Bersyukur Lahir sebagai Manusia

IBW Widiasa Keniten

 

Lahir sebagai manusia patutlah disyukuri. Rasa bersukur itu dengan selalu berjalan pada koridor kebenaran. Jika ditilik alam ini dihuni oleh wong sato, mina, manuk, taru, buku (manusia, satwa, ikan, burung, tatanaman, tumbuhan berbuku). Karma-karma sucilah yang patut dibangun di dunia walau susah, lebih baik berbuat baik daripada tidak.

Hindu memberikan tuntunan agar selalu belajar mengahargai kehidupan. Kesombongan tidak akan memberikan nilai lebih dalam kehidupan justru akan mengurangi harkat dan martabat sebagai manusia Hindu yang mengutamakan nilai-nilai kesucian. Nilai-nilai aku adalah engkau dan engkau adalah aku seakan-akan memberikan potret kita pada sesama. Menghormati sesama tidak dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan status sosial, ekonomi, agama, keyakinan, pangkat maupun golngan. Nilai-nilai tat twam asi ini perlu terus digemakan hingga ke-shanti-an terwujud di muka bumi.

Merendahkan orang lain sebenarnya merendahkan dirinya sebagai manusia yang beradab dan berbudaya. Sehina apapun orang, ia adalah ciptaan Sanghyang Widhi. Hindu memberikan rambu-rambu agar menjauhkan diri dari kemabukan (mabuk karena harta, mabuk karena kacantikan, mabuk karena kepintaran, mabuk karena status sosial). Orang yang tidak mabuk sudah pantas disebut dengan Mahardika.

Sarasamuccaya menyuratkan:Apan iking janma mangke, pagawayan ṡubhȃkarma juga ya, iking ri pȇna abhuktyan karmaphala ika, kalinganya, ikang ṡubhȃṡubhȃkarma mangke ri pȇna ika an kabukti phalanya, ri pȇgatni kabhutyanya, mangjanma ta ya muwah, tủmủta wȃsanȃning karmaphala, wȃsanȃ ngaraning sangakȃra, turahning ambemȃtra, ya tinủting paribhȃsȃ, swargacyuta, narakacyuta, kunang ikang ṡubhȃṡubhȃkarma ri pȇna, tan paphala ika, matangnyan mangke juga pȇngpӧnga ṡubhȃ aṡubhȃkarma.(Sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini adalah kesempatan melakukan kerja baik ataupun kerja buruk, yang hasilnya akan dinikmati di akhirat, artinya, kerja baik ataupun kerja buruk sekarang ini, di akhirat sesungguhnya dikecap akab buah hasilnya itu, setelah selesai menikmatinya, menitislah pengecap itu lagi, maka turutlah bekas-bekas hasil perbuatannya, wasana disebut sangakara, sisa-sisa yang tinggal sedikit dari bau sesuatu yang masih bekas-bekasnya saja, yang diikuti penghukuman, yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah neraka, adapun perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan di akhirat, tidaklah itu berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang ini).

Kutipan di atas memberikan rambu-rambu agar selalu berupaya sesuai dengan norma-norma agama, sosial, dan budaya hingga diharapkan karma-karma baik selalu bertumbuh dalam diri. Waktu kelahiran yang amat singkat (akedep tatit) ini hendaknya diupayakan berjalan di jalan yang benar. Hidup memang banyak tantangan dan godaan. Sudah menjadi tanda bahwa setiap melangkah pada yang baik dan benar akan datang godaan-godaan dalam hidup. Sebagai manusia yang memiliki wiweka diharapkan bisa memilah dan memilih jalan yang benar. Mengasihi sesama, mencintai kehidupan, dan mendermakan hidup adalah bagian dari upaya mendekatkan diri kepada kebenaran sehingga sinar-sinar kesucian selalu hadir dalam setiap melangkah. Menyia-nyiakan hidup yang sudah singkat ini dengan perbuatan yang mencederai kehidupan tidak akan ada manfaatnya.

Secara tidak langsung berbuat baik di dunia ini akan memberikan nilai kesucian pada leluhur. Kawitan (leluhur) akan merasa bersedih jika pratisentanenya (keturunannya) menyimpang dari garis-garis mulia yang ditanamkan di alam ini. Upaya-upaya bersikap, berbuat, dan berkata yang memberikan pencerahan hendaknya dihidupkan sepanjang hidup di dunia ini. Kita tidak tahu kapan akan dipanggil oleh Sanghyang Widhi. Kesempatan yang diberikan Sanghyang Widhi hendaknya dijalankan dengan kesucian, ketulusan, dan kedamaian hingga hidup menjadi lebih bermartabat. Kekayaan dan kekuasaan tidak akan mampu mengubah karma-karma yang kurang baik. Mulailah melihat diri selama ini apa yang sudah didarmabaktikan dalam kehidupan hingga jika Tuhan memanggil langkah menuju keabadian akan semakin ringan. Sinar-sinar suci akan hadir dan mencerahkan menuju Sangkan Paraning dumadhi.