Sebuah karya sastra cerita rakyat yang ditulis oleh I Nengah Tinggen berjudul I Bintang Lara. Cerita rakyat ini ada dalam kumpulan Satua-satua Bali (XV), sebuah buku yang diterbitkan oleh Toko Buku Indra Jaya, Singaraja, 2003. Ada tujuh cerita rakyat antara lain (1) Satua I Klesih, (2) Satua Yuyu Misi Enjekan Kebo di Tundune, (3) Satua Barong Landung, (4) Satua Sang Rama Ngemit Tapasui, (5) satua Pamuteran Gunung Mandara, (6) Satua Dewi Winata Dados Panyeroan, dan (7) Satua I Bintang Lara.

Dalam kisah I Bintang Lara ada dihadirkan sebuah tulisan yang berdampak bagi kehidupannya dan mampu mendapatkan sebuah kekuasaan. I Bintang Lara ingin mencontohkan bahwa sebuah tulisan memiliki nilai yang amat berharga bagi kehidupan. Di samping juga mengajarkan bahwa sebuah tulisan bisa berdampak kurang baik bagi penulisnya. Berita-berita bohong (hoak) seperti sekarang perlu kecerdasan dalam menyikapinya.

Sebuah perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan memang penuh liku-liku. I Bintang Lara sudah membuktikannya. Tantangannya berat dan penuh risiko bagi yang ingin berkuasa. Akan tetapi dengan jalan yang pasti dan terhormat I Bintang Lara bisa mendapatkan kekuasaan tanpa harus menghalalkan segala cara. Sebuah langkah yang indah dilakukan oleh I Bintang Lara.

I Bintang Lara anak dari Men Bekung dan Pan Bekung. Tanpa disengaja I Bintang Lara menulis di tembok kerajaan tentang obat yang bisa menyembuhkan permaisuri, berupa gagak petak (gagak putih). Tulisan ini disampaikan oleh pengawal istana dan diketahui I Bintang Lara yang menulis. Disuruhlah I Bintang Lara agar menghadap ke kerajaan bersama orang tuanya. I Bintang Lara berjanji mencari gagak putih. Sebelum berjalan mencari gagak putih, I Bintang Lara berpesan jika bunga jepun di depan rumahnya mati, maka matilah ia mencari gagak putih. I Bintang Lara menuju hutan. Ia bertemu dengan seorang tua agar menuju arah tenggara (kelod Kangin).

Dalam pencariannya, I Bintang Lara bertemu dengan Ni Cili yang merupakan cucu dari seorang raksasa. Ni Cili ini amat berjasa dan berupaya menyembunyikan I Bintang Lara agar tidak sampai dimangsa oleh I Raksasa. Setelah tiba waktunya, I Bintang Lara disuruh mencari gagak putih ke timur laut. Ia pun berjalan dan bertemu dengan beberapa bidadari. Ingat dengan pesan Ni Cili agar mengambil selendang bidadari. Awalnya ada lima bidadari yang mandi. Datanglah lagi dua bidadari Gagarmayang dan bidadari Supraba. Selendang bidadari Supraba diambil hingga tidak bisa kembali ke surga. Mintalah I Bintang Lara pertolongan agar bidadari Supraba bisa membantu. Bidadari Supraba membantu dengan menusuk payudaranya dengan jarum emas hingga air susunya menetes diwadahi dengan batok kelapa emas (sibuh emas). Kembalilah I Bintang Lara bersama bidadari Supraba menuju kediaman Ni Cili. Melihat situasi tidak menguntungkan, maka I Bintang Lara dan bidadari Supraba disembunyikan oleh Ni Cili pada sebuah batu terbuka sampai tumbuh air susu bidadari Supraba menjadi gagak putih. Setelah cukup perlengkapan, terbanglah I Bintang Lara, Ni Cili, dan bidadari Supraba dengan menunggangi gagak putih. Raksasa bangun karena mencium bau manusia. Dikejarlah ketiganya. Raksasa mati setelah dilempari manik-manik milik dari raksasa.

Tiba di rumah, Men Bekung dan Pan Bekung kaget lantas menghadap kepada raja dan menghaturkan gagak petak. Permaisuri sembuh.  Raja jatuh hati pada Ni Cili dan bidadari Supraba. Beragam cara dilakukan. Akan tetapi, semua gagal. Akhirnya, raja mati karena sikapnya dan I Bintang Lara menggantikannya menjadi raja dan Ni Cili serta bidadari Supraba menjadi permaisurinya.

Mencari Kepastian dan Kekuasaan

Cerita rakyat ini memiliki relevansi dengan situasi kekinian. Sebuah tulisan bisa berdampak baik atau buruk bagi penulisnya. Sebuah tulisan bisa memberikan pencerahan dan juga bisa berdampak kurang baik bagi penulisnya. Maka orang-orang yang tertentu menaruh perhatian khusus terhadap sebuah tulisan. Cerita rakyat I Bintang Lara sebagai salah satu contoh yang tanpa sengaja menulis, justru menjadi awal petualangannya. Artinya, I Bintang Lara sebagai penulis berani mempertanggungjawabkan tulisannya. I Bintang Lara sosok penulis yang berani dan tegar menghadapi risiko dari pemikirannya  Perhatikan kutipan di bawah ini:

….Di subane I Bintang Lara kelih, mara antes mlali-lali, mlali kone ia di jaban purin Anake Agung, ditu lantas I Bintang Lara maplalian di bongkol tembok panyengker Anake Agung, tur ia nyurat di temboke, kene munyin suratne. ”Sajawaning gagak petak ja anggona nambanin rabin Ida Anake Agung tusing ia lakar kenak, yen gagak petak ja anggona nambanin janten kenak,” keto munyin suratne. Suud nyurat lantas ia mulih. (Setelah I Bintang Lara menginjak remaja, sudah waktunya bermain-main, bermainlah ia di luar halaman puri Anak Agung, di sana I Bintang Lara bermain-main di dekat tembok pembatas istana Anak Agung dan ia menulis di tembok istana, begini bunyi tulisannya. “Selain gagak putih yang dipakai mengobati permaisuri tidak akan sembuh, jika gagak putih yang dipakai mengobati pasti sembuh,” begitulah isi tulisannya. Selesai menulis seperti itu selanjutnya ia pulang)

Tulisan I Bintang Lara memang cukup berani karena dalam kenyataannya gagak pastilah berbulu hitam. Akan tetapi, I Bintang Lara berani menyatakan sebuah ketidakpastian dengan menyatakan ada gagak putih. I Bintang Lara seorang penulis yang mampu membalikkan ketidakpastian menjadi kepastian. Kelebihan-kelebihan inilah yang dimiliki oleh penulis seperti I Bintang Lara. Ia mampu membayangkan sesuatu yang ditulis pastilah ada. Karena setiap yang dipikirkan akan ada. Keberadaannya bisa nanti atau setelah sekian waktu berjalan. I Bintang Lara mampu meramalkan yang belum jelas. Akan tetapi, keyakinannya menyatakan bahwa yang ada pastilah akan tetap ada walaupun masih dalam pikiran.

Penulis seperti I Bintang Lara  patulah diancungi jempol. Ia tidak lari dari sebuah tanggung jawab. Ia tidak mau dikatakan menulis sebuah kebohongan (hoak). Ia berani mempertaruhkan jawanya sekalipun dan inilah semestinya sebagai seorang penulis. Ia tidak lagi mencari pembenar. Akan tetapi, menjalaninya hingga menemukan sebuah kebenaran dari pemikirannya. Ia gelisah dan terus mencari dari tulisannya.

Pertolongan dan tantangan diperoleh oleh seorang penulis seperti I Bintang Lara. Pertolongan pertama dari seorang tua (odah). Seorang tua yang menyadari bahwa anak muda seperti I Bintang Lara mengalami sebuah tantangan. Pertolongannya datang dan memberikan jalan keluar. Pertolongan kedua datang dari Ni Cili cucu dari seorang raksasa. Sebuah pelukisan tokoh yang kontradikdif. Dalam satu keluarga ada berkarakter raksasa seperti menindas, melakukan pembunuhan baik fisik maupun psikis. Segala atribut karakter raksasa. Akan tetapi, di dalam keluarga si raksasa, juga ada jiwa-jiwa suci seperti Ni Cili yang suka menolong dan memberi jalan. Orang-orang bijak mengatakan rwa bhinedha (dua hal yang berbeda) ada dalam kehidupan sebuah keluarga. Pertolongan ketiga datang dari bidadari Supraba yang sampai meninggalkan kehidupan kahyangan demi membantu sesama yang sedang mengalami derita.

Pernikahan bidadari dengan manusia juga dimunculkan, seperti kisah I Durma yang memiliki ayah Rajapala yang menikah dengan bidadari Ken Sulasih. I Bintang Lara setelah berhasil mengalahkan kesewenang-wenangan pemilik kuasa (Anake Agung), ia pun menikah dengan Ni Cili cucu seorang raksasa dan menikah dengan bidadari Supraba.

…. Tan cinarita di subane Anake Agung seda, critaang jani I Bintang Lara nyendenin dadi Anak Agung, tur Ni Supraba miwah Ni Cili lantas anggona kurenan. Ditu lantas I Bintang Lara nemu kasukan tan patandingan. (Tidak diceritakan setelah Anak Agung meninggal, ceritakan sekarang I Bintang Lara menggantikan menjadi Anak Agung, dan Ni Supraba serta Ni Cili dijadikan istrinya. Di sana I Bintang Lara mendapatkan kebahagiaan yang tiada taranya).

Cerita rakyat pada umumnya berakhir dengan kebahagiaan tokoh-tokohnya setelah mengalami sebuah tantangan. Inilah salah ciri khas dari cerita rakyat yang di dalamnya ada nilai-nilai pendidikannya bahwa untuk mendapatkan sesuatu perlu kerja keras dan semangat serta perjuangan yang tiada pernah putus seperti I Bintang Lara.