Belajar tidak dibatasi oleh usia, waktu, dan juga tempat. Wahana belajar terbentang luas dalam kehidupan modern sekarang ini. Guru pun tentu selalu berupaya membelajarkan dirinya hingga ilmu pengetahuan yang dimilikinya selalu terbarukan. Guru tidak bisa berbangga dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya saat di bangku kuliah. Guru hendaknya tetap memiliki semangat untuk memajukan dirinya agar seirama dengan ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini.

Perkembangan ipteks sebagai tantangan tersendiri bagi guru-guru yang berusia lima puluh tahun ke atas. Terkadang dengan nada guyonan dikatakan gatek (gagap teknologi), TBC (Tidak Bisa Komputer), guyonan seperti itu tentu tanpa alasan karena kenyataan menunjukkan bahwa ada guru-guru yang mengalami hal itu. Sebenarnya guyonan itu bisa dijadikan cambuk bagi guru untuk selalu belajar dan membelajarkan dirinya dengan lebih banyak bertanya pada yang lebih tahu atau lebih muda. Peserta didik pun bisa dijadikan teman untuk belajar ipteks. Ini juga sebagai sarana perekat jalinan guru dengan peserta didik. Kumonikasi kecil seperti ini secara tidak langsung bisa memotivasi peserta didik untuk selalu belajar tentang ilmu pengetahuan khususnya ipteks.

Guru akan semakin bisa memahami peserta didik melalui kedekatan kumonikasinya. Hal ini tidak akan mengurangi wibawanya sebagai seorang guru justru bisa melekatkan tali kasihnya sebagai seorang pendidik yang tetap mengedepankan sendi-sendi moral-humanistis. Peserta didik yang dimintai bantuan seperti ini akan merasa dirinya memiliki nilai lebih dan penghargaan itu diberikan dari gurunya. Guru membangun dan menciptakan suasana yang bersahabat, yang membuat peserta didik merasa aman, nyaman, dan tidak menakutkan (E.C. Wrag, 1996).

Literasi Guru-Siswa

Banyak hal yang bisa dipelajari guru dari peserta didik. Guru bisa belajar untuk mengelola waktunya untuk belajar dalam bahasa sekarang meningkatkan literasinya. Literasi ini tentu tidak hanya ditujukan pada peserta didik. Guru pun tertantang untuk selalu meningkatkan kompetensi literasinya baik baca maupun tulis. Peserta didik yang literasinya sudah bagus tidak jarang membutuhkan seorang guru yang akan diajak berdiskusi mengenai sumber-sumber bacaannya. Dalam hal ini, guru tidak bisa berdiam diri. Guru paling tidak bisa memperlihatkan nilai lebih di hadapan peserta didik. Guru mendekatkan dirinya dengan budaya literasi hingga anak didiknya semakin segan terhadap gurunya.

Lima belas menit melakukan kegiatan literasi tentulah waktu yang amat singkat. Langkah awal literasi ini bisa ditingkatkan waktunya dan mengefektifkannya. Semangat membaca yang dilakukan oleh peserta didik bisa menyemangati guru untuk lebih meningkatkan literasinya. Keberagaman sumber belajar dan adanya ajang diskusi untuk sebuah bahan bacaan menjadikan ruang-ruang belajar semakin kondusif, penuh dinamika untuk saling mengisi dan saling memperkaya diri. Guru yang kreatif dan memberdayakan dirinya memberi semangat pada anak didiknya. Ada persaingan positif- kreatif antara guru dan peserta didik.

Peserta didik memiliki jadwal belajar. Jadwal belajar yang dibuat sekolah tentu dengan mempertimbangkan sisi-sisi psikologis peserta didik hingga ada kenyamanan dalam belajar. Guru perlu juga memiliki jadwal untuk membaca. Jadwal ini bisa secara tertulis bisa juga tidak. Misalnya, dalam satu minggu buku apa yang dibaca dan jika memungkinkan membuat sedikit catatan mengenai buku yang dibaca. Menjadwalkan diri dalam membaca buku bisa memberikan motivasi bagi guru untuk menata waktunya. Bila memungkinkan menyampaikan buku yang dibaca dalam satu minggu dan menginformasikan sedikit isinya pada peserta didik. Hal ini meningkatkan kepercayaan peserta didik pada gurunya. Anak didik bisa termotivasi untuk mencari tahu buku yang dibaca oleh gurunya.

Waktu membelajarkan diri perlu ditata dengan cermat hingga upaya-upaya menambah ilmu pengetahuan bagi guru tetap ada. Guru bisa belajar banyak hal dari peserta didik. Kedisiplinan mengatur waktu belajarnya. Keingintahuan peserta didik terhadap sumber-sumber bacaan akan bisa memotivasi guru agar bisa menyediakannya. Adanya kumonikasi yang harmonis antara guru dan peserta didik, menjadikan guru memiliki nilai lebih di mata peserta didik. Belajar pada peserta didik tidak akan mengurangi wibawa guru. Guru bersemangat belajar bisa meningkatkan semangat peserta didik untuk belajar juga. Ilmu pengetahuan terus berkembang dan guru dituntut untuk mengikutinya hingga ilmunya tetap terbarukan. Ilmu pengetahuan itu mengaharumkan bagi pemiliknya.