Cerita I Cicing Gudig Dadi Raden Galuh (Anjing Kudisan Menjadi Raden Galuh) ini dapat dibaca dalam buku cerita yang dikumpulkan oleh I.N.K Supatra dengan judul I Cicing Gudig Dadi Raden Galuhditerbitkan oleh CV Kayumas Agung, Denpasar, 2006 dikatapengantari oleh Wayan Budha Gautama). Cerita I Cicing Gudig Dadi Raden Galuh (Anjing Kudisan Menjadi Raden Galuh) ada pada halaman 19.

Kisah I Cicing Gudig Dadi Raden Galuh (Anjing Kudisan Menjadi Raden Galuh) berawal dari ketidakterimaan seekor anjing kudisan yang selalu diganggu oleh anjing-anjing lain. Merasa dirinya kurang dihargai, si anjing pun memohon kepada Dewa Siwa agar diberikan anugerah. Dewa Siwa dengan cinta kasih-Nya mengabulkan permintaan si anjing kudisan. Permintaan pertama agar selalu mendapatkan makanan tanpa usaha yang keras. Maka, ia diberikan anugerah menjadi Padmacapah yang berada di tebing atau tempat-tempat angker. Anjing kudisan pun merasa bersyukur karena saban hari ada saja yang memberinya makanan. Rasa kurang puas muncul dalam pikiran si anjing kudisan, ia lagi memohon agar bisa menjadi Raden Galuh. Kembali Dewa Siwa merestui permohonannya. Si anjing kudisan menjadi Raden Galuh yang mirip dengan anak raja di Kertabumi yang kebetulan saat itu ditinggal pergi untuk selama-lamanya. Suatu ketika, si anjing kudisan yang sudah berubah wujud menjadi Raden Galuh yang cantik bagaikan bidadari turun dari kahyangan ke puri Kertabumi. Raja pun kembali seperti sediakala. Kesedihan raja hilang. Anjing kudisan bersuka cita karena dilayani oleh para dayang istana. Si anjing kudisan belum juga merasa puas. Ia pun kembali memohon agar diberikan anugerah menjadi dewa yang berada di surga. Dewa Siwa tidak terima dengan permohonan si anjing kudisan. Ia pun dikutuk kembali menjadi anjing kudisan yang diganggu oleh anjing-anjing lainnya.

Belajar Mengendalikan Pikiran

Cerita rakyat ini memberikan pembelajaran yang amat menarik bagi kita. Ternyata pikiran amat sulit untuk dikendalikan. Rasa tidak puas akan anugerah yang diberikan Tuhan selalu saja mengikuti perjalanan hidup. Gambaran yang digunakan pengarang cerita ini berawal dari keinginan-keinginan. Jika tidak dipenuhi akan muncul rasa marah, cemat tersinggung, menyebarkan fitnah dan beragam bentuk pergerakan keinginan yang kurang sehat.

Satu keinginan sudah terpenuhi akan mncul keinginan yang lain lagi. Secara alami ini adalah normal karena pikiran manusia pasti ingin perubahan. Akan tetapi, pengarang rupaya melihat bahwa pada masa cerita ini ditulis ada perubahan perilaku yang tidak pernah merasa puas akan sesuatu yang sudah diperoleh hingga melahirkan kisah anjing kudisan. Di balik cerita ini, ada harapan dari pengarang agar selalu bersyukur akan sesuatu yang diperoleh. Rasa bersyukur hilang akan mengakibatkan adanya perilaku kurang terpuji seperti menghalalkan segala cara agar memeroleh sesuatu. Misalnya, melakukan korupsi agar segala keuangan bisa terpenuhi. Awalnya tidak diketahui, lama-lama akan diketahui juga belangnya. Betapa pentingnya mengendalikan pikiran agar selalu terkendali sesuai dengan tuntunan dan tatanan karakter manusia yang bermoral, beradab, beretika dalam kehidupan.

Kemarahan Dewa Siwa terhadap sikap-sikap dan perilaku yang tidak bisa berterima kasih, tidak bisa bersykur, dan tidak bisa menghargai karunia Tuhan bisa dibaca dalam kutipan:…”Ih iba cicing gudig, tui tuah iba panumadian sato, tusing ngelah rasa suksman idep, marep kapin paican Ida Sanghyang Widi, setata ngulurin keneh momo droaka. Nah ane jani mabalik buin iba dadi cicing gudig, tan paguna tan paaji, setata ngardi geting idep sang ngatonang.” Keto wecananida Betara Siwa, wastu Raden Galuh buin mabalik dadi cicing gudig buka jati mula.(Ih engkau anjing kudisan, memang kau terlahir dari binatang, tidak punya rasa berterima kasih pada anugerah dari Sanghyang Widi, selalu menuruti pikiranmu yang loba. Nah sekarang, kembali kau menjadi anjing kudisan tidak berguna, tidak berharga selalu membuat rasa tidak suka setiap yang melihatmu.” Begitulah kata-kata dari Dewa Siwa, akhirna Raden Galuh kembali menjadi anjing kudisan).

Kutipan di atas menggambarkan betapa pentingnya rasa bersyukur terhadap karunia yang diberikan oleh Tuhan. Jika rasa bersyukur tidak tumbuh dalam hati, akan berdampak pada ketidaktenangan pikiran. Pikiran-pikiran yang kurang konstruktif akan tumbuh. Jika ini tumbuh subur, niscaya ketidaknyamanan dalam hidup akan susah diperoleh. Pengarang cerita rakyat ini mengilustasikan pikiran yang cepat berubah jika tidak bisa dikendalikan. Pikiran ibarat kuda liar yang sulit untuk dikekang. Tersirat pengarang mengharapkan agar belajar mengendalikan pikiran walau agak sulit karena liarnya yang tanpa batas.