Samsara sebuah kumpulan cerpen karya Putu Fajar Arcana diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005. Dalam kumpulan ini, Fajar memuat enam belas cerpen terpilihnya antara lain Requiem, Drupadi, Baru saja Kusadari tentang Kematian, Lantai Tiga Belas, Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu, Aku Cemas Menunggu Matahari, Lelaki yang Berumah di Halte, Perselingkuhan Ayah, Selokan yang Tembus ke sawah, Kado yang Terlambat Tiba, Kereta Senja, dan Aku Temukan Diriku Terkapar di Ruang. Cerpen-cerpen dalam kumpulan Samsara ini menyiratkan kematian, karma, dan kelahiran. Kematian itu sudah pasti karena setiap yang lahir pastilah akan mati. Kelahiran ditentukan oleh karma.  Lahir, hidup, dan mati itu hukum alam (rta) yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa diminta oleh setiap yang hidup.

Fajar Arcana sepertinya menyadari hakikat dari sebuah kehidupan. Setiap manusia dalam konsep Hindu terdiri atas tiga angga sarira (badan kasar), suksma sarira (badan halus), dan antakarana sarira (atma, sumber hidup). Atma tidak pernah mati, badan kasar inilah yang mati, kropos, tua karena beragam sebab. Atma setelah lepas dari badan ini akan memasuki wadag baru. Selama atma belum bisa mencapai kemanunggalan, maka tetap mengalami kelahiran kembali secara berulang-ulang (reikarnasi). Permasalahannya, atma ini tentulah akan terikat dengan karma. Karma itu bisa benar, baik, suci atau sebaliknya, maka karma itulah yang akan menentukan wadag yang tepat dengan atma itu cerpen Drupadi (hlm 12): …Kalau saja waktu itu aku bisa berbicara, tak hanya bisa mendengar, pastilah akan kukatakan. “Aku ingin lahir kembali, karena kelahiran selalu berujung ada kematian lagi.”

Wadag Pilihan Karma

Fajar mengungkapkan karena karma, atma itu akan memasuki wadag anjing. Maka, wujud fisiknya berupa anjing. Padahal, sebelumnya ia terlahir sebagai manusia:…”Aku tahu. Kakek tak lain dulu seekor anjing yang dengan setia mengikuti perjalanan majikannya yang bernama Yudistira ketika menuju pintu surga. Aku baru saja seperti telempar ke masa-masa akhir dari kisah Mahabaratha (hlm 14).

Binatang yang dipilih Fajar tampaknya dipertimbangkan sekali. Dari sekian banyak binatang, anjing termasuk binatang yang paling setia terhadap majikannya. Dalam kesetiaan itu ada keterikatan. Anjing terikat pada tuannya (majikannya). Sang majikan terikat pada anjing. Siapa majikan ini? Fajar tidak memberikan jawaban. Akan tetapi, tersirat bahwa majikan itu adalah atma:…”Bukan aku yang menentukan.Kelahiran sebagai manusia tetap hal yang utama bagiku…,” kata Kakek. Usai dia mengatakan itu, tentang masa lalu Kakek. Gambar-gambar itu memperlihatkan perjalanan seekor anjing mengikuti majikanya mencari surga (hlm 13).

Kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi manusia yang sudah memiliki kesadaran murni. Yang bersedih yang ditinggalkan, yang mati hanya akan mengadukan hasil-hsil perbuatannya sehingga akan memeroleh tempat yang semestinya sesuai dengan amal perbuatannya. Yang sulit adalah agar bisa memahami dan mendapatkan puncak kesadaran sehingga kematian tidak lagi sesuatu yang menakutkan ataupun mengerikan:…”Apa aku sudah mati? Mengapa senua orang justru menangis ketika aku memasuki kesadaran baru ini? Aku bahkan masih tersenyum kepada Ibu sewaktu ia mencium tanganku. Apakah ia tidak merasakannya? Aku sekarang lebih nyaman dan damai, terlepas dari segala siksa kepala yang berbulan-bulan itu (cerpen Baru Saja Kusadari tentang Kematian hlm 29).

Kematian-kematian yang dilukiskan Fajar amat beragam. Misalnya ada kematian karena diduga terlibat G/30/S/PKI. …”Komunis hantu yang harus dikubur hidup-hidup!” bentaknya tadi sesaat setelah menculikku di rumah sendiri. Dan orang ini juga beberapa kali menendang punggungku. Perih rasanya. Celakanya kalau aku berteriak mengaduh, ia malah semakin keras menyiksaku. Dalam gelap malam kudengar derap sepatu di balkon, seperti suara tentara sedang berbaris. Pastilah regu tembak. Kupikir di sinilah hidupku akan berakhir tanpa perlawanan (hlm 43).

Kutipan di atas menyiratkan betapa kekerasan telah terjadi di rupublik ini. Orang-orang yang belum jelas salahnya sudah dihabisi dengan dalih mengikuti paham tertentu. Dalam cerpen Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu, Fajar melukiskan kekerasan terhadap anak negeri yang dilakukan oleh anak negeri sendiri telah terjadi. Tentulah kekerasan ini, tidak boleh terulang kembali. Karena perbedaan paham terjadi di negeri ini, saudara sendiri dihabisi.

Penghargaan terhadap orang yang berjasa ingin disampaikan oleh Fajar dan sekaligus sebagai kritik terhadap pemerintah yang kurang memperhatikan para pejuang. Kematian orang yang berjasa amat disayangkan oleh Fajar. Tokoh Bung  Cilik sebagai simbolis pejuang yang hidupnya serba kekurangan digunakan oleh Fajar untuk menyampaikan keprihatinannya kepada para pejuang republik ini. Fajar melihat betapa ketidakseimbangan hidup antar pejuang dengan yang hanya menikmati hasil perjuangan para pejuang. Perhargaan terhadap para pejuang republik ini perlu ditingkatkan.  Cerpen Lelaki yang Berumah di Halte (67) mengungkapkan:…”Dengan langkah tergesa-gesa aku kembali ke mobil. Di belakang setir beribu pertanyaan menghantui kepalaku. Hatiku berkecamuk setelah tanpa pertimbangan menerima”warisan” tas hitam yang sangat bau ini. Aah, akhirnya kuinjak pedal gas, mobil pun meluncur ke arah Palmerah. Ketika tiba di gerbang kantor, barulah aku ingat, bukankah lelaki bertubuh kecil dan mengenakan peci hitam dan kaca mata tebal itu Bung Cilik?

Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam Samsara ini melukiskan beragam derita, beragam jalan kematian. Kematian sudahlah pasti karena manusia lahir dan hidup. Jalan kematian ini yang perlu diperhatikan dan jika mungkin dipelajari sehingga memeroleh kesadaran dan kedamaian. Karma-karma yang dibangun selama hidup akan menentukan wadag setelah kematian. Wujud wadag itu bisa binatang, bisa manusia. Manusia terikat dengan hukum alam (rta). Berbuat kebajikan akan menjadikan karma-karma baik terekam dalam memori sebagai  bagian dari perjalanan menuju hakikat sejati, menunggalnya atma kepada paramatman (Tuhan).