadir di hati Jengki: …/”kembalikan cahaya kunang-kunang padaku!”/ teriak pemabuk itu pada lelampu kafe/ yang makin malam genit menyapa turis/…//  Untuk kembali ke masa lalu tentulah tidak mungkin karena perubahan pasti akan tetap berjalan. Akan tetapi, Jengki berharap agar nuansa desa masih bisa dirasakan walaupun benturan dan beragam kepentingan pasti akan silih berganti. Perubahan-perubahan ini tentu tidak hanya ada di Ubud. Jengki hanya memberikan ilustrasi bahwa pariwisata berdampak terhadap alam dan juga terhadap kebiasaan di dalam masyarakat.

Kepedulian Jengki pada lingkungan patut dihargai. Hatinya tersentuh saat melihat pantai Losari. Puisi Di Tepi Losari (hlm 27) menyiratkan kerinduannya agar bisa menemukan kerang di pantai Losari. Identik dengan puisi Ubud di atas ada yang hilang di pantai Losari. Ada kerinduan kembali ke masa lalu alam yang lestari lingkungan pantai yang nyaman: /tak tampak jejak kerang/ di hampar pasir/ yang hampir hangus/ terpanggang terik siang//…//

Pertemuan kreatif Jengki dengan Buahbatu Bandung mededah perasaannya hingga hati dan alam berdialog secara kreatif. Kecintaan Jengki pada batu akik , anggur merah, dan arak bisa ditemukan dalam puisi Di Buahbatu, Bandung. Puisi ini cukup tragis karena Jengki merasakan wajah Tuhan yang pucat karena malam semakin laknat:…/di Buahbatu/ akik, anggur merah, arak/ dan wajah Tuhan yang pucat/ merasuki malam laknat//…//

Beragam kehidupan tergambar mulai dari kehidupan para penyair yang berharap bisa menciptakan sebuah puisi sampai para pelacur yang beradu nasib di ibukota. Para pelacur berupaya agar bisa bertahan hidup di Jakarta:…/ bayangkan tentang birahi/ ketika para penyair/ menulis puisi cinta picisan/ sementara beribu pelacur/ berduyun memenuhi ibu kota/ demi menghibur lapar//…// Bukan berarti, Jengki  tidak bisa berdialog secara spiritual. Dialog spiritualnya ternyata  terjadi di Cikini. Kerinduan pada sang Khalik berlangsung secara intens di Cikini, Jakarta. Spiritualnya tumbuh setelah merasakan geliat ibukota (Cikini, hlm 34): …/ di Cikini/ aku tersedu merindui-Mu/ sembari mereguk sisa bir/ dari botol terakhir//

Nuansa keindahan alam menggoda hati Jengki saat bertemu dengan suatu tempat. Getar-getar alam membangunkan daya kreatifnya. Puisi Garut (hlm 50) dan Lereng Medini (hlm 51) mewakili pengakuan Jengki tentang perjalanan kreatifnya dalam sebuah tempat. Puisi Garut tersurat:…/ malam suara serangga/ lelampu kota di lembah Garut/ menjalari relung jiwa/ seperti puisi yang kau gurat// kata demi kata tercurah/ mengenangi musim resah/ tapi aku tak pernah sampai/ pada lamunanmu/ yang hijau pepucuk cemra//  Puisi Lereng Medini menyuratkan: setelah jalan berliku dan berbatu/ aku tiba di semayam kesunyianmu/ halimun memeram rahasia/ gadis-gadis desa pemetik teh//…//

Sebagai sastrawan, Jengki pun tidak bisa berdiam diri saat menyuarakan hatinya berkaitan dengan Teluk Benoa (hlm 57). Kekhawatiran, keresahan, dan ketidaksimpatinya terhadap adanya reklamasi bisa dipetik dari puisi Teluk Benoa. Reklamasi yang akan berubah menjadi apartemen, hotel, restoran, villa dan beberapa kemudahan yang melayani kesenangan. Jengki juga amat menyayangkan terjadi penipuan terhadap rakyat jelata: …/ puahhh…aku akan terus meniupkan mantra/dari jiwa-jiwa nelayan dan pelaut teraniaya/ dari jiwa-jiwa kaum yang kau tipu/dari jiwa-jiwa pasrah ibu bumi/ aku akan menghisap ubun-ubunmu/ dari semestaku//…//  Kemarahan dan keprihatinan Jengki mengenai reklamasi terwakili dalam puisi Teluk Benoa.

Penggambaran alam Kupang dapat dinikmati dalam puisi Mengenang Kupang (hlm 67). Kupang yang tandus beragam pohon lontar tumbuh subur dan para petani bisa menghasilkan nira. Laut yang masih indah tanpa polusi bisa ditemui di Kupang:../kuceritakan pada kau perihal puisi/ yang diperam pohon-ohon tuak/ yang tumbuh di tanah-tanah tandus/ ketika laut bergaun biru menoleh padaku/dengan wajah tersipu malu//…//

Jengki dalam Montase ini tidak hanya mengkritisi keadaan alam. Ia juga bisa melakukan kritik terhadap ketimpangan-ketimpangan yang ditemuinya. Hati kreatifnya terus bergelora sehingga setiap tempat memberikan nilai lebih pada Jengki. Jengki menelisik pada alam. Tidak hanya alam yang menggetarkan hatinya. Pertemuannya juga terhadap sang Khalik. Secara tersirat terjadi keseimbangan antara hati, alam, dan spiritual Jengki dalam Montase. Beragam nuansa tersimpul dalam Montase. Setiap tempat menginspirasi dan membangunkan kreatif Jengki. Karya kreatif Montase merekam jejak perjalanan kreatif dari Wayan Sunarta.