Kisah Men Brayut dan Pan Brayut sudah tidak asing lagi bagi pecinta sastra tradisional. Sebuah buku kumpulan cerita rakyat yang ditulis oleh I Buyut Dalu diterbitkan oleh CV Kayumas Agung, Denpasar, 2013 menjadikan judul bukunya Men Brayut. Ada sembilan cerita rakyat di dalamnya antara lain (1) Men Brayut, (2) Leak Maslikuan, (3) Tonya dadi Pedanda, (4) Belog Magandong, (5) Mpu Pande, (6) Nagabanda lan Nagapuspa, (7) Be Julit cara Kayu, (8) Punyan Timbul, dan (9) Dalem Tarukan.

Cerita rakyat (foklore) yang ada di masyarakat diolah kembali oleh I Buyut Dalu menjadi sebuah cerita baru dalam bahasa tulis hingga bisa dibaca, diresapi, dan dihayati nilai-nilainya. Sebuah cerita tentulah tidak terlepas dari masyarakat pendukungnya. Cerita rakyat pun menceritakan situsi masyarakat pada zamannya hingga pembaca bisa belajar dari masa lalu untuk menapaki masa depan.

Awal kisah Men Brayut diidentikkan dengan seorang perempuan (ibu) yang kurang peduli dengan keberadaan dirinya. Tidak sempat merawat dirinya. Dan ini wajar karena harus menghidupi delapan belas anaknya yang masih kecil-kecil. Keadaan ekonomi yang kurang mendukung sebagai salah satu sebabnya. Akan tetapi, Men Brayut tidak mundur. Justru dari keterbelakangan ekonomi memupuk dirinya untuk ulet bekerja dan berupaya terus mendidik kedelapanbelas anaknya.

Men Brayut sebagai simbol seorang perempuan (ibu) yang amat mencintai anak-anaknya. Ada delapan belas anak yang harus dipertanggungjawabkannya. Artinya, tidak hanya bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidupnya secara fisik juga bertangung jawab secara psikis, dan spiritual. Men Brayut menjalani ttugas sebagai seorang ibu. Ia tidak pernah lari dari tanggung jawabnya. Kasih sayangnya dialirkannya kepada kedelapan belas anaknya. Cinta, kasih sayang dan doa seorang ibu amat ampuh untuk kemuliaan anak-anaknya. Ibu-ibu yang seperti ini tentu akan menjadikan anak-anak bangsa menjadi generasi yang mampu menghadapi setiap tantangan.

Kesuksesan Men Brayut dan Pan Brayut dalam membina kerukunan rumah tangga patutlah diacungi jempol. Meski dikisah ceritanya ada pertengkaran-pertengkaran kecil tidak mengurangi jalinan kasihnya baik dengan suaminya apalagi dengan kedelapan belas anaknya. Cintanya benar-benar murni- suci demi sebuah keluarga dan anak-anak bangsanya.

Sebuah Perjuangan

Men Brayut bersama Pan Brayut terus berupaya agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang suputra (anak yang berkarakter luhur) segala perhatiannya tercurah pada kelangsungan hidup anak-naknya. Coba cermati kutipan di bawah ini:

…. Gaginan Men Brayut tuah melali ka pisaga gendang-gending. Kambenne sretset pasranting, awakne tuara taen metekep baan cerik sawireh ia setata nyangkil panak ane sedeng menyonyo. Dakin awakne magembi, bone alid, bok barak sutsut giling tuara taen mambuh. Ia tusing maan ngitungang awak sawireh sedina-dina garang panak, sepanan melas panak suba saget beling. Cendekne, idup Men Brayut tuah garang anak aplekutus liune. (Kebiasaan Men Brayut hanya  bermain-main ke rumah tetangga sambil melantunkan lagu. Kambennya robek-robek, tubuhnya tidak pernah ditutup kain karena ia selalu menimang anaknya yang sedang disusui. Kotor tubuhnya melekat, bau tubuhnya menyengat, rambutnya merah gimbal tidak pernah dikeramas. Ia tidak sempat memikirkan keberadaan tubuhnya karena sehari-hari direbut oleh anak-anaknya, belum sempat menyapih sudah hamil lagi. Singkatnya, hidup Men Brayut hanya direbut oleh anaknya yang berjumlah delapan belas).

Pelukisan seorang Perempuan (ibu) yang luar biasa menjaga, merawat, dan menumbuhkan kasih sayang kepada anaknya. Ibu tradisioanal yang masih menyusui anaknya. Hanya air susu ibu yang mengalir dalam tubuh anaknya. Air susu yang mengalir dari cinta dan kasih sayang. Hal ini bisa dicermati anak-anaknya diharapkan menjadi anak-anak yang tumbuh seirama dengan air susu ibunya. Jika dibandingkan dengan kehidupan sekarang tentulah amat jauh berbeda. Ibu-ibu modern jarang yang menyusui anaknya karena sudah digantikan oleh susu kemasan dari pabrik susu dan beberapa pertimbangan lainnya.

Men Brayut yang setia dan menyadari dirinya kurang berada tetap memberikan susunya demi kelangsungan hidup anak-anak bangsanya. Delapan belas anak, tentulah bukan tugas yang mudah untuk dijalani oleh seorang Men Brayut. Dengan ketulusan hati, Men Brayut dan Pan Brayut bisa menjalani segala tantangan hidup dengan lapang, suka-duka dalam sebuah rumah tangga dijalaninya dengan cinta. Pertengkaran kecil sebagai perajut pernikahannya yang suci. Tidak ada niat di dalam hatinya untuk lari dari jalinan pernikahan. Baginya, pernikahan itu amat suci dan dipertanggung jawabkan ke hadapan Tuhan.

Pola asuh Men Brayut dan Pan Brayut berbuah. Kedelapan belas anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang suputra. Sebuah harapan bagi seorang kepala keluarga: …. Tan kacarita saget pada kelih-kelih pianakne Pan Brayut ane muani bagus-bagus, ane luh jegeg-jegeg. Liu bajang trunane pada dot teken pianakne Pan Brayut. Gelisin satua jani pianakne ane luh suba ada nganten tur nubuhin cucu. Makejang pianak mantune pada masekaya, dadi sugih Pan Brayut jani. (Tidak diceritakan tumbuhlah anak-anak Pan Brayut yang laki-laki bagus-bagus, yang perempuan canti-cantik. Banyak pemuda yang jatuh hati pada anak Pan Brayut. Singkat cerita, sekarang anak-anak Pan Brayut yang perempuan sudah menikah dan Pan Brayut memiliki cucu. Semua anaknya (kedelapan belas) sudah bekerja menjadi kayalah Pan Brayut.

Mengapa delapan belas anak Men Brayut? Jumlah angka ini memang menarik. Delapan belas bisa dimaknai sebagai huruf-huruf Bali (Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Ma, Ga, Ba, Nga, Pa, Ja, Ya, Nya). Huruf-huruf ini dihidupkan oleh Men Brayut. Men Brayut sebagai perempuan (ibu) yang memberi kesuburan. Kesuburan hati yang bersastra  bagi jiwa-jiwa manusia Bali menghadapi tantangan zaman). Men Brayut diyakini bukan perempuan biasa karena mampu menjadikan anak kandungnya luar biasa. Adakah perempuan seperti ini pada zaman mileneal sekarang ini? Tentu sebuah harapan yang semoga saja ada. Perempuan yang mampu memberikan kasih dan menghidupkan kesuburan ide bagi anak-anak bangsa.

Pelukisan anak-anak Pan Brayut-Men Brayut yang bagus dan cantik-cantik itu tentu tidak hanya gambaran secara fisik belaka. Anak-anaknya berhati mulia dan hormat kepada orang tuanya (Pan Brayut-Men Brayut). Anak-anak yang berkarakter ini yang diwariskan oleh Pan Brayut dan Men Brayut. Anak-anak yang berbudi luhur.

Wujud nyata keberhasilan keluarga Pan Brayut-Men Brayut diwujudkan dalam laku yang amat mulia. Setelah mejalani masa grehasta (masa berumah tangga), Pan Brayut-Men Brayut melanjutkan jalan hidupnya menjadi orang suci. Pan Brayut dan Men Brayut menjadi seorang dukuh (salah satu gelar suci) setelah madwijati (lahir kedua kali, lahir dari ilmu pengetahuan suci): …. Masaut Pan Brayut, “Beh buka suarga rasan keneh bapane ngenot nmantu makejang. Nah jani bapa lakar nutug dadi Jero Dukuh, lakar luas nukuhin.” (Berkata Pan Brayut,”Duh bagai surga hati ayah melihat mantu semua. Nah sekarang ayah akan melanjutkan menjadi Jero Dukuh, akan pergi menjadi dukuh). Agama Hindu menyatakan ada empat asrama ‘tahapan’ kehidupan, brahmacari Asrama,, grehasta asrama, wanaprasta asrama, dan biksuka asrama (Ṥrī Ṥwāmi Ṥiwananda, 2003), empat masa perjalanan hidup dijalani dengan baik oleh Pan Brayut-Men Brayut. Perjuangan hidup yang memberikan keindahan dalam perjalanan seorang anak manusia yang patut diteladani dalam kehidupan.

Perjuangan hidup sebuah keluarga yang harmonis digambarkan oleh tokoh Pan Brayut-Men Brayut. Keluarga yang menjaga keseimbangan dalam hidupnya. Kesederhanaan hidup yang dijalani tokoh mampu melahirkan anak-anak yang suputra’anak yang berkarakter mulia’. Kisah Pan Brayut dan Men Brayut membelajarkan cinta kasih dalam keluarga yang mampu melahirkan anak-anak bangsa ke depan yang berkarakter mulia dan luhur