Bukan Permaisuri sebuah karya Ni Komang Ariani yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Juni, 2012. Ada enam belas cerpen dalam kumpulan Bukan Permaisuri ini, antara lain Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya, Senja di Pelupuk Mata, Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara, Mimpi Bocah yang Terbang ke Langit, Sepotong Cita-cita dari Bangli, Kutuk Perempuan, SPG yang Berjualan dengan Bayinya, Nyoman Rindi, Mirna, Seorang Ibu yang Malang, Istri, Bu Guru Raras Melangkah Pergi, Ibu, Sari dan Aryo, Mak, Anak-anak yang Tumbuh dengan Sendirinya, dan Bukan Permaisuri.

Cerpen-cerpen Ariani dengan daya ungkap yang cukup lancar sehingga pembaca tidak mengalami kendala dalam memahami makna yang ingin disampaikannya. Ariani menyelami dunia sosial yang melingkupi kehidupannya. Boleh dikatakan bahwa Ariani tidak berdiam diri melihat problematika sosial yang terjadi di sekitarnya. Problematika perempuan menjadi perhatian Ariani dalam kumpulan Bukan Permaisuri. Sebagai seorang sastrawan, bahasa tulislah yang dipakai sebagai wahana dalam menyampaikan ide-idenya dan pandangannya terhadap sebuah problematika sosial. Cerpen-cerpen dalam kumpulan Bukan Permaisuri mengungkapkan getar-getar keprihatinan dan kegetiran hidup yang dirasakan dan dilihat oleh Ariani.

Kesepian dan Kegelisahan Perempuan

Kegelisahan seorang ibu terungkap dengan cukup indah dalam cerpen Senja di Pelupuk Mata (hlm 10). Sebagai ibu, kesepian mulai dirasakan setelah anaknya satu per satu meninggalkan dirinya untuk menjalani kehidupan barunya. Ibu dalam kesepian yang amat sangat dilukiskan cukup menarik. Dalam suasana riuh, ibu meraskan kesepian. Terus apa yang bisa dilakukan oleh seorang ibu jika sudah sepi seperti ini? Inilah yang tidak dijawab oleh Ariani. Ariani hanya menggambarkan betapa ikatan tali kasih seorang ibu kepada anaknya bisa putus karena sebuah pernikahan. Pernikahan memisahkan hubungan anak dengan orang tuanya. Dan orang tua bersiap-siaplah untuk mengalami kesepian: “Suasana begitu riuh.Namum, berlawanan dengan yang kurasakan di hatiku. Entah mengapa jiwaku terasa sangat hampa. Sesak tanpa jelas sumber dan asal-usulnya. Tiga anak perempuan yang kukandung selama sembilan bulan satu per satu sudah meninggalkanku.”

Perempuan yang mengalami kesepian batin juga bisa ditemukan dalam cerpen Sepasang Dinaya yang Terpenjara (hlm 19). Perempuan Dinaya yang terpenjara karena keputusannya untuk menikah. Suaminya tidak bisa diajak berbagi rasa. Ketidakpedulian seorang suami terhadap keberadaan hati seorang istri diungkap dengan cukup indah oleh Ariani. Ariani mempertanyakan sebenarnya pernikahan itu untuk apa? Karena di dalamnya ada perempuan yang terpenjara. Ariani juga secara tersirat menyampaikan agar seorang suami meluangkan waktunya bisa berbagi rasa dengan sang istri. Paling tidak bisa merasakan kesedihan dan kesepian batin dari seorang perempuan.  …”Pernikahan itu hanya menjadi tempat berlindung baginya karena ia takut disebut perawan tua. Dulu, Dinaya tidak pernah mencintai Ghana. Ternyata makin hari ia makin membenci laki-laki itu. Masih layakkah apa yang sedang dijalaninya ini sebagai sebuah pernikahan.”

Ariani mencurigai bahwa tidak semua pernikahan itu dilandasi oleh rasa cinta. Problematika sosial seperti ini hampir ada di setiap pernikahan. Di samping itu, Ariani juga menyiratkan pesan agar sebuah pernikahan dilandasi dengan rasa cinta. Apalah gunanya sebuah pernikahan kalau tidak ada rasa cinta di dalamnya? Ariani berharap agar sebuah rumah tangga dibalut dalam jalinan cinta dan kasih sayang.

Cerpen Kutuk Perempuan amat menarik saat membuka kisah. Ariani membukanya dengan  kalimat. Percayakah kamu, Seni, pada tubuh perempuanmu sudah ditanam kutuk? Sebuah teknik membuka cerita yang membuat bertanya-tanya, ada apa dengan tubuh perempuan. Mengapa tubuh yang dikenai kutuk? Cerpen ini memang membuat pembaca untuk terus mengikuti kisahnya.

Kisah rumah tangga yang dialami Seni. Seni yang tidak mendapatkan kasih sayang. Ia juga mengalami kesepian karena saat berada di rumah sakit suaminya tidak menampakkan kasih sayang. Seni menghadapi masalahnya sendiri:…(hlm 46) Seni terbaring di rumah sakit ini, sebagai perempuan sebatang kara yang sudah tidak memiliki keluarga. Ke manakah Wari, suaminya? Laki-laki yang sudah sepuluh tahun tinggal seatap dengannya itu. Tak seharipun datang untuk sekadar menanyakan kabarnya. Apakah seorang suami bisa melupakan istrinya?”

Betapa parahnya jika sebuah keluarga seperti gambaran Ariani. Suami yang tidak peduli dengan istrinya. Gambaran sosial yang ditangkap Ariani tidak jarang ditemukan dalam kenyataan. Suami meninggalkan istrinya dalam keadaan sakit. Tanggung jawab seorang suami dipertanyakan kembali oleh Ariani.

Kegelisahan batin dialami oleh seorang guru. Cerpen Bu Guru Raras Melangkah Pergi (hlm 86) menyiratkan perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Karakter siswa sudah banyak mengalami perubahan. Siswa tidak lagi menghormati gurunya yang nota bene telah memberikan ilmu pengetahuan. Gejala perubahan ini ada benang merahnya dengan keadaan dunia pendidikan. Sebagai seorang guru, Raras pastilah gelisah melihat kenyataan yang dialaminya. Dalam batinnya, ia merasa bersedih karena anak-anak bangsa yang akan melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa sudah mengalami perubahan yang cukup drastis. Rasa hormat dan etika sebagai siswa tidak ditemukannya lagi: “Raras berusaha berdiri tegak dan membuat seberwibawa mungkin. Sudah lama kelas ini membuat Raras merasa kehilangan muka. Anak-anak yang semakin berani membantah kata-katanya anak-anak yang bahkan berani mengejeknya dengan kata-kata hinaan. Apa yang dapat dilakukannya selain pasrah….”

Cerpen Bukan Permaisuri mengisahkan beragam problematika hidup yang dialami seorang perempuan. Perempuan-perempuan yang dilukiskan Ariani sebagian besar perempuan-perempuan yang mengalami kekalahan dalam membina sebuah rumah tangga atau kalah dalam menghadapi sebuah tantangan. Perempuan-perempuan yang merasa kesepian atau perempuan yang gelisah karena hatinya tidak bisa terima dengan kenyataan yang dihadapi. Kenyataan sosial menunjukkan masih ada perempuan yang mengalami gunjangan batin seperti yang diceritakan oleh Ariani. Kepekaan Ariani patutlah diapresiasi karena mampu menangkap derita seorang perempuan.