Dalam konsep Hindu ada empat jalan memuja Tuhan (Sanghyang Widhi Wasa), yang sering disebut dengan catur marga terdiri atas (1) bakti marga, (2) karma marga, (3) jnana marga, dan (4) raja marga. Keempat jalan ini bisa dipilih sesuai dengan kemampuan dan kemauan dari pemuja Tuhan. Ada lewat bakti persembahan, ada lewat perilaku melayani umat, ada lewat ilmu pengetahuan, dan ada lewat yoga semadi. Keempatnya memiliki ciri tersendiri yang memberikan kesempatan bagi pemuja untuk mendekati Tuhan. Inilah kebebasan untuk memilih sesuai dengan keyakinan dari pemujanya menuju Tuhan.

Bagus Diarsa justru memilihnya menjadi seorang bebotoh (penjudi sabungan ayam) memuja Tuhannya. Kelihatannya memang agak aneh. Akan tetapi, setelah direnungi, ternyata dalam keseharian hidup manusia terjadi pertaruhan beragam keinginan yang selalu bergerak dan bergolak. Pertaruhan itu hendaknya bisa dimenangkan. Pengarang menggunakan ayam aduan. Ayam sebagai simbol sifat-sifat rajas bagian dari tri guna (satwan, rajas, dan tamas). Sifat-sifat rajas dan tamas ini perlu penyadaran (satwam) hingga tidak lagi merajai kehidupan manusia, pengarang mengalahkan sosok raja dalam sebuah pertaruhan. Cerita rakyat Bagus Diarsa yang dimuat dalam buku Satua-satua Bali (VIII), dicetak oleh toko buku Indra Jaya, Singaraja, 1994, ditulis oleh I Nengah Tinggen menyiratkan hal itu.

Jiwa Welas Asih

Sebuah langkah yang dilakukan Bagus Diarsa dengan menguji dirinya. Ujian pertama memasuki sebuah warung makan sederhana yang pertama ia temukan adalah bau kurang sedap. Mengapa justru bau? Bau langsung berkomunikasi dengan manusia lewat pernafasan masuk dan keluar. Nafas ini perlu diolah hingga menjadi sebuah penyadaran diri. Bagus Diarsa mamasuki ruang pernafasan dan ia bertemu dengan seorang pengemis yang meminta sisa-sisa makanannya. Etika orang Bali tidak akan memberikan sisa makanannya pada orang lain. Bagus Diarsa tentu paham benar dengan etika itu. Sehina apapun manusia, ia tetap sama di hadapan Sanghyang Widhi  (Tuhan). Penghargaan terhadap jiwa-jiwa (atma) inilah dipegang dan dihayati oleh Bagus Diarsa. Perhatikan kutipan di bawah ini.

…. I Bagus Diarsa lantas masaut, “Nguda carikan arsaang jerone, mriki munggah, tiang numbasang ragane ajengan.” (I Bagus Diarsa selanjutnya berkata, “Mengapa sisa makanan yang Tuan minta, ayo ke sini, saya membelikan Tuan nasi).

Sebuah sikap belajar berbagi dihadirkan pengarang lewat Bagus Diarsa. Bagus Diarsa berupaya agar orang-orang yang bernasib kurang bagus tetap diperhatikan dan dihargai sebagai manusia yang bermartabat. Rasa welas asih Bagus Diarsa timbul dari kedalaman hatinya. Peminta-minta itu juga diajaknya ke rumahnya dan dilayani dengan tulus ikhlas. Tanpa mengatakan tulus ikhlas. Akan tetapi, Bagus Diarsa menjalankannya makna kata tulus ikhlas itu.

Pengorbanan Bagus Diarsa terus diuji. Keadaaan ekonomi yang kurang mendukung menjadikannya bisa merasakan kehidupan manusia yang berada di garis kemiskinan.  Ayam peliharaannya pun dijual demi memberikan pelayanan pada sesama. Jiwa-jiwa murni yang selalu melayani sesama: …. I Bagus Diarsa buin ngomong. “Nah yan sing nu, kema meli baes aji seket, to siape nu aukud to tampah!” Kurenane ngenggalang meli baes, tur ngejuk siap lakar tampaha. (I Bagus Diarsa lagi berkata, “Nah kalau tidak ada sisa makanan, situ membeli beras seharga 50, itu ayam masih seekor itu potong!” Istrinya cepat-cepat membeli beras dan menangkap ayamnya akan dipotong).

Tidak hanya harta bendanya dikorbankan oleh Bagus Diarsa termasuk anak semata wayangnya pun diajari agar bisa melayani sesama yang hidup menyendiri. Sebuah pembelajaran yang menarik, sedari kecil sudah diupayakan menyadari hakikat berbagi dan menghormati sesama. I Putu belajar melayani sesama. Jika anak-anak seperti ini tumbuh niscaya kegersangan jiwa akan bisa dikurangi. Lingkungan keluarga berperanan dalam menumbuhkembangkan karakter-karakter mulia seperti keluarga Bagus Diarsa.

Bertemu Dewa Siwa

Anak Bagus Diarsa terus mengikuti jejak orang tua itu (kakek) yang mengajaknya untuk tinggal. Ketulusan dan welas asih Bagus Diarsa dinikmati oleh anaknya (I Putu). Sesampainya di gunung, kakek (pengemis) itu menyampaikan bahwa dirinya adalah Dewa Siwa (Dewa Tertinggi dalam agama Hindu). Pertemuannya memang menarik di gunung. Gunung sebagai lingganya dunia. Simbol dari Siwa. Anak Bagus Diarsa (I Putu) patut bersyukur karena bisa bersemuka dengan Dewa Siwa. Cinta kasih Dewa Siwa diterima oleh anak Bagus Diarsa.

Karma-karma suci orang tuanya bisa dirasakan oleh I Putu (anak Bagus Diarsa). Kesucian jiwa orang tua menurun pada si anak. Keluarga Bagus Diarsa menyadari hakikat Tuhan dalam keseharian. Dalam manusia ada atma-atma suci yang perlu dihormati sebagai sang hakikat diri yang sejati. Perwujudan Siwa hadir dalam hidup keluarga I Bagus Diarsa: …”Tusing makelo ia negak, lantas anake odah ngomong, “Ih Cening, nyen sajatine pekak, tawang Cening? Nah yen tusing nawang, pekak suba Betara Siwa.“ Suud anake odah ngomong keto, lantas ia masiluman dadi Betara Siwa. Buin kesepne, rauh watek Resigana mendakin Ida Batara. Ida Batara lantas ngandika, “Inggih Resi makejang kema lukat anake cerik ne, apang dadi ajak bareng ka Suargan!” (Tidak lama ia duduk, lalu si kakek berkata, “Ih Anakku, siapa sebenarnya kakek, tahukah Anakku? Nah kalau tidak tahu, kakek adalah Dewa Siwa.” Selesai kakek berkata demikian selanjutnya datanglah para Resi menyemput Dewa Siwa. Dewa Siwa lantas berkata, “Baiklah para Resi sekarang sucikan anak ini agar bisa diajak ke Surgaloka!”)

Kutipan di atas cukup indah karena terjadi pertemuan sekaligus mensucikan tokoh si anak yang tulus bakti kepada Tuhan. Karma-karma suci yang dibangun oleh keluarga Bagus Diarsa tumbuh dan diberkati oleh Dewa Siwa. Jiwa-jiwa suci akan bertemu dengan kesucian. Kesucian hanya dapat didekati dengan jiwa suci. Makanya, anak dari Bagus Diarsa sebelum ke surga disucikan lebih dulu agar bisa masuk ke alam dewata (Siwaloka).

Mengalahkan Keegoan

Jiwa-jiwa keterikatan dilepaskan oleh Bagus Diarsa. Kemelekatan terhadap hal-hal dunia diupayakan ditinggalkan oleh Bagus Diarsa termasuk kemelekatan terhadap anak kandungnya. Jiwa-jiwa yang mampu melepaskan keterikatan ini amat mulia dan amat susah dilakukan. Akan tetapi, Bagus Diarsa mampu melepaskan keterikatannya terhadap anak kandungnya. Apa artinya ini? Anak dan orang tua akan terjadi jalinan kasih yang amat dalam dan amat susah dilepaskan. Orang-orang yang berjalan mencari pembebasan jiwa kemelekatan terhadap anak, istri, dan keluargalah yang paling susah diputuskan karena ada jalinan darah di dalamnya. Bagus Diarsa melepaskan keterikatan itu:…Ia tusing pesan taen inget wiadin maselselan mara katinggal teken panakne. Ping kalih ane luh masih keto. (Ia tidak pernah ingat dan bersedih ditinggal oleh anak kandungnya juga istrinya tidak ingat dengan si anak)

Karena Bagus Diarsa seorang penyabung ayam dan menyadari di dalam hidupnya terjadi pertaruhan, maka wajarlah sarana yang paling dekat dengannya adalah bulu ayam. Bulu ayam mengantarkannya menuju yang dipuja. Apa yang diingat saat perjalanan memuja itulah yang hadir. Bulu ayam bagian dari hidup Bagus Diarsa, bulu ayam itulah yang muncul dalam pikirannya.  Bagus Diarsa melayani hatinya dan mampu bertemu langsung dengan Dewa Siwa. Sebuah penggambaran jiwa suci yang bertemu dengan Dewa Siwa:… Panakne lantas masaut. “Eh anak tua apa. Betara Siwa ento, jani Bapa kapangandikaang ka jeroan tangkil!” Suud ngomong keto, lantas bapane kaateh ka jeroan. Ida Batara Siwa lantas ngandika sinambi ica, “Ih Cai Bagus Diarsa, cai mara teka?” (Anaknya lantas menjawab. “Eh kakek tua apa. Dewa Siwa itu, sekarang ayah disuruh ke dalam menghadap!” selesai berkata begitu lantas ayahnya diantar ke dalam. Dewa Siwa selanjutnya berkata sambil tersenyum, “Ih kau Bagus Diarsa baru datang?”)

Setelah dilayani di surga, Bagus Diarsa diberikan kesempatan memilih ayam aduan Dewa Siwa. Pilihan Bagus Diarsa amat tepat. Ia memilih ayam aduan yang bisa mengalahkan jiwa-jiwa yang ingin berkuasa. Ayam aduan Dewa Siwa setelah diadu dengan ayam sang penguasa (raja), mampu memenangkannya. Jiwa ingin berkuasa tunduk dan menghilang. Sebuah cara pengarang yang cukup menarik. Keangkuhan rasa ego adalah raja dalam tubuh dan itu haruslah dihilangkan. Bagus Diarsa berupaya menghilangkannya. Dan ia berhasil setelah mengalami beberapa godaan berupa cibiran dan hinaan. …. Mara siape kalebang di bawak, lantas siap Bagus Diarsane makeber tur ngebug Ida sang prabu nganti seda. (Saat ayam aduannya dilepaskan, ayam Bagus Diarsa terbang dan menerjang Sang Raja hingga mati).

Perjuangan melepaskan keterikatan memang amat susah dalam hidup. Cerita rakyat Bagus Diarsa dengan cukup indah melukiskan betapa pertaruhan dalam hidup selalu terjadi dalam keseharian. Jiwa-jiwa yang mampu memenangkan setiap pertaruhan tentulah akan bisa menyeimbangkan hidupnya. Rasa welas asih akan tumbuh, rasa memiliki akan hilang yang ada hanya rasa bakti pada Sang Diri. Bagus Diarsa memberikan jalan bahwa pertempuran dalam diri selalu terjadi dan upayakan dalam pertempuran itu bisa menang hingga atma-atma suci mekar seindah kesucian Dewa Siwa.