Sastrawan Wayan Sunarta sebagai salah satu sastrawan yang terusik daya kreatifnya untuk mengabadikan beberapa tempat yang berada di Karangasem. Setiap tempat bagi seorang sastrawan bisa mengugah hatinya untuk menuliskannya dalam beberapa larik puisi sehingga momen tertentu yang menyentuh kreativitasnya akan terwujud dalam sebuah puisi. Perlu diketahuin bahwa Wayan Sunarta yang sering dipanggil Jengki ini pernah tinggal di Karangasem. Kumpulan puisi Impian Usai bukanlah berarti usai juga dengan Karangasem. Buku ini diterbitkan oleh Kubu Sastra, Denpasar Agustus 2007.

Beragam yang diungkapkan Jengki dalam kumpulan Impian Usai, katakanlah masalah cinta baik cinta Tuhan, alam, maupun cinta sesama, juga kritik-kritik terhadap perubahan alam yang terjadi karena reklamasi, puisi Catatan Reklamasi Pantai Serangan dapat mewakili sikapnya terhadap reklamasi.  Kemampuan lebih yang dimiliki Jengki bisa mengungkapkan sebuah tempat yang bernilai lebih di hati seorang sastrawan. Tempat-tempat tertentu bagi orang kebanyakan adalah tempat biasa, bagi Jengki justru menjadi bermakna dalam hidupnya dan memberi warna keindahan tertentu.

Puisi di Puncak Gunung Agung, melukiskan betapa rendah hatinya seorang Jengki dalam menyikapi sebuah kehidupan. Kemungkinan Jengki pernah mendaki secara fisik ke gunung Agung atau pendakian kreatif sampai ke puncak gunung Agung. Bagi yang pernah sampai ke puncak gunung Agung akan bisa merasakan betapa mahaluasnya alam ini. Betapa kecilnya raga ini dibandingkan dengan alam dan di situlah akan merasa hati, jiwa, rasa sebagai manusia tak ada apa-apanya. Jengki dalam pengembaraan batinnya meyakini kebesaran Tuhan. Ia tidak bisa melepaskan diri dari kebesaran Tuhan: …/ tak satu pun kutemui kebenaran/ hingga aku bertambah yakin/ segala yang fana/ bermuara padamu jua// (hlm 5).

Kutipan di atas menyiratkan bahwa manusia tidak akan bisa lepas dari Tuhan. Ego dan rasa bangga terhadap diri yang berlebihan tidak akan berati apa-apa di hadapan Tuhan. Jengki sudah merasakan hal itu saat pengembaraannya menuju gunung Agung. Pengembaraan spiritual menuju Tuhan.

Jengki merasakan betapa tantangan hidup yan dialami para nelayan yang setia dengan laut. Suka-duka hidup sebagai pelaut diungkapkan oleh Jengki. Puisi Pantai Candidasa (hlm 12): … /tubuh jukung menggeliat lelah/ setelah semalaman mendulang kasih// …/rinduku terhempas di pasir/ ombak menepi menggoreskan luka/ di akhir lepas senja/ tubuh jukung luluh/ dalam lenguh buih// Puisi ini berisi desahan hati Jengki yang belum bisa terima dengan kesenjangan kehidupan para nelayan. Perhatikan pilihan kata yang dipilih Jengki/ lelah, menggoreskan luka, di akhir lepas senja, jukung luluh, lenguh buih/. Kata-kata ini bisa dimaknai bahwa kedukaan yang mendalam terhadap nelayan.

Tirta Gangga rupanya menyimpan kenangan yang mendalam bagi Jengki. Puisi Lima Ribu Depa dari Amlapura (hlm 119)  melukiskan kesedihan hatinya. Ia menuliskannya dalam larik:…/ lima ribu depa dari kota tua amlapura/ cintaku, adakah yang lebih pedih/ dari kehilangan cinta?/…// Tentu keperihan hati yang dirasakan Jengki siapa saja bisa mengalami. Tapi bagi Jengki, ia merasakan kesedihan yang amat mendalam sampai-sampai ia menulis: adakah yang lebih pedih dari kehilangan cinta? Manusia dikarunia rasa cinta baik itu bernada romantis maupun cinta kepada Tuhan. Tentu harapan Jengki, manusia tetap menjaga rasa cinta itu hingga kedamaian hati akan tetap ada dalam hidup.

Berbeda dengan rasa cinta dalam puisi Lima Ribu Depa dari Amlapura, puisi Tirtagangga (hlm 120) justru menyiratkan kerendahahhatian jengki dan ingin bersemuka dengan junjungannya. Jungjungan dalam hal ini adalah Tuhan sebagai pencinta kehidupan dan Jengki merasakan betapa besar karunia Tuhan padanya. Hinga ia menulis: …/hamba tepekur/ di pelataran paduka ratu/ menghayati sepi yang tiba tertatih/ merambati jiwa yang telah paripurna// paduka ratu junjungan hamba/ mesti berapa penjelmaan lagi hamba lalui/ untuk sampai pada jiwamu//…//  Puisi ini menyiratkan harapan agar bisa Jengki bersemuka dengan Tuhan. Pertemuan batin ini hanya bisa dirasakan dalam suasana yang sepi karena yang Mahasepi akan bisa dirasakan dalam sebuah sepi sejati hingga sampai pada jiwa sejati.

Kehidupan memang harus dijalani. Tidak selamanya bisa berjalan dalam arus kesadaran. Mabuk bagi Jengki bisa memberikan kenangan yang mendalam. Puisi Malam-malam Mabuk di Tirtagangga (hlm 124) melukiskan betapa mabuk bisa melupaka segalanya. Puisi ini cukup bagus karena mampu menggambarkan suasana alam di Tirtaganga. Gambaran sawah dengan padi yang menguning, teriakan pengusir burung yang menarik hati Jengki di samping pelukisan tentang gadis Francis yang lagi mabuk:…/ siang menjelang ditingkahi teriakan burung/ dari jendela membentang sawah menguning/ angin gunung mengurai rambut separuh pirang/ si francis yang molek terglek di ranjang/ pinggulnya sempurna bagai lekuk gitar/ membuat mata jadi nanar/…// Pada akhir bait Jengki menuliskan larik:…/  di mana saya/mau ke mana saya?// Memang dalam situasi mabuk tidak akan diketahui arah yang pasti. Syukurlah jika masih bisa bertanya tentang keberadaan diri. Jika tidak, tentu mabuk akan melupakan diri.

Penggambaran Jengki mengenai tempat-tempat yang ada di Karanagsem cukup menarik karena pengembaraan batin, fisik, spiritual bisa diungkapkan dalam larik-larik puisinya. Tentu tidak hanya tempat gunung Agung, Candidasa, dan Tiragangga yang mengusik kreativitas Jengki. Pastilah ada tempat-tempat lain yang mengusik pengembaraannya dalam berkreativitas karena Jengki bisa merasakan getar-getar yang terkadang tidak bisa dirasakan oleh orang awam terhadap sebuah tempat di Karangasem. Jengki yang lama tinggal di Karangasem, bisa merasakan kehidupan masyarakat Karangasem yang amat beragam dan itu bisa diwujudkan dalam sebuah larik puisi. Puisi bisa mencatat sebuah perjalanan hidup dan kehidupan karena puisi dalam sebuah kehidupan.