Tepat 28 Oktober 2016, Sumpah Pemuda berusia 88 tahun. Para penyair se- Indonesia merayakannya dengan meluncurkan sebuah kumpulan puisi bertajuk Klungkung Tanah Tua, Tanah Cinta. Museum Nyoman Gunarsa, desa Banda, Banjarangkan, Klungkung sebagai saksi bersejarah dalam perayaan Sumpah Pemuda. Bupati Klungkung Bapak Nyoman Suwirta membuka perayaaan itu. Para penyair dari seluruh Nusantara menyuratkan Sumpah Pemuda ke dalam larik-larik puisinya. Klungkung mencatatkan dirinya dalam kancah perjalanan sastra di Nusantara. Sebelumnya di Klungkung juga pernah terbit kumpulan puisi berbahasa Bali Pupute Tann Sida Puput. Akan tetapi, Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta menyuarakan Klungkung dari seluruh Nusantara. Ada kebahagiaan tersendiri karena dalam perjalanan Klungkung bisa memberi warna baru dalam kancah sastra Nusantara.

Beragam ide, gagasan, sikap, pandangan ada dalam Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta. Kumpulan ini diambil dari salah satu judul puisi Wayan Mustika, seorang dokter yang lahir di Kuta. Keberagaman latar belakang pendidikan, budaya, profesi ikut serta dalam kumpulan ini. Ini juga sebagai indikator penyatuan anak-anak bangsa dalam wadah sastra. Sastra memiliki energi untuk menyatukan anak-anak bangsa. Bupati Klungkung setelah membaca kumpulan ini menyatakan bahwa isi dari puisi ini dapat digolongkan menjadi dua, berlatar Nusa Penida dengan pesona alamnya dan Klungkung daratan dengan keberagaman hidup.

Jika dicermati lebih saksama akan tampak kekaguman terhadap kebesaran Klungkung, keberanian mempertaruhkan jiwa raga demi tanah air, cinta dalam arti luas, pola hidup masyarakat Klungkung tergambar dalam kumpulan Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta.        Puisi pembuka berjudul Pemedal Agung Klungkung karya Agung Bawantara misalnya, bisa sebagai salah satu indikator ketuaan Klungkung. Pemedal Agung sebagai bukti sejarah akan kebesaran kerajaan Klungkung. Pemedal Agung Klungkung bisa dimaknai sebagai pembuka untuk menelisik Klungkung dengan beragam kisahnya. Bersykurlah masih ada Pemedal Agung yang bisa diwarisi oleh masyarakat Klungkung, Bali, dan Indonesia karena keberadaan Pemedal Agung ini memberikan spirit perjuangan bagi masyarakat Klungkung.

Kisah heroik para perempuan Klungkung saat puputan Klungkung dicatatkan oleh Alit S. Rini dalam puisinya Perempuan di Puputan Klungkung (hlm 3). Perempuan-perempuan Klungkung menunjukkan bahwa harga diri lebih utama dari sekadar nyawa:…// Pintu pintu tradisi terbuka kala itu/ Perempuan mencari medan laga/ Guguran lava membuncah/ Dari dendam membara//…// Keberanian perempuan Klungkung terwujud nyata dengan jiwa kesatria Ida I Dewa Agung Istri Kanya yang bisa membunuh seorang Jenderal Michels.

Puisi di atas dicatatkan juga oleh Bhe She dari Salatiga dengan puisinya Klungkung April 1908 (hlm 21): ibu/ hari sudah terang/ bintang masih berjatuhan/ kita lupa menangkapnya// ingatan kita menguat/ di antara jiwa mendidih/ terbakar dharma kesatria// Jiwa-jiwa kesatria tumbuh dan mekar di Klungkung demi membela tanah air dengan puputannya. Puisi I Seliksik (hlm 67) karya Joko Sucipto dari Bangkalan seirama dengan puisi di atas tentang senjata dan perang puputan.

Perempuan Klungkung jiwa dikenal dengan keindahannya. Beberapa karya sastra tercipta di Klungkung, maka Adenar Dirham menuliskannya dalam puisinya Gejolak Jiwa Gadis-gadis Klungkung. Gejolak Jiwa Gadis Klungkung (hlm 10) menurut Adenar ternyata tidak bisa lepas dari tradisinya. Perempuan Klungkung masih mencintai gending-gending:…// Pada alunan gending-gending tua yang menyalakan kedamaian/ seperti semburat bulan turut menyaksikan para gadis dihiasi peluh/ Namun, tidak membuat mereka sesak hati//…// Puisi ini juga menyiratkan ketulusan hati, maka Adenar Dirham memilih larik /Namun, tidak membuat meraka sesak hati/.Kutipan di atas menyiratkan nuansa yang damai dan penuh inspirasi ada di Klungkung. Keindahan tercipta dan gadis-gadis Klungkung menjaga tradisinya.

Monumen Puputan (hlm 20) sebagai pertanda bahwa perang puputan pernah terjadi di Klungkung. Puisi Biolen Fernando Sinaga dari Medan menuliskannya dengan cukup unik. Ia memulainya dengan dialog:/”Itu gada, bukan?” tanyaku/ “Bukan itu lingga,” jawabmu/ “Bukan itu gada.”/”Lingga.”/ “Gada.”//…// Puisi ini menyiratkan betapa pentingnya keberadaan sebuah monumen. Masyarakat Klungkung maupun luar Klungkung bisa belajar banyak dari Monumen Puputan ini. Di dalamnya terpajang perjalanan sejarah Klungkung. Secara tidak langsung masyarakat pun akan tahu kisah perjuangan, pola hidup masyarakat Klungkung dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur masyarakat Klungkung.

Mas Ruscitadewi dalam puisinya Wayang Batu Malawang (hlm 80) menyuarakan kepergian menuju alam keabadian. Keberadaan puisi ini menceritakan pertemuan antara Bima dengan Dewa Ruci. Latar cerita dari kisah Bima yang yang disuruh mencari tirta amertha oleh Bhagawan Drona. Dialog mistis antara Bima dan Dewa Ruci ini diabadikan oleh Mas Ruscita dengan cukup baik:…// Langit Batu Melawang membayang wayang/ di depan Bima sakti bertemu Dewa Ruci/ Semar dan empat pendawa di belakang/ Gelombang pasang menyisakan lorong ulang//…//  Pilihan kata  lorong pulang bisa dimaknai sebagai jalan menuju alam Tuhan. Pulang ke rumah asal.

Puisi Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta (hlm 117) mengharapkan agar selau ingat dengan Klungkung. Keberadaan seorang anak yang lahir, besar, dan hidup di Klungkung. Tengoklah diri atau pulanglah ke relung hati agar bisa merasakan betapa Klungkung telah memberikan makna dalam kehidupan hingga tidak sampai buta hati: …// Tanah tua tanah cinta/ tempat kau semua pernah ada/ sebelum tersebar rata di semua kota/ Buta dalam ingatan kata/ Buta dalam gemerlap cerita// Pulanglah nak…pulang/ agar aku tahu/ kalian selalu mengingatku/ dengan rasa rindu yang menggebu//

Keberagaman daya ungkap dan keberagaman ide bisa dinikmati dalam kumpulan puisi Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta ini. Semangat patriotisme terwakili dengan puputannya, pola kehidupan dan tantangannya diwakili dengan Kusamba. Religius terwakili dengan Goa Lawah.  Keindahan terwakili dengan puisi yang berkaitan dengan Kamasan. Tantangan alam terbaca dalam puisi-puisi dengan latar Nusa Penida. Kumpulan puisi ini tentulah tidak hanya berhenti sebagai sebuah kumpulan. Diharapkan bisa memberi inspirasi bagi Klungkung yang di dalamnya tersirat makna keindahan. Keindahan hati, jiwa, raga, dan alam Klungkung terwakili dalam larik-larik puisi, Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta.