Les itu perlu atau tidak? Itulah sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang guru kepada penulis. Guru yang bertanya seperti ini pastilah sudah sering membaca di media belajar internet. Di negara-negara yang sudah mapan sistem pendidikannya, les hampir tidak ada. Semua kegiatan pembelajarannya diselesaikan di sekolah. Peserta didik tidak lagi membawa beban tugas ke rumah. Hal ini bisa terwujud jika jumlah peserta didik tidak terlalu gemuk,  maksimal 25 peserta didik di kelas. Jika lebih dari itu, perhatian guru tidak optimal.

Guru yang mengadakan les terhadap peserta didiknya sendiri  sering “dicurigai” memberikan kemudahan-kemudahan dalam penilaian. Misalkan, tes-tes yang diberikan saat les diberikan lagi pada ulangan di kelas sehingga kelihatan anak-anak yang ikut les ada peningkatan dalam hasil tes yang dilaksanakannya. Hal ini semestinya bisa disikapi dengan bijak oleh guru yang melakukan les seperti itu. Guru-guru yang mengadakan les sebaiknya mengganti soal-soalnya dan menyesuaikannya dengan pembelajaran yang sudah dilaksanakannya sehingga objektivitas dalam pembelajaran akan terjadi.

Les yang dilaksanakan oleh guru tidak jarang juga karena permintaan orang tua peserta didik. Setiap orang tua berharap agar anak kandungnya berhasil dalam belajar. Orang tua berharap besar pada anaknya agar sukses dalam kehidupannya. Ada ketakutan jika anak kandungnya tidak bisa meraih yang dicita-citakan. Memang agak susah menyeimbangkan antara harapan dengan kenyataan. Anak diharapkan menguasai setiap mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Jika anaknya kurang dalam satu nilai, orang tua bahkan berani memanggil atau privat agar anaknya cepat pintar. Cara yang paling mudah dengan memanggil guru yang mengajarkannya di sekolah. Hal seperti ini bukanlah hal baru terjadi di kalangan dunia pendidikan. Secara tidak langsung sebenarnya orang tua mengurangi waktunya bersama anaknya.

Les bagi Peserta Didik dan Guru

Jika peserta didik memahami dengan baik pembelajaran di kelasnya, sebenarnya les tidaklah terlalu penting karena hampir semua materi sudah diberikan oleh guru. Bahkan jika memungkinkan, peserta didik yang kreatif bisa menambah dan menggalinya lewat internet. Hal ini akan membangun sikap-sikap mandiri dari peserta didik. Memang harus diakui tidak semua peserta didik menyadari hakikat dirinya sebagai peserta didik yang mesti belajar. Peserta didik yang kurang memahami pembelajaran di kelas, les baginya sebagai jawabannya. Keterlambatan dalam memahami materi bisa diperdalam lagi di dalam les.

Guru-guru yang menyadari hakikat dirinya sebagai pembelajar melaksanakan les sebenarnya juga memperdalam pengetahuan yang belum sepenuhnya bisa dipahami secara optimal oleh peserta didik. Guru-guru yang seperti ini akan memandang bahwa siapapun yang les padanya adalah peserta didik yang perlu mendapatkan pendalaman pengetahuan. Guru berkepentingan juga dengan adanya les bukan karena mendapatkan honor dari les. Guru saat memberikan les tidak hanya memperdalam pengetahuan juga penananam sikap dan karakter pada peserta didik. Pada saat memberikan pendalaman pengetahuan, seorang guru bisa menyampaikan nilai-nilai moral yang bisa menumbuhkan karakter-karakter mulia pada peserta didik. Misalnya, pentingnya menghargai waktu belajar, menghormati orang tua yang susah payah mengharapkan agar anaknya bisa sukses dalam belajar. Kesempatan yang baik ini bisa dijadikan jembatan bagi guru yang mengadakan les agar anak-anak bangsa lebih menyadari dirinya akan pentingnya masa depan.

Di samping itu, les bisa membangun komunikasi yang harmonis antara orang tua dan gurunya. Orang tua peserta didik akan mendapatkan informasi mengenai keberadaan anaknya di sekolah. Kelebihan maupun kelemahan-kelemahan yang dimiliki peserta didik bisa diatasi secara bersama-sama. Intensitas kedekatan batin ini meningkatkan jalinan komunikasi dengan orang tua peserta didik. Les akan dipandang kurang elok jika guru yang memberikan les berlaku tidak objektif dalam proses pembelajaran khususnya dalam memberikan nilai.