Sebuah antologi puisi bertajuk Penulis Mantra karya Dewa Putu Sahadewa, diterbitkan oleh HW Project, Jakarta, Agustus 2016, Antologi ini ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris bahkan berisi CD-nya. Puisi-puisi dalam antologi Penulis Mantra ini melukiskan perjalanan spiritual, kepedulian sosial, dan juga harapan-harapan hidup. Mantra refleksi Sahadewa seakan membuka kesadaran baru.

Perhatikan puisi pembukanya dengan judul Memasuki Akhir Tahun (2). Judul ini menarik, biasanya yang sering dilakoni adalah memasuki tahun baru. Akan tetapi, Sahadewa justru menjadikannya memasuki akhir tahun. Akhir adalah awal dari sebuah perjalanan kehidupan manusia. Apa yang mesti dilakoni manusia? Sahadewa memberikan jalan seperti ini::…Tubuhku menjadi bayangan/ mengumpulkan sisa-sisa sinar/ untuk dibulatkan menjadi matahari kecil/ yang membakar sejarah perjalanan/…//

Puisi di atas memberikan renungan betapa perjalanan hidup manusia itu akan terikat oleh bayangannya sendiri. Beragam warna bayangan hidup manusia bisa hitam pekat, bisa abu-abu, dan syukurlah jika bayangan itu putih. Yang cukup membahagiakan adalah bisa mengumpulkan sinar. Bayangan yang disinari tentulah akan lebih jelas tampaknya. Apalagi Sahadewa berharap sinar-sinar itu menjadi matahari kecil dalam hati dan jiwanya. Betapa indahnya jika matahari bisa memberi terang pada bayangan gelap. Artinya, bisa dengan mudah bisa memilih dan memilah . Sinar matahari dalam jiwa ini diharapkan bisa membakar sejarah perjalanan hidupnya.

Kesejatian Mantra

Dalam Hindu dikenal dengan Tatwam Asi (Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku), gambaran pemikiran itu bisa disimak dalam Puisi yang Dibangkitkan: Buat Penyair (4). Larik awal dimulai: Salah satu dari kamu adalah aku/ yang menimang kata/ dari sumur tua, kering dan mati/ karena puisi dibangkitkan dari dasar hati/…// Puisi ini memaknai betapa bersyukurnya seseorang yang bisa menjadi penyair karena bisa merasakan hati sesama. Kelebihan penyair bisa memberdayakan kata. Dengan kata memberikan renungan bagi manusia. Kata-kata bertuah (mantra) itu sebenarnya bermula dari dasar hati. Kata-kata yang memberikan kesadaran bagi hidup dan kehidupan manusia. Itulah kesejatian mantra.  Mantra yang lahir dari hati suci manusia akan memuliakan hingga menembus batas-batas kesejatian alam semesta.

Kesejukan jiwa akan menggambarkan hidup yang damai. Apa yang mesti dilakoni agar bisa terwujud salah satu yang perlu dilakoni adalah: …”Biarkan aku belajar/ untuk sekadar mengerti arti hujan”// Kutipan puisi Sejarah Hujan (6) ini menandakan kerendahhatian dari Sahadewa. Ia berharap agar bisa belajar tentang hujan. Mengapa harus hujan dipelajari? Mengapa tidak panas terik? Hujan bisa dimaknai dengan kesejukan. Sahadewa merasakan kesejukan sudah semakin menjauh, makanya ia berharap agar bisa mengerti arti hujan. Mengerti tentang kesejukan, mantra yang memberikan kesejukan perlu ditebar dalam setiap perjalanan hidup manusia.

Puisi Dialektika Batu Buli (8) menggambarkan betapa hidup itu amat berharga meski beragam tantangan terlewati. Perjuangan perlu terus dihidupkan dari dalam hati. Makanya Sahadewa menuliskan lariknya: …/ menyusun kembali setiap rencana/ atau berbaring di meja operasi/ tafakur pada pisau bedah//  Dua gambaran dialektika yang disampaikan Sahadewa. Manusia itu inginnya yang mana (dua pilihan). Bergerak, bekerja dengan keteduhan budi atau berdiam diri saja. Bekerja berarti ada kehidupan, berdiam berarti awal dari kematian. Dua buah dialektika (rwabhinedha), selalu berada dalam diri manusia. Manusialah yang menentukan pilihan yang akan dilakukan dalam menjalani hidupnya.

Kerendahhatian Sahadewa juga tampak dalam puisi Di Ketinggian Ende (14)…/ Di antara gunung-gunung/ sosok kita hanya bayangan liat/ bergerak dari keliaran menuju lelap/…//  Jika pernah mendaki sebuah gunung pasti akan bisa merasakan hal ini. Betapa kecilnya kita saat melihat mahaluasnya jagat raya ini. Kita hanya sebuah bayangan liat saja menurut Sahadewa. Kita amat kecil dari besar dan mahaluasnya jagat raya ini. Tingkah polah kita di dunia ini pastilah akan berakhir dengan tidur yang panjang yang menurut Sahadewa menuju lelap. Puisi ini sepertinya berharap agar tidak cepat merasa besar. Padahal, kita hanya bagian terkecil dari yang mahabesar.

Dengan ketulusan hati, akan bisa merasakan berharganya hidup. Amat disayangkan jika sampai melakukan perbuatan yang menyia-nyiakan hidup. Puisi Anak-anak Kita dalam Kardus (16), benar-benar menghenyakkan hati kemanusian. Hidup dipermainkan. Sebagai seorang dokter, Sahadewa merasa miris melihat kalakuan manusia yang tega membuang bayinya. Cinta dipermainkan hanya untuk menuruti nafsu belaka. Cinta kasih sudah hilang di hati manusia: …/ Apakah tangismu mengalir ke dalam semak/ melengkapi derita kelahiran/ senyawa kegembiraan yang diplester/ dan nafasmu dicabut/ tubuhmu telah dikhianati/ nafsu yang chaos/ kau kehilangan teman/ kami telah kehilangan hati// anak anak kita dalam kardus/ tak bisa menanyikan bintang kecil/ sementara di langit, bintang menangis//

Puisi yang dijadikan judul antologi ini Penulis Mantra (18) menarik direnungi. Perhatikan bait pertama: orang-orang telah dipilih/ untuk menulis/ kata yang mengurai embun/ menjadi cahaya/ kecil dan ligat/ menumbuhkan bunga hanya dari/ semburat cinta/…//  Bersyukurlah Sahadewa bisa dipilih untuk menulis mantra karena bisa memberikan kesejukan (embun). Dengan harapan, mantranya ini bisa memberikan cahaya atau penerang walau kecil, tetapi penuh renungan dan makna yang bisa memekarkan harumnya cinta. Dengan mantra yang lahir dari ketulusan akan memuliakan kemanusiaan. Mantra-mantra seperti ini (mantra-mantra yang membekarkan nurani, mantra yang menyejukkan hati, mantra yang memberi pencerah jiwa) amat diharapkan karena alam sudah dipenuhi dengan kepanasan hati.

Sahadewa tidak melepaskan profesinya sebagai dokter saat menuliskan mantra. Kata-kata yang muncul seperti meja operasi, pisau bedah, insomnia, senyawa, nyeri kronik, otak memori, bernanah, belikat, skizofrenia, vena, gula darah, tablet, dan degup jantung. Kata-kata itu dijadikannya metafora hingga dunia medis pun bisa mewarnai puisinya.

Sahadewa menghadirkan mantra refleksi. Mantra hendaknya memberikan  kesejukan, keterangan jiwa, dan juga kelembutan hati hingga budi menjadi mekar. Hidup dan kehidupan adalah sebuah dialektika yang selalu bergerak.  Mantra-mantra yang memekarkan nurani mesti terus dihidupkan. Keteduhan jiwa mengurangi kepanasan hati yang terkadang pelan-pelan membakar titik kesadaran manusia. Untuk itulah, perlunya seorang penulis mantra yang memberi ruang refleksi.