Bersahabat dengan buku perlu terus digelorakan seirama dengan pembudayaan literasi (keberaksaraan). Keberadaan buku  pada negara-negara yang sudah mapan dengan perbukuan, amat diperhatikan. Buku-buku tua diselamatkan, buku-buku baru dan modern diciptakan hingga bangsanya terus bersemangat untuk maju dan belajar.

Sebuah buku merekam perjalanan pemikiran anak-anak bangsanya. Buku membuka kisah bangsa masa lampau yang bisa dijadikan jembatan ke masa depan. Buku mencatat pemikiran-pemikiran anak-anak  bangsa. Buku menyatakan dirinya sebagai bangsa terpelajar.

Pengenalan buku dalam dunia pendidikan merupakan sebuah keharusan. Membiasakan peserta didik mencintai buku sebagai sebuah langkah awal menuju bangsa yang cerdas. Peserta didik aset bangsa perlu terbiasa dengan buku. Buku bukan lagi sebuah barang yang menakutkan untuk dikenali dan dibaca tentunya. Peserta didik yang cinta buku sebenarnya mencintai masa depannya dan masa depan bangsanya.Keberadaan buku terus berkembang baik jumlah maupun cetakannya. Sekarang buku tidak hanya konvensional juga digital. Hal ini patut disyukuri karena secara tidak langsung mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan. Buku sebagai bagian dari kehidupan masyarakat digital. Kegemaran untuk membacanya perlu dibiasakan.

Memantik Membaca Buku

Dunia pendidikan selalu berkembang dengan cukup pesat. Pendidikan konvensional bersaing dengan pendidikan digital. Dunia pendidikan yang belum memaksimal buku baik digital maupun konvensional tentu akan selalu tertinggal. Harus diakui semangat membaca perlu kerja keras untuk membangunnya, tidak hanya pemerintah lembaga-lembaga swasta dan lembaga terkait lainnya ada keterpanggilan untuk memantik semangat membaca buku. Menjadikan buku sebagai sahabat yang paling setia.

Pojok-pojok buku atau taman-taman buku perlu dibangun dalam sebuah sekolah. Sekolah tidak cukup mengandalkan perpustakaan sekolah saja. Ruang-ruang baca perlu diperbanyak hingga keterpilihan terhadap bacaan semakin beragam. Guru dan peserta didik bisa terlibat secara intens dalam membaca. Guru  tidak hanya memberi tahu agar peserta didik gemar membaca buku. Akan tetapi, contoh yang dilihat secara langsung oleh peserta didik. Tidak semua lembaga pendidikan memiliki perpustakaan yang representatif. Bukanlah berarti semangat membangun kebiasaan membaca buku berhenti bagi seorang guru. Guru memiliki tanggung jawab moral untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Upaya-upaya sekecil apapun demi kemajuan anak-anak bangsa anak tercatat dan ternilai di hati peserta didik. Langkah guru terlihat setelah satu dekade. Tidak serta merta hasilnya.

Ruang-ruang kosong atau pojok-pojok kelas yang belum diberdayakan bisa diubah menjadi ruang baca dan ruang diskusi antara peserta didik maupun guru. Guru yang diketahui gemar membaca buku bisa jadi akan dihadiahi buku oleh peserta didik. Secara tidak langsung sebenarnya peserta didik juga menilai gurunya mengenai buku-buku yang dibaca. Jika ini sampai tampak di dalam sebuah lembaga pendidikan boleh dikatakan kerja sama antara guru dan peserta didik sudah berjalan optimal. Bahkan jika memungkinkan antara guru dan peserta didik saling tukar buku. Jalinan emosional guru dan peserta didik terbangun dengan baik.

Lomba Baca Buku

Pemberdayaan literasi peserta didik agar semakin mencintai buku salah satu yang paling mudah adalah lomba membaca buku. Lomba-lomba semacam ini bisa berkaitan dengan ulang tahun sekolah, hari-hari besar, atau guru sendiri berinisiatif mengadakan lomba baca buku sesuai dengan bidang studinya. Hadiahnya dengan memberi buku baru. Lomba baca akan menjadikan peserta didik (1) selalu berupaya menambah koleksi bukunya; (2) menumbuhkan budaya berkompetisi secara sehat; (3) memperkaya ilmu pengetahuan yang sudah dimilikinya; (4) menumbuhkan rasa ingin tahunya; (5) memanfaatkan waktu belajarnya secara lebih efektif;  (6) belajar menghormati pemikiran dari penulis buku.

Lomba baca buku sebagai dasar meningkatkan kompetensinya untuk menulis. Tulisan-tulisan yang dibuat oleh peserta didik akan semakin bermakna dan berisi dibandingkan tanpa pernah membaca buku secara intensif. Peserta didik memiliki kemampuan untuk selalu menambah keberagaman informasi dan guru memiliki kewajiban menjebatani dan memberikan ruang agar anak-anak bangsa ke depan nantinya menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya.

Bersahabat dengan buku membuat bangsa ini semakin dipandang sebagai bangsa yang terpelajar. Anak-anak bangsa perlu dibekali kebiasaan gemar membaca beragam buku. Buku memberikan infomasi tentang keberagaman ilmu penegtahuan. Guru berkewajiban menumbuhkan kecintaan peserta didik pada buku. Bangsa terpelajar dipandang dari budaya membaca buku.