AG Pramono menyuratkan larik hatinya dalam Cerita Pendek Berhenti di Rumahmu. Kumpulan ini menarik karena di dalamnya bukan cerita pendek justru puisi yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi, Tabanan, 2014. Lariknya menyiratkan kegelisahan kreatif AG Pramono hingga menjadi sebuah kisah kecil dari sebuah tempat yang menyentuh larik hatinya. Permenungan kreativitasnya bergelora saat bersemuka dengan sebuah tempat. Dialog kreatif terjalin harmonis antara AG Pramono dan tempat-tempat yang sempat menyentuh kreativitasnya. Tempat itu bisa berupa tempat lahir maupun batin yang memantik kreativitasnya.

Seorang AG Pramono seperti teringat dengan masa-masa kecilnya. Masa kecil selalu memberi pengalaman yang menyenangkan. Ada kerinduan ka masa kecil. Kesederhanaan, keceriaan tampak dalam masa-masa kecil yang membekas dalam diri AG Pramono. Puisi di Ladang Kertas (hlm.1) jika dicermati mengilustrasikan bahwa anak sebagai sebuah kertas. Sebuah kertas bisa merekam beragam catatan hidup masa kanak-kanak. Tulisan dalam kertas itu akan membekas sampai dewasa. Puisi Di Ladang Kertas menyiratkan: …/ Di tengah kalender sunyi/ yang begitu ramah dan seerhana/ aku menunggu mainan kanak-kanak lagi//

Kegelisahan AG Pramono terhadap situasi tanah air bisa dinikmati dalam puisi Bunga Rampai Tanah Air (hlm. 4). Puisi ini cukup indah saat memulai. Sebelum air kau tuang menjadi kata/ ejalah sebutir pasir di pantai/ dan kau benam ayunan kecil, di pelupuk mata// Sentakannya muncul saat mengungkapkan kondisi Indonesia yang terdiri atas beragam suku bangsa, beragam bahasa, beragam adat dan budaya. AG Pramono berharap agar tidak terjadi benturan-benturan karena adanya perbedaan-perbedaan. Justru karena perbedaan itulah semestinya menjadi sebuah kekuatan. AG Pramono berharap agar Indonesia tetap menjadi satu kesatuan dan bisa besar sejajar dengan negara-negara lain dan tidak menjadi air mata di bumi Nusantara:…/”Kemarilah nak, dengarkan lagu Indonesia Raya/ sebelum air mata menjadi abu di taman ini.”//

Gaya ungkap AG Pramono dalam puisi Sebelum Pulang (hlm. 24) mirip seperti dalam puisi Bunga Rampai Tanah Air. Perhatikan larik awalnya: Jika masih ada cinta sepagi ini/ serambi ini selalu damai untukmu// Nada-nada puisinya ada kemiripan. Keindahannya juga tampak pada larik akhir. …/ Malam memerasku kembali/ menciumi sisa suaramu yang masih terasa dibakar waktu/ sunyi// Pencarian AG Pramono pada kesunyian hati. Dalam kesunyian itu akan terdengar suara hati. Wujud suara itu beragam bergantung pada perjalanan hidup seseorang.

Kekuatan penggalian Pramono tampak pada puisi Aku (hlm. 25) yang dibentuk seperti Haiku. Singkat padat dan memberikan beragam permenungan bagi pembaca. Jika aku ada/ itu lah puisi// Sebuah puisi yang paling padat di antara puisi-puisi yang ada dalam kumpulan Cerita Pendek Berhenti di Rumahmu, membangkitkan daya renung yang kuat. Betapa pentingnya keberadaan seseorang. Dengan puisi, keberadaan AG Pramono tersurat dalam jagat puisi. Puisi memberi catatan dalam hidup AG Pramono. Bagi AG Pramono hidup itu sendiri adalah puisi. Beragam warna berjalan dalam hidup. Itulah puisi hingga melahirkan beragam warna dalam sebuah puisi. Kisah-kisah kehidupan memberikan ruang penghayatan dan permenungan bagi perjalanan hidup.

Kesendirian terkadang melahirkan sebuah renungan bagi diri. Kenangan akan keberadaan seseorang bisa hadir dalam kesendirian. Siapa seseorang itu? Ia bisa yang terkasih, bisa masa lalu, bisa perjalanan batin AG Pramono. Batin yang lagi mencari sunyi lebih-lebih disertai dengan nuansa alam dalam rintik-rintik hujan, kenangan-kenangan itu akan bisa muncul. Cerita Hujan (hlm. 26) mengungkapkan hal itu:…// masih di sini dan percikan hujan/ masih saja berjarak/ antara halaman kotamu dan kotaku//…//

Nama yang panjang memang susah untuk diingat. Yang menarik adalah nama panjang itu bisa dipendekkan menjadi Ning. Sebuah nama yang indah. Nama Ning bisa dimaknai sebagai hening, bisa sebagai bening. Sebuah nama yang selalu dicari saat saling berkenalan dengan seseorang. Penyebutan nama Ning tersirat energi murni yang memberikan kesejukan jiwa. Pilihan nama yang menggunah AG Pramono untuk selalu menyelami hatinya hingga sampai pada titik hening nan bening. Puisi Kusebut Saja Namamu (hlm 28) menyuratkan:…/ Namamu terlalu panjang kuingat/ karena itu cukup aku sebut saja, namamu ning/ dan marahkah kamu kalu kusebut begitu// Diam pun terjadi/ dan aku tahu, diam adalah bahasa petempuan/ yang cukup sering kutemui/ jadi, aku tak kaget lagi//…// Pencarian hening dan bening pada diam. Saat diam dalam keheningan dan kebeningan hati dan jiwa akan bisa merasakan getaran-getaran halus dari alam semesta. AG Pramono berupaya agar kebeningan selalu hadir dalam hidupnya.

Sebuah perjalanan memang bisa memantik kreativitas. Perjalanan fisik dan batin AG Pramono bisa dinikmati dalam puisi Padangbai-Lembar (hlm 31). Perahu sebuah kata yang memiliki makna mendalam. Perahu dalam konteks ini bisa dimaknai sebagai tubuh atau jiwa. Jiwa-jiwa yang mecari tempat berlabuh setelah melewati gempuran ombak kehidupan. Berlabuhnya jiwa tentu pada sang pemilik jiwa. …// Perahuku oleng/ bayang-bayang di air/ membiarkan semua terjadi/ sebelum pergi berlabuh// Bayang-bayang perjalanan yang dialami berupa suka duka hidup dengan bergama warnanya bisa tampak dalam beningnya air batin. Air batin yang jernih dan bening bayang-bayang itu tampak bukan pada air yang keruh. Jika jiwa berlabuh pada bayang-bayang air yang jernih betapa indahnya perjalanan hidup itu. Tentu hal ini tidaklah mudah, seperti yang disuratkan AG Pramono prahunya sering oleng. Semoga tidak sampai terseret ombak kehidupan hingga lupa berlabuh pada kesadaran jiwa.

Pencarian keheningan AG Pramono lebih tampak pada puisi Sahur Bersama Ning (hlm. 24). Jika pada puisi Kusebut Saja Namamu (hlm 28), baru pada saat pergantian nama, pada puisi Sahur Bersama Ning lebih menukik agar selelu ingat berterima kasih pada Sang Khalik: Ajarkan hatimu menengadah/ pahatkan cahaya dalam setiap dzikirmu/ dan ucapkan segalanya dengan syukur/ sebab Ramadhan telah hadir di hatimu, Ning//…// Puisi ini memberikan permenungan betapa mulianya hati manusia jika selalu bisa bersyukur atas karunia Tuhan.

AG Pramono menyelami kehidupan puisi dengan bahasa dan gaya yang khas. Kata-katanya mengalir hingga memberikan ruang hening dalam pembacaannya. Penggalian-penggaliannya membuat hati agar selalu bisa berterima kasih pada setiap karunia yang diberikan Tuhan. Tubuh dan jiwa diusahakan selalu berjalan berimbang hingga bening jiwa bisa tercerahkan.