Tirtagangga sebagai salah satu sumber mata air Karangasem. Tirtagangga tidak sakadar taman yang didirikan oleh salah satu raja Karangasem, yang sekarang ini dijadikan objek wisata. Ada beberapa kolam di tirtagangga. Jika dirunutkan menjadi tiga pilahan. Kolam utama paling atas, yang airnya langsung dari sumber mata air. Kolam kedua yang di dalamnya berisi tower air yang ditata dengan amat indah. Kolam ketiga paling bawah. Penata taman (undagi taman), sepertinya memberikan inspirasi ada tiga tingkatan agar bisa menuju ke sumber mata air suci. Jika sempat memperhatikan mata air di tempat paling suci akan tampak munculnya dari beberapa sisi. Bisa jadi dengan warna yang berbeda juga karena muncul dari berbagai arah.

Karangasem yang dikenal tandus ternyata di dalamnya ada beberapa mata air besar yang menyuburkan Bali, Karangasem khususnya. Sesuai dengan namanya Tirtagangga. Tirta bermakna air suci, gangga bisa dimaknai sungai dari surga. Yang secara kasat mata berupa sungai besar di India. Gangga setiap hari dipuja di Bali oleh para sulinggih. Ngastawa Dewi Gangga yang memberikan kesejukan, kesehatan, kedamaian, dan ketentraman insan manusia. Bersyukurlah Bali memili pemuja Gangga. Sungai suci di surga. Ini juga berarti surga selalu hadir di Bali setiap hari. Apa ini yang menyebabkan Bali dijuluki Pulau Surga? Sebuah sebutan mulia sekaligus menjadi tanggung jawab para pencari hidup di tanah Bali. Dan tentu tidak akan mengotori Bali dengan beragam sikap, perilaku, dan tindakan yang mengganggu  Bali.

Gangga-ganga yang ada di Bali perlu dijaga kelestariannya. Gangga-gangga di Bali tidak hanya dinikmati airnya tanpa pernah peduli akan keberlangsungannya. Betapa tidak bermaknanya hidup jika sampai mengotori gangga. Semoga sekali waktu pernah berpikir bahwa gangga itulah yang mengalir dalam tubuh setiap hari. Tanpa gangga dalam tubuh mengalir dengan indah, tak mungkin bisa merasakan indahnya gangga di alam semesta. Rasa syukur itu yang paling mendesar menjaga kelestarian lingkungan alamnya. Bukan diganggu hingga gangga-gangga mengecil, surut yang lambat laun hanya tinggal cerita bagi anak-anak Bali ke depan. Anak-anak Bali ke depan tentu tidak ingin berkata kurang elok pada generasi sebelumnya.

Tirta Gangga memberikan spirit bagi kehidupan Karangasem khususnya. Upacara melasti, menjadi jalan mengamet sarining amertha ring segara danu, ranu. Gangga-gangga di Bali, bhuwana agung pastilah saling terkait, sebuah satu kesatuan, sebuah ekosistem antargangga. Ini juga berarti menjaga satu gangga berarti juga menjaga gangga-gangga yang lain. Itu juga sebaliknya, merusak satu gangga juga merusak gangga yang lain.

Ulu gangga tentu akan ada gangga yang mahaluas, mahabening, mahasuci. Gangga itulah sebagai tempat mengalirnya, tempat menyelami hakikat dari kehidupan. Siapa gangga itu? Tentu sang Pemberi hidup. Gangga yang tidak terbatas yang selalu memberi kedamaian bagi pencari jalan kedamaian sejati. Gangga yang dicari oleh para penekun spiritual. Gangga ini hanya bisa terjadi jika ada panunggaling gangga diri dengan mahagangga. Sebuah pencarian yang dilatari dengan ketulusan dan kepasrahan pada sang Mahagangga.