Balai Bahasa Bali menerbitkan sebuah kumpulan cerpen karya Gede Aries Pidrawan tahun 2016 dengan tajuk Perempuan Pumuja Batu. Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam kumpulan ini berjumlah enam belas buah cerpen mulai dari Kaung Bedolot, Bangkung Buang, Tangis Seorang Baluan, Keris, Doa, Perempuan Tulah, Perempuan Pemuja Batu, Tembang Tengah Malam, Maria, Nyai Bekung, Cip dan Ingatan-ingatan yang Memburu, Salim dan Kematian yang Menggemparkan Itu, Dalam Mimpi Seorang Algojo, Orang-orang yang Tergusur ke Gunung, Kala Rau, dan Gadis yang Bercerita pada Bulan.

Cerpen-cerpen pilihan Aries ini hampir semuanya sudah pernah dimuat di media massa bahkan ada yang memenangkan sebuah lomba, misalnya Kaung Bedolot. Perempuan dengan beragam problematika diungkapkan oleh Aries, misalnya perempuan yang hamil sebelum menikah, perempuan yang menjadi janda, dan kisah-kisah hidup perempuan Bali, misalnya perselingkuhan yang menyentuh kreativitas Aries Pidrawan. Kumpulan cerpen Perempuan Pemuja Batu mengisahkan perempuan Bali yang berada dalam bayang-bayang kuasa laki-laki ataupun perempuan atau pemegang kekuasaan. Di samping perempuan Bali belum berani mengambil keputusan dalam hidupnya, Aries juga mengungkapkan perempuan Bali yang berani bersikap meskipun tantangan dalam kehidupan kesehariannya.

Hegemoni

Hegomoni terungkap dalam kumpulan cerpen Perempuan Pemuja Batu. Hegemoni itu datang dari keluarga, dari orang-orang yang berada atau orang-orang berkuasa terhadap kehidupan seseorang. Perempuan Bali yang masih dalam bayang-bayang hegemoni memantik kreativitas Aries. Terwakilannya terungkap dengan cukup menarik. Kumpulan ini semacam keterwakilan hati Aries melihat kesewenang-wenangan terhadap kehidupan seseorang. Gambaran perempuan Bali yang belum mampu membebaskan kehidupannya menantang Aries hingga lahir dalam dalam kumpulan Perempuan Pemuja Batu.

Aries menangkap gejolak batin seorang perempuan Bali dalam menghadapi sebuah problematika hidup dan kehidupan sosial bermasyarakat. Katakanlah cerpen Bangkung Buang (hlm. 10) yang mengisahkan seorang perempuan dari wangsa Brahmana yang diusir oleh keluarganya karena hamil duluan. Problematika yang diungkapkan oleh Aries hanya pada pandangan orang-orang yang berada di luar tokoh. Gejolak batin tokoh (Sri) yang mengalami itu belum maksimal diungkapkan oleh Aries. Katakanlah jika sebutan Bangkung Buang itu sampai diketahui oleh tokoh Sri. Gejolak batinnya akan semakin kuat. Tokoh Sri dan laki-laki yang digambarkan bisa saja terjadi dalam kehidupan keseharian. Kemampuan Aries merekam problematika sosial amat baik.

Pernikahan dengan keris sebagai bagian dari penyelamat situasi sosial jika tidak jelas siapa laki-laki yang menghamili atau dengan pertimbangan-pertimbangan lain dari pihak keluarga. Cerpen Keris (hlm. 23) mengisahkan hal itu. Cuma ketidakberaniannya Dayu Santi dalam mengambil keputusan belum diungkapkan. Padahal, ia sudah menyatakan bahwa yang menghamili itu adalah Ngurah Parsua. Karena tekanan keluarga dan beragam kepentingan keluarga utamanya harta yang menyebabkan hati nurani Dayu Santi tidak berani berontak dengan keputusan Niang (neneknya). Kisah ini akan semakin menantang jika keberanian Dayu santi juga diperlihatkan. Bukan hanya sikap menerima saja.  Cerpen Keris (hlm. 23) yang intinya hampir mirip dengan cerpen Bangkung Buang. Ida Ayu Mahasanti hamil lebih sebelum menikah dihamili oleh Ngurah Parsua. Dayu Santi menikah dengan keris. Perlawanan tokoh yang  tertekan diakhiri oleh Aries dengan pembunuhan.

Menjadi seorang janda tentu bukanlah harapan bagi seorang perempuan Bali. Kesetiaan pada janji saat menikah itu lebih utama. Akan tetapi, jalan hidup manusia terkadang penuh misteri yang terkadang di luar dari harapan-harapan sebelumnya. Aries mengungkapkannya pada  Tangis Seorang Baluan (hlm. 17). Seorang janda (Sari) menjadi pelampiasan nafsu dari tokoh Pasek. Ketidakmampuan perempuan Bali dalam melawan kesewenang-wenangan dari sebuah hegomoni laki-laki tergambar dalam cerpen ini. Sari menjadi janda dan tidak bisa melepaskan dirinya dari kungkungan tokoh-tokoh yang menguasai hidupnya katakanlah Pasek….I Pasek terkenal kejam. Jika berteriak, pada akhirnya hanya menambah beban masalah. Pun jika orang-orang datang karena teriakan itu. Dapat dipastikan tak seorang pun akan mempercayai Sari. Tentu karena Sari janda (hlm. 19).

Cerpen Perempuan Tulah (38) juga mengisahkan percintaan klasik karena perbedaan wangsa, maka akan timbul derita dalam keluarga yang mengambilnya. Sebenarnya tema-tema seperti ini sudah terlalu sering diungkapkan oleh penulis Bali. Akan tetapi, kelebihan Aries mengungkapkan dengan cara khas menantang pembaca untuk mengikutinya:…”Bayu, sekarang sudah jelas kan maksud dari apa yang  meme bilang kemarin? Menikahi Dayu itu adalah tulah. Dayu hanya bisa menikah dengan sebangsanya. Kenapa kau tetap saja ngotot dan menuruti keinginannya? Sekarang rasakan, karena Dayu itu, bapakmu sakit. Ibu dan bapakmu dikucilkan oleh tetangga. Ibu dikatakan tidak tahu malu karena menikahkan anaknya dengan keturunan brahmana.”

Tidak hanya perempuan Bali yang berada dalam bayang-bayang hegemoni memantik Aries. Perempuan Bali yang ulet bekerja demi melanjutkan kehidupan sosial-kemasyarakatannya juga mengispirasi Aries. Cerpen Doa (hlm. 32) memberikan ilustrasi yang cukup indah bahwa perempuan Bali tidak hanya pasrah terhadap sebuah hegemoni, ia juga bisa menunjukkan eksistensinya sebagai perempuan Bali yang mandiri. Luh Sari dalam cerpen Doa dikisahkan mampu melanjutkan kehidupannya berkat kebesaran Tuhan:… Tuhan telah menunjukkkan jalannya untukku,” bisik hati Luh Sari lagi. “Tuhan memang telah menunjukkan jalannya untukku.” Luh Sari berteriak, kemudian berlari, mengejar ninik untuk membantunya menjinjing kain mute.

Aries melakukan pencarian kreatif dalam problematika sosial yang ada di Bali. Pernikahan dengan beragam suka-dukanya memantik kreativitasnya. Perempuan Bali yang mengalami beberapa problematika hidup diungkapkannya cukup menarik hingga menarik pembaca untuk mengikuti jalan kisahnya. Hegemoni perempuan Bali tersirat dalam batin tokoh-tokoh cerpen Aries.