Muda Wijaya melahirkan sebuah kumpulan puisi Kalimah. Kumpulan ini diterbitkan oleh Umah Mimba, Denpasar 2013, ada enam puluh satu puisi dalam kumpulan Kalimah. Gambaran yang tersirat dalam Kalimah menyiratkan geliat hidup di kota, kekerasan hidup, cinta dalam arti luas, dan juga pencarian titik kesadaran. Puisi-puisi dalam Kalimah ada yang memberi warna baru dalam tipografinya, misalnya puisi Mantra Lepas Mata (hlm. 16) dengan tipografi anak panah. Puisi ini seperti berjiwa ada gerak panah yang lepas menuju dinding /a/ dengan jumlah 19 larik. Puisi ini diawali dengan larik /matamu kuingat/ dan diakhiri juga dengan /matamu kuingat/. Ini mengindikasikan bahwa agar selalu ingat dengan mata. Mengapa mata? Mata yang bisa membedakan antara yang benar dengan yang tidak benar. Beberapa lariknya berdiksi / ruh mata/ air mata/ mata dingin/ mata kasih/ mata lamat/. Perulangan-perulangan diksi dipisahkan dengan tiga larik/ maukah kau mengasihi tubuh di tengah guru yang tak menemukan mata air/ ruh/ api/.  Pertanyaan yang diajukan aku lirik seperti memberikan gambaran betapa pentingnya seorang guru. Guru dalam gambaran Muda Wijaya hendaknya memberikan kesejukan dengan simbolis kata mata air. Guru hendaknya memberikan kesadaran pada ruh. Guru juga diharapkan mampu menghidupkan api kesadaran. Keindahan puisi ini  tampak dari tata katanya.

Orang-orang Urban

Sebagai penyair dari Karangasem yang besar di Denpasar, Muda Wijaya bisa menangkap perubahan-perubahan yang terjadi akibat benturan-benturan budaya. Benturan-benturan itu bisa bernada miris seperti pada puisi Pelacur di Tubuh Laki-laki (hlm. 12). Gambaran seorang perempuan desa yang kandas di tengah geliatnya kota. Perempuan yang tidak bisa memenangkan persaingan di tengah-tengah kota. Puisi ini dimulai dari larik / sederhana/ menuju kota perabuan/ pembusukan sungai-sungai/ perburuan pecah oleh bulan/ menuju lembahlembah//…// Perempuan-perempuan yang hidupnya sederhana sebagai simbol dari perempuan desa menuju kehidupan di kota. Kekalahan yang dialami sang perempuan hingga jatuh pada lembah hitam.

Tantangan sebagai manusia urban juga bisa dibaca dalam puisi Membaca Jantung Kota (hlm. 13). Pelukisan hidup seorang laki-laki yang berjuang agar bisa hidup di kota. Tantangan kota mesti ditundukkan dengan kerja keras karena individualisme sudah merasuki para penghuni kota. Lariknya cukup mengiris hati tentang gambaran seorang kakek yang mendorong gerobaknya di  tengah deru kota: Lelaki tua dengan gerobak tua/ gantungkan senyum/ ke dalam nyala nyawaku/ rambut raut awut// leleh usia/ lelah pecah// di pilahan sampah/ nelan pucat jantung kota//…// Gambaran fisik laki-laki yang hidup dari memulung, memimalah sampah. Usianya sudah usur, fisik yang ringkih dengan raut wajah ketuaan. Orang-orang urban kalah dan mesti bisa hidup di derunya gerak kota.

Cinta Ibu Bumi, Cinta Semesta, Pencarian Kesadaran

Penghormatan Muda Wijaya pada seorang ibu dapat dibaca dalam puisi Bunda (hlm. 17). Larik akhir puisi ini menarik sekali: Bunda/ Ibu dari maha rahim/ beri aku wirid rendah hati/ yang kau tawafkan/ pada kiblat bumimu/ adalah lebih dari cinta tak semata/ air mata//  seorang ibu yang memberikan kasih sayang. Ibu yang memberikan jalan kehidupan. Harapan Muda Wijaya pada ibunya agar diberikan pencerahan berupa rasa rendah hati. Rasa rendah hati menandakan ego itu sudah lebur. Kesadaran dan kasih sayang terpancar jika ego sudah terkendali oleh rasa rendah. Harapannya agar tidak ada air mata yang mengalir di pelupuk mata seorang ibu.  Kesabaran seorang ibu dapat terbaca pada larik /pada kiblat bumimu/. Ibu bumi yang sabar sekaligus memiliki energi yang maha dasyat.

Kecintaan Muda Wijaya tidak hanya pada tataran ibu yang melahirkannya saja. Ia menyuarakan tentang Ibu dalam arti yang lebih luas dan mendalam. Ibu bumi, misalnya dapat dinikmati pada puisi-puisinya yang bercerita tentang laut. Maka lahirlah puisi Sesaji Purnama Laut (hlm. 23):..// pergumalan taman pasir/ taman rumput/ taman laut/ tentangan taman upacara// Puisi Damai di Pantai Matahari Terbit (hlm. 39):…// di hari minggu damai bersamamu/ membiarkan sampansampan menunda/ sebelum pasanggelombangsembahyang/ memintal percakapan cinta hari depan/-sesaji bagi nelayan// Dua puisi di atas menyiratkan suasana laut yang tanpa disadari memberi kehidupan pada umat manusia. Merawat laut dan mencintai laut tergambar dalam puisi ini. Jika laut terjaga tentu akan memberikan penghidupan bagi nelayan khususnya.

Kecintaan pada alam sunyi tergambar pada puisi Amati Geni (15). Amati Geni sebagai salah satu pengendalian (brata) dalam perayaan Nyepi di Bali diungkapkan ke dalam bahasa simbol menjadi nyepi di dalam diri. Ungkapan larik memberikan permenungan :…// di titik paling gelap/ aku berziarah/ mengusir bencana/ yang bermula dari percikan api// Api kemarahan mengurangi titik kesadaran sebagai makhluk yang berkesadaran. Muda Wijaya berupaya agar api-api yang menggodanya bisa berubah menjadi titik api kesadaran yang memberi terang pada Sang Diri. Pertemuan kesadaran itu tampak pada puisi Purnama Sidi (hlm 57): …// cerah tepi-Mu/ jadi kembang api//…// aku teriakkan nama/ taman cahaya/ taman cahaya/ taman cahaya//…// di ketinggian cahaya/ suaraku tak kenal lengang//. Pertanda bahwa betapa pentingnya cahaya kehidupan dari Sang Khalik hingga cahaya itu bisa menjadi sebuah taman. Di dalam taman akan ada beragam kembang yang memberikan keharuman pada jiwa. Taman cahaya tumbuh menerangi titik ruh menjadikan hidup lebih lapang. Hidup mencari cahaya kesadaran amat diharapkan oleh Muda Wijaya.

Pencarian Muda Wijaya terus bergerak untuk mencari cahaya kesadaran. Puisi Ingin Aku Dapati Dekapan Tubuhmu (70) menegaskan pencarian itu: Bulan membawa mataku berdiri malam ini/ memandang sepasang lorong penyerahan/ sambil menunggu padang-padang terang/ menangkapi tubuhmu yang mulus berbagi sinar//…// Penyerahan hati Wijaya tersirat dalam puisi ini. Penyerahan pada pemilik cinta suci dari Sang Maha Suci.

Kalimah menyiratkan pencariannya pada titik kesadaran Sang Diri. Pencarian itu memberikan ruang permengungan bagi pembaca agar selalu berupaya mencari sinar, mencari api kesadaran, mencari cahaya batin. Muda Wijaya membuka ruang bagi pencarian kesadaran itu.