Hatimu Sebatang Pohon itulah tajuk untuk kumpulan Gde Artawan yang diterbitkan Mahima Institute Indonesia, Juni 2017. Menilik judulnya, sepertinya Artawan melukiskan sebuah filsafat pohon. Pohon yang tidak pernah meminta, pohon yang selalu memberi kesejukan pada kehidupan. Sebuah pohon semakin tua akan memperlihatkan energinya pada sesama. Akan tetapi, jika masuk ke dalam puisi-puisnya tampak kegelisahan kreatifnya lebih bertumpu pada nada-nada kesedihan, kemuraman dan juga pertemuannya dengan Sang Khalik. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan karya cerpennya, misalnya dalam kumpulan cerpen Petarung Jambul. Nada protes dan kemualan terhadap problematika sosial amat tampak. Gelisahnya Artawan dalam Hatimu Sebatang Pohon lebih banyak menuju pada diri, ke dalam hati. Mungkin Artawan, ingin menyatakan setelah keluar perlu melihat sisi dalam dari gejolak jiwanya.

Nada kesedihan dapat dirangkai dengan beberapa kata. Artawan teramat sering menggunakan pilihan kata air mata. Ini sebagai tanda bahwa kesedihan dan kemuraman dirasakannya mendera jalan hidupnya. Dalam catatan penulis ada  beberapa puisi yang memilih kata, air mata. Misalnya, Puisi Kita Berebahan (hlm. 7). …/yang tak beraturan/ dengan kesetiaan air mata/…//. Puisi Merenung Sendiri, (hlm. 26) …/sajakku kemarau, sajakku selalu lelah/ aku perlu api air matamu/…//. Puisi Hatimu Sebatang Pohon, (hlm. 40), …/tak peduli air matamu mendera menjadi banjir bandang/…//. Puisi Hatimu Sebatang Pohon III, (hlm. 42) air matamu menyejukkan/ aku bermimpi sesuap nasi/ dari hasil jualan ibu//…//. Puisi Memanggil Bayang Remang-remang, (hlm. 64), …/air mata air mata siapa yang netes/ saat puja dan puji dialirkan/...//. Puisi Berlayar ke Teluk, (hlm. 66), …/ke arah pulau gugusan air mata/…//. Puisi Suatu Siang, (hlm.71), suatu siang itu cuaca didesak/ kepulan asap kemenyan yang dibakar/ tersiram air matamu/…//. Puisi Air Mataku, (hlm. 78), air mataku selalu menolak sendu/ seperti sejumlah titik embun/…//. Puisi Pada Gerak Bibirmu, (hlm. 91), …/ dengan larik puisi air mata/ yang tak pernah selesai//. Pilihan kata, air mata yang digunakan Artawan tentulah dengan konteks yang berbeda-beda meskipun pada dasarnya menyiratkan kesedihan. Kesedihan karena hatinya gundah gulana, kesedihan karena belum sempat berjumpa sang “Terkasih”, beragam kemungkinan yang bisa dimaknai lewat kata air mata.

Kemuraman Menuju Jalan Sunyi

Jika dicermati nada kemuraman bisa ditemukan dalam judul-judul puisi yang dipilih oleh Artawan. Misalnya, Menyurat Duka (hlm. 5), Kekasih Malam (hlm. 23), Lukisan Senja (hlm. 24), Memanggil Bayang Remang-remang (hlm. 64). Kemuramannya karena melihat ketidakpastian. Artawan mengungkapkannya seperti ini:…/ lalu masih berartikah memuja renung/ Menepikan takdir?/ jika kita tak sujud pada para ibu/ tak lagi meremah susunya/ takkan terbayar hutang yang bergerak serupa jarum jam/ detaknya perlahan serupa genting genta di lintasan burung sukma// . Kutipan puisi Menyurat Duka di atas mengungkapkan agar rasa hormat terhadap seorang ibu. Ibu dalam konsep Artawan bisa ibu kandung, bisa ibu bumi yang selalu memberi kasihnya. Artawan menyadari tidak akan mampu membayar kasih seorang ibu yang telah melahirkan dan ibu yang memberinya kehidupan lebih-lebih ibu bumi yang tidak pernah membeda-bedakan kasihnya.

Dalam puisi Kekasih Malam ada ketegaran dari Artawan dalam keperihan yang dirasakannya: Aku tak ingin bicara soal luka/karena perih di hati terus merajalela/ ku tak ingin bicara luka pegunungan/ di tubuhmu karena luka di hati/ siap menyemburkan larva/..//. Derita dan kegundahan Artawan terwakili dalam puisi ini. Keperihannya amat mendalam, amat mendesak yang siap-siap untuk meledak. Akan tetapi, ketegaran jiwa dan batinnya mampu menghadapinya.

Lukisan Senja (hlm. 24) dimulai dengan: Di gurat daun, senja menyapa/”perjalanan hari ini sudahkah menapak lelah?”// Mungkin senja tak dipercepat musim merana/…//. Kutipan puisi Lukisan Senja terbayang akan masa tua, masa-masa menuju kepada Sang Khalik. Perjalanan hidup manusia terikat waktu. Perjalanan hidup yang dirasakannya belum optimal karena masih menanyakan “perjalanan hari ini sudahkah menapak lelah?” Ada ketidakyakinan akan usaha yang dilakukannya.

Puisi Bayang Remang-remang (hlm. 64), pada bait terakhir menuliskan seperti ini: …// hanya secarik sisa cerita muram/ kubawa lintas rimba sujudku//. Kemuraman yang masih dimilikinya dalam hidupnya disampaikannya kepada Sang Khalik. Pengaduanya kepada sang Pemilik Jiwa, sang Pemilik Ruh bahwa derita batinnya perlu dicerahkan. Ada kerendahan hatian Artawan dalam menyikapi jalan hidupnya mungkin membayangkan remang-remang dari kehidupan.

Gde Artawan juga berupaya mencari kesunyian karena dalam kesunyian itulah bisa melihat hakikat sang diri secara lebih intens, misalnya, puisi Di Kesunyian (hlm. 36): Di kesunyian aku mencoba kembali/ membaca isyarat demi isyarat/…//. Ini kelebihan Artawan bisa menerka isyarat alam tentang asal mula. Salah satu puisi yang ekspresif terdapat pada puisi Dialog Sunyi (hlm. 44) : Sunyi itu abadi/ Menikam diri bertubi-tubi//…//. Puisi memiliki kekuatan tidak hanya pada rima juga pada pilihan kata menikam. Yang menikam itu sunyi. Judulnya juga menarik Dialog Sunyi. Dalam sunyi bisa berdialog. Dialog batinnya mengenai suka duka hidupnya. Artawan terus berupaya agar bisa mendekatkan batinya pada Pemilik Sunyi, hening. Dalam keheningan batin tampaklah diri yang sebenarnya. Puisi Bersujud Saat Purnama (hlm. 49) menyuratkan begini: aku bersujud dalam hening/ serpihan hujan purnama/ ubun-ubun tetap terbuka/ dari kepala yang rapuh/ perjalanan tanah yang ditutup kemarau/…//. Artawan selalu berupaya agar bisa merasakan keheningan batinnya, larik /ubun-ubun tetap terbuka/ menandakan bahwa ada ruang mistis yang bisa dirasakannya walaupun ia menyadari bahwa dirinya (kepalanya) rapuh, yang terkadang lupa dengan sang diri yang bersemayam dalam tubuhnya.

Puisi-puisi Gde Artawan mampu membangkitkan kesadaran diri dalam pencarian Sang Diri. Meskipun, kesedihan, kemuraman, dan kegelapan tidak mungkin bisa dipisahkan dalam kehidupan, Artawan tetap berupaya agar bisa mendekatkan dirinya pada Sang Khalik. Kesadaran itu tumbuh saat-saat dalam kesendiriannya, saat hatinya bening dan sunyi. Puisi-puisinya lebih mencari pada titik-titik terdalam dari batin manusia.