Guru dikatakan sebagai panutan jika mampu memberikan contoh-contoh yang bisa mencerahkan hati nurani peserta didk. Guru teladan bagi peserta didik. Guru contoh terdekat yang selalu diharapkan memberikan tuntunan ke arah yang lebih baik. Guru menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter mulia pada peserta didik. Tugas mulia ini perlu dihayati dan diamalkan bagi guru. Guru akan dipandang sebelah mata jika menyimpang dari perilaku seorang pendidik. Amat disayangkan memang jika ada oknum guru yang mencederai hakikat dirinya sebagai seorang guru. Tata pergaulan perlu dicermati hingga hal-hal tidak diharapkan bisa terhindarkan.

Guru tidak akan bernilai lebih di mata peserta didik jika belum mampu menjadikan dirinya teladan.  Maka wajarlah ada ungkapan guru kencing berdiri, murid kencing berlari.  Ungkapan yang memberikan permenungan agar seorang guru selalu menjaga hakikat dirinya sebagai orang dewasa yang memiliki kematangan emosional dan kematangan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Guru tidak bisa melepaskan dirinya di mata peserta didik. Tanpa adanya peserta didik, maka belum lengkaplah disebut guru. Guru yang bertajuk pemberi pencerah diharapkan menerangi ketidasadaran peserta didik.

Kedisiplinan guru dalam pembelajaran, menerapkan waktu yang efektif akan menjadi pembiasaan yang amat baik bagi peserta didik. Kebiasaan-kebiasaan positif yang ditanamkan guru akan terekam secara sistematis dalam memori peserta didik. Peserta didik akan merasakan bahwa dirinya memiliki figur dalam perkembangan kepribadiaannya.

Peserta didik sebagai subjek dalam pembelajaran. Untuk itu, guru diharapkan mampu menggali dan mengembangkan potensinya hingga mencapai titik optimal. Guru dalam konsep ini berupaya terus mengkreatifkan dirinya dan juga berupaya maksimal mengkreatifkan peserta didik. Semangat kreatif yang hadir di tengah-tengah proses pembelajaran memberikan ruang belajar baru bagi anak-anak bangsa.

Membangun Kepribadian Positif

Perkembangan kepribadian peserta didik akan terus mengalami perubahan. Faktor-faktor yang berpengaruh baik secara internal dari dalam dirinya, misalnya bakat, minat, dan kematangan emosionalnya, maupun eksternal dari luar dirinya, misalnya faktor orang tua, keluarga, dan lingkungan sosialnya. Faktor internal yang berada di dalam diri peserta didik bisa jadi tidak berterima dengan yang berada di luar dirinya hingga bisa terjadi benturan-benturan dalam sikap dan perilakunya. Seorang guru diharapkan selalu berupaya menanamkan nilai-nilai kejujuran, kebersamaa, kesetiakawanan, kesopanan dan kesusilaan (Mariana, 2016) hingga kepribadiannya bertumbuh secara optimal.

Perilaku guru secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian peserta didik. Maka wajarlah jika seorang peserta didik mengidolakan gurunya. Guru-guru seperti ini umumnya memiliki kekhasan dalam proses pembelajaran. Nasihat-nasihat, tuntunan, dan panutan yang dilihat secara langsung oleh peserta didik menyentuh hati nurani peserta didik. Berkesinambungan menumbuhkan kepribadian peserta didik menjadikannya menemukan hakikat dirinya sebagai manusia yang berakhlak mulia. Peserta didik seperti ini sebagai generasi yang menjaga moral bangsa. Seorang guru tentulah tidak akan berdiam diri jika melihat anak didiknya menyimpang dari norma-norma yang berlaku. Karena tidak jarang, anak-anak bangsa yang menyimpang dari norma-norma, bisa sadar kembali setelah dinasihati oleh sang guru. Guru-guru seperti ini akan selalu dikenang oleh peserta didik. Ucapan terima kasih pada seorang guru, terwujud dengan keberhasilan peserta didik menjalani kehidupannya.

Setiap langkah guru menjadi panutan bagi peserta didik. Guru selalu berupaya agar anak didiknya melangkah lebih baik dari sebelumnya. Guru mencerahkan kesadaran peserta didik akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai generasi penerus bangsa. Kepribadian peserta didik berpengaruh positif terhadap keberlangsungannya dalam menjalani kehidupan sosialnya sebagai warga masyarakat.