Kumpulan Kaung Bedolot tidak hanya kumpulan cerpen pemenang Sawtaka Nayyotama juga pemenang puisi. Dua bentuk sastra cerpen dan puisi menjadi satu dalam satu kumpulan. Sastra Welang memberikan sumbangan yang cukup berharga bagi dunia sastra sehingga semakin banyak karya sastra bisa diterbitkan dan dibaca. Kaung Bedolot kumpulan karya pemenang Sawtaka Nayyotama 2013 yang diterbitkan oleh Sastra Welang Pustaka, Denpasar, 2013 ini mengungkapkan kepedihan seorang perempuan. Beragam problematika hidup yang dialami seorang perempuan. Perempuan-perempuan sepertinya berada di bawah kuasa lak-laki sehingga seolah-olah perempuan tidak berdaya menghadapi kuasanya seorang laki-laki.

Dengan seleksi yang cukup ketat, amat tepat Kaung Bedolot sebagai pemenang pertama. Cerpen ini termasuk cerpen yang kuat. Kuat dalam arti pelukisan derita batin dengan latar sosial ekonomi yang berbanding terbalik. Tokoh Jro Rancag sebagai orang berada, sedangkan Pan Sasih sebagai orang yang kurang beruntung. Dari pemilihan nama Pan, ini berarti berlatar sosial Bali zaman dulu jika dibandingkan dengan situasi kekinian. Dua kehidupan yang kontradiktif lebih memungkinkan dalam melukiskan sebuah kuasa di dalamnya.

Kaung Bedolot melukiskan betapa ketidakberdayaan seorang perempuan yang berada di bawah kuasa laki-laki. Kuasa ini bisa dari orang tuanya yang seolah-olah memiliki hak penuh terhadap seorang perempuan. Perempuan belum berrani menentukan pilihannya sendiri dan berada dalam bayang-bayang yang memiliki kuasa. Kuasa ini tentulah masih ada dalam kenyataan sehingga perempuan berada dalam bayang-bayang dari kuasa seseorang. Kuasa yang dilukiskan Aries datang dari orang tuanya maupun dari orang lain dalam hal ini diwakili oleh Jro Rancag:…”Penguasaan terhadap diri perempuan adalah wujud kewibawaannya. Perempuan baginya adalah emas,, adalah berlian, adalah perhiasan yang tak ternilai harganya. Kewibawaan laki-laki terletak pada kekuasaannya kepada perempuan,” kata Jro Rancag kepada Pan Sasih pada suatu siang (hlm 4).

Gambaran perempuan di mata laki-laki tampaknya bisa dikendalikan oleh kekuasaan dan yang memiliki kuasa sekan-akan berhak menentukan jalan hidup bagi seorang perempuan. Cerpen Aries ini melukiskan dua kehidupan, orang kaya dan orang kurang beruntung dalam kehidupan. Gambaran seperti ini sudah sering terjadi dalam cerpen dua hal yang kontradiktif dalam kehidupan. Di samping itu, melukiskan kehidupan sosial ekonomi yang belum merata sehingga yang kurang beruntung selalu berada di pihak yang dikalahkan. Ketidakberdayaan menghadapi kuasa orang kaya, orang besar, dan orang yang memiliki kekuatan itulah yang ingin disampaikan Aries. Ending cerpennya cukup menarik sehingga membuat bertanya-tanya bagi pembaca:…”Sayang sekali, anakku tidak cukup bisa menahan tekanan batin, akibat perlakuan ayahya.” Ini juga menyiratkan bahwa tekanan batin bisa terjadi dalam sebuah rumah tangga. Seorang anak yang tidak bisa terima dengan kelakuan ayahnya. Ini bagian dari korban terhdap kesewenang-wenangan terhadap perempuan.

Cerpen Ken Dedes karya Harsuteja beda lagi meski tidak jauh berbeda dengan Aries. Yang dilukiskan Harsuteja adalah kuasa politik dalam sebuah pemerintahan. Cerpen ini mengambil setting dalam sebuah kedung dengan flashback ke dalam kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Pengambilan nama Ken Dedes sebagai seorang perempuan yang tidak mampu melawan sebuah kekuasaan. Ken dedes sebagai simbolik bahwa perempuan belum cukup berani dalam melawan sebuah kekuasaan sehingga selalu berada dalam bayang-bayang kuasa laki-laki (hlm 21): ….”Aku sadar permainan politik ada di mana-mana, setua lembaga negara. Kedatanganku kemari juga untuk merenung, apa sebenarnya hidup ini, apa sumbanganku kepadanya? Kepada Singosari. Aku tak tahu sampai seberapa lama masa perenungan ini, sudah hampir lima tahun. Bagaimana pun aku akan kembali ke Singosari. Kangmas sendiri bagaimana?”

Tokoh Ken Dedes yang diceritakan kembali ke Singosari dapat dimaknai bahwa perempuan dengan nama Ken Dedes belum bisa lepaskan diri dari kuasa laki-laki. Ada semacam keragu-raguan bagi seorang permpuan agar bisa mandiri. Artinya, bayang-bayang kuasa laki-laki belum bisa diputuskan dalam kehidupan seorang perempuan.

Kuasa laki-laki terhadap perempuan juga bisa dibaca dalam cerpen Anak Perempuannya Bernama Intan karya  Harsutejo (hlm 83). Perempuan korban politik dilukiskan amat menderita oleh Harsutejo. Laki-laki yang memiliki kuasa seakan-akan menikmati derita yang dialami seorang perempuan. Kisah penjarah dengan yang dijarah digambarkan cukup menarik. Penjarah dikatakan memiliki payung hukum yang seakan-akan sebagai alat untuk pembenar dari sebuah tindakan. Padahal, tindakan yang dilakukannya tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Penjarah dikatakatan memahami HAM (Hak Azasi Manusia), padahal penjarah adalah melakukan tindakan yang tidak mencerminkan sikap kemanusiaan. Ada pembenar yang diungkapkan, padahal itu bukan sebuah kebenaran:…”Ini bukan untuk mempertahankan kekuasaan, tapi bagian dari menikmati kekuasaan, seperti halnya menikmati uang jarahan, wanita cantik jarahan dan segala jarahan yang lain. Sedang kekuasaan si penjarah telah dilindungi dengan senjata, perangkat hukum, penjara, cengkeraman terhadap kekayaan negeri, dan segala macam rekayasa yang jungkir balik telah dihalalkan, pendeknya seperangkat tata-reka (hlm 87).

Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam Kaung Bedolot secara jelas mengungkapkan betapa kuasa laki-laki masih membayangi perempuan sehingga ruang gerak dari seorang perempuan tidak maksimal. Beragam cara digunakan dalam melanggengkan kuasa itu. Ada kuasa dijalankan karena uang, ada yang dilakukan dengan dalih kemanusian. Padahal, semua kuasa itu hanya sebagai tameng saja untuk mempertahankan kekuasaannya. Tampaknya penulis cerpen mengharapkan keberanian dari perempuan untuk melakukan perlawanan terhadap kuasa laki-laki sehingga harga diri, martabatnya sebagai perempuan bisa dihormati dan mendapatkan nilai bagi kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang perlu dijabarkan dalam setiap langkah kehidupan. Dengan menghormati perempuan, berarti menghormati kehidupan itu sendiri karena hidup berawal dari seorang perempuan.