Jika membaca geguritan Burayut akan timbul sebuah pertanyaan. Mengapa perempuan Burayut bisa mendidik dan membesarkan anak-anaknya yang delapan belas orang itu? Sedangkan nama-nama Bali saja empat (Gede, Made, Nyoman, dan Ketut). Bahkan sekarang semakin berkurang karena KB berhasil di Bali ( Nyoman dan Ketut) mulai tidak muncul lagi. Perempuan Burayut bisa menata kehidupan keluarganya tentu dengan beragam tantangan yang harus dimenangkan olehnya agar bisa menghidupi anak-anaknya. Delapan belas anak yang dilahirkan oleh perempuan Burayut. Luar biasa. Jika dilihat dari ukuran sekarang ini. Betapa ramainya keluarga Burayut.Jika dibentang di dalam sebuah lingkaran (windu) dibuat garis tegak lurus, mendatar, dan menyilang sepertinya setiap sudut rumah akan berdiri anak-anak Burayut.

Kedelapan belas itu bisa meraih kesuksesan dalam meraih cita-cita. Dan mengapa pengarang memilih angka delapan belas? Apakah ini ada kaitannya dengan delapan belas huruf Bali (Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Ma, Ga, Ba, Nga, Pa, Ja, Ya, Nya). Apakah ada juga Nawa Sanga. Nawa bermakna sembilan, sanga bermakna sembilan jika dijumlahkan juga berangka delapan belas (1 + 8 = 9). Angka tertinggi. Hebatnya pengarang Bali memberikan ruang untuk berkontemplasi.

Jika melihat dari ungkapan di atas, wajarlah dikatakan bahwa kisah Dadong Burayut sebagai sebuah simbol kesuburan. Kesuburan tidak hanya secara material, juga kesuburan spiritual. Dadong Burayut memberikan kemungkinan bahwa anak-anak yang didik dengan kasih sayang akan melahirkan sebuah kebahagian bagi orang tuanya. Dadong Burayut Candidasa memberikan ruang kesuburan itu. Yang berada di lereng bukit Candidasa, di atasnya ada pura sebagai pemujaan Siwa. Purusha-Pradana justru terwujud di Candidasa.

Tanda dari kesuburan itu amat sederhana. Muncullah mata air yang memberikan kesejukan bagi setiap insan manusia. Ada yang mengatakan bahwa di alam ini Bhuwana agung-Bhuwana alit) 80% unsurnya adalah cair. Itu artinya unsur air ada di dalamnya. Mata air yang tidak pernah kering. Itu artinya subur, jadilah sebuah ranu kecik (danau kecil) yang memancarkan keindahan dengan beragam bunga tunjung (padma). Sebuah bunga yang akarnya di lumpur, bunganya menyembul di atas air. Lontar-lontar tutur mengatakan bahwa bunga padma adalah setana dari Sanghyang Widhi. Indah sekali. Yang lebih menggugah hati di tengah ranu kecik ada sebuah gili. Yang jika upacara akan dibuatkan jembatan sehingga para pemuja-Nya bisa hadir di tengah-tengah gili. Gili yang dikitari dengan bunga tunjung (padma). Keharuman hati pemuja-Nya dikitari dengan harumnya tunjung (padma) yang dihembuskan angin semilir. Mahaharum menunggal di tengah gili. Gili bisa juga dipersonifikasikan sebagai Purusha dan ranu sebagai pradana. Luar biasa tetua Bali menata keindahan Candidasa. Di darat ada Siwa-Dewi Kesuburan (Hariti). Di depannya gili dan ranu.Tidak hanya itu saja, di tengah lautan pun ada beberapa gili yang menampilkan keindahan saat dibentur-bentur deburan ombak, yang menyatukan purusha-pradana.

Maka perempuan Gedong pun menyemaikan Gandhi yang memberikan kesuburan batin bagi pengikutnya. Kesuburan mengalir di Candidasa. Memberikan ruang kontemplatif bagi pencari keindahan. Penyatuan Purusha-Pradana terjadi di Candidasa. Candidasa sebagai candi-candi hati memberikan ruang kedas (murni) bagi hati, jiwa, dan batin. Ruang keindahan yang masih tersisa dalam gempuran material yang terkadang melenakan hati dan diri.