Ungkapan siapa yang  menggali lubang, ia sendiri terperosok ke dalamnya, rasanya tepat untuk kisah cerita rakyat I Pucung. Buku Satua-satua Bali (VIII) karya I Nengah Tinggen yang diterbitkan oleh toko buku Indra Jaya Singaraja, 1994 memuat cerita I Pucung.

Alkisah I Pucung memiliki kesukaan menangkap burung di sawah saat padi memulai berbuah saat padi belum berisi isinya tentu tidak akan mendapatkan burung yang dicarinya. Di samping itu, kesukaannya juga memelihara anak anjing. Ia minta anak anjing pada tetangganya. Akan tetapi, I Pucung tidak terima karena anak anjing masih buta. Merasa kurang diperhatikan, ia tersinggung dan tidak mau keluar rumah. Ia tidak mau membantu orang tuanya. Orang tuanya cukup perhatian dan tidak mau melakukan kekerasan pada anak semata wayangnya.

Seiring perjalanan waktu, pikirannya menjadi berkembang dan ia pun jatuh cinta. Ia ingin mempersunting putri, Ida Sang Prabu Koripan (Ida Raden Galuh). Ia tidak berani menyampaikan keinginannya pada orang tuanya. Keberaniannya bangkit, ia ke puri sendirian. Sampai di alun-alun puri ada penjaga yang menanyai mengenai maksud kedatangannya. Setelah disampaikan bahwa ada rakyat yang mau menghadap bernama I Pucung, raja pun mempersilakan. I Pucung diterima dengan baik oleh raja. Di sana, ia menanyakan mengapa padi yang baru belajar berbuah tak berisi dan mengapa anak anjing yang baru lahir matanya buta. Sang raja tidak bisa memberikan jawaban. Kesempatan ini digunakan oleh I Pucung bahwa ini sebagai pertanda kerajaan akan hancur. Raja meminta agar ada jalan keluar. I Pucung menyampaikan agar raja membuat upakara peneduh (upakara agar alam menjadi teduh, tenang, damai) agar dihaturkan di Pura Dalem. Upakara disiapkan, Jro Mangku juga sudah siap menghaturkan. Akan tetapi, sebelum menghaturkan banten ke Gedong Dalem, I Pucung bersembunyi di Gedong Dalem di selatan. Pemangku pun menghaturkan upakaranya. Pada saat itu, permohonan Jro Mangku dijawab oleh I Pucung agar Raden Galuh dihaturkan ke Dalem. Selesai Jro Mangku menghaturkan upakara, keluarlah I Pucung tanpa sepengetahuan Jro Mangku. I Pucung pura-pura tidak tahu. Jro mangku menyampaikan bahwa Raden Galuh agar dipersembahkan ke Pura Dalem. Karena banyak tugas Jro Mangku, maka I Pucung disuruh ke puri. Sampai di puri, disampaikan hasil permohonan Jro Mangku. Raja tidak keberatan. Maka dibuatkanlah peti sebagai tempat Raden Galuh. Raja berpesan agar jangan mengambil kunci petinya biarkan di atas peti. I Pucung menyanggupi. Berbahagialah I Pucung. Ia membawa peti yang berisi Raden Galuh. Karena kelelahan dan kepanasan. I Pucung mandi ke sungai yang airnya jernih. Kesempatan baik ini digunakan oleh Raden Mantri membuka petinya dan diganti dengan seekor macan. Dikunci kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Raden Mantri pergi bersama Raden Galuh.

Sehabis mandi,  I Pucung kembali memikul petinya di bawa ke rumahnya. Ia meminta pertolongan orang tuanya agar dibukakan pintu dan menyampaikan bahwa Raden Galuh sudah diserahkan oleh Raja Koripan. Peti pun dimasukkan. I Pucung dengan penuh nafsu ke kamar sambil merayu. Dibukalah petinya. I Pucung kaget. Ternyata di dalam peti ada seekor macan dan langsung menerkam I Pucung. I Pucung mati. Besok pagi, orang tuanya ingin tahu keberadaan I Pucung. Betapa kagetnya, ia ada seekor macan yang siap menerkam. Cepat-cepatlah orang tuanya meminta bantuan. Macan pun bisa dibinasakan.

Terperosok ke Lubang Sendiri

Ilustrasi cerita rakyat di atas menggambarkan betapa kepintaran belum bisa digunakan dengan cerdas oleh I Pucung. Padahal, keingintahuannya cukup tinggi dan memiliki kemauan untuk maju juga tinggi. Akan tetapi, kepintarannya belum dikelola secara cerdas karena bisa diakali juga oleh orang lain (Raden Mantri). Pucung jatuh ke dalam lubang yang dibuatnya sendiri. Maka orang-orang arif menyatakan hati-hati dalam berbuat kurang benar. Mulutmu harimaumu. Kata-kata yang digunakan untuk mengakali orang lain bisa berbalik kembali.

Dalam kehidupan sekarang ini, kejadian-kejadian seperti di atas bisa saja terjadi. Ingin menjatuhkan orang lain dengan beragam cara. Akhirnya, ia sendiri kena getahnya. Menyampaikan isu yang tidak benar, bisa berhubungan dengan pihak berwajib dan akhirnya berlanjut ke ranah hukum. Akal-akalan seperti itu, tergambar juga dalam cerita rakyat. Cerita rakyat sebagai penggambaran masyarakat pada zamanya tampaknya merekam juga peristiwa yang mengakali orang lain dengan maksud kurang baik.

Hukum Karma Phala

Hukum karma phala menyatakan apa yang ditanam itulah yang dipetik. Kisah  I Pucung seperti tepat untuk mewakili hukum itu. Karena dari dalam hatinya sudah kurang baik, maka I Pucung harus menerima akibat dari perbuatannya. Hatinya ingin mempersunting Raden Galuh dengan cara-cara yang kurang sportif, maka ia pun harus menerimanya sebagai akibat dari ucapan, pikiran dan tindakan yang dilakukannya. Akan tetapi, ada juga sisi positif yang yang bisa dipetik dari cerita di atas. Keberanian I Pucung menghadap langsung pada Raja Koripan dan bisa mengakali seorang raja. Jika tidak ada keberanian dan kemampuan berdiplomasi tentu tidak bisa memengaruhi raja Koripan agar mau mempersembahkan Raden Galuh.

Pengarang tampaknya berkeinginan menyampaikan bahwa seorang rakyat jelata tidak cocok berpasangan dengan seorang Raden Galuh (putri raja) atau pada saat cerita dibuat kekuasaan raja amat tinggi hingga amat tidak mungkin seorang rakyat jelata akan bisa mempersunting seorang putri raja. Yang dikalahkan tentu rakyat jelata, karena ia lemah, dalam artian tidak memiliki kuasa untuk menghadapi kuasa yang lebih tinggi (hegemoni) karena kekuasaan.

Sebuah cerita rakyat menggambarkan masyarakat pada zamannya. Kekuasaan raja tidak bisa dikalah oleh rakyat jelata. Cerita ini juga menyatakan bahwa di sebuah kerajaan, rakyat juga memiliki hak untuk jatuh cinta meskipun penuh risiko yang dihadapinya. Rakyat harus dihormati karena di sanalah kekuasaan raja itu terlihat. Pemimpin otoriter ataukah demokratis atau pemimpin peduli dengan rakyatnya ataukah ingat saat-saat tertentu saja. Misalnya kalau sekarang ini, pemimpin peduli saat akan pemilu saja.