Saniscara Umanis Watugunung sebagai hari Saraswati. Pemujaan manisfestasi Tuhan dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada umatnya. Saraswati yang dimaknai sebagai aliran ilmu pengetahuan tentu akan terus mengalir sepanjang waktu. Untuk itu, diperlukanlah kesadaran agar bisa menghayati dan mengamalkan ilmu pengetahuan hingga bermakna bagi kemaslatan umat.

Jika dicermati, Saniscara (dalam saptawara, Redite Soma, Anggara, Budha, Wrehaspati, Sukra, Saniscara) sebagai hari terakhir dalam satu minggu dan Umanis sebagai pancawara awal (Umanis, Pahing, Pon, Wage, kKiwon). Sebuah pertemuan akhir dan awal. Orang-orang tua dulu mengatakan nemu gelang hingga ia menjadi sebuah Windu. Inilah pertemuan awal dan akhir yang terus berputar. Betapa mulianya pemikiran tetua dulu memikirkan tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan itu yang terus berputar.

Memuliakan ilmu pengetahuan perlu terus ditanamkan hingga mampu memberikan sinar pencerahan. Memuja Saraswati tentulah tidak hanya pada Saniscara Umanis, Watugunung saja. Saraswati sepanjang hari hendaknya dipuja karena ilmu pengethuan itu berjalan amat cepat dan terus mengalami perkembangan sepanjang waktu. Maka, ganitri sebagai simboliknya terus berputar, memberikan kelembutan dengan rebab, memberikan kebijaksanaan dengan angsa, memuat beragam ilmu pengetahuan dengan kropaknya. Sebuah penggambaran yang penuh makna dan spiritualitas tinggi.

Keindahan dan kecantikan Dewi Saraswati akan bisa dirasakan jika ilmu pengetahuan itu benar-benar dihayati dan diamalkan secara tulus (nekeng twas). Betapa tidak bijaknya jika ilmu pengetahuan itu digunakan untuk tindakan-tindakan yang kurang konsruktif.

Tetua Bali benar-benar mulia, setelah memuja Sakti Dewa Brahma, Redite (minggu), Pahing dilanjutkan dengan Banyu Pangeweruh (air suci ilmu pengetahuan). Secara umum akan melakukan penyucian diri ke laut, ke sumber mata air, dan selanjutnya mandi dengan Kumkuman (air yang berbau harum) dan  sembahnyang ke tempat suci (mrajan atau pura), natab banten Saraswati disertai dengan minum loloh (jamu), makan nasi kuning yang telah dipersembahkan. Ada kebahagian karena masih bisa memuja Saraswati.

Rangkaian Saraswati memang unik, Soma Pon, Sinta (Senin pon) umat akan menyambutnya dengan soma ribek pemujaan kepada Dewi Sri dan Anggara Wage Sinta (Selasa Wage), akan berlangsung Sabuh Emas. Ilmu pengetahuan akan benar-benar dimaknai hingga memberikan kecemerlangan pikiran bagi pemiliknya dan diharapkan bisa menularkan kecermerlangan itu pada sesama, bukan sebaliknya. Bhuda  Kliwon Sinta pemujaan Paramesthi Guru. Tuhan dalam wujudnya sebagai Mahaguru, Siwaguru. Sebuah jalinan tali ilmu pengetahuan yang terus berputas sepanjang waktu.

Satu hal yang mengembirakan bagi umat Hindu tahun ini (2017). Setelah merayakan Saraswati, Wrehaspati Umanis Sinta (Kamis), Siwaratri (Malam Siwa) umat Hindu memuja Dewa Siwa. Siwalingga, hari penyadaran (tyaga). Pemujaan terhadap Dewa Siwa yang diharapkan selalu memberikan penyadaran. Umat Hindu yang mampu melakoni dengan pejagraan (titik kesadaran), berpuasa, dan monabrata.

Mpu Tanakung dalam Siwaratri Kalpa mengilustrasikan manusia sebagai Nisada (Lubdaka), seorang pemburu satwa (kebenaran). Manusia tentu tidak ada yang sempurna. Dalam ketidaksempurnaan itulah diperlukan ruang-ruang hingga selalu ingat dengan diri (eling, tyaga). Panglong ping 14 (hari sebelum) Tilem Kapitu sebagai titik puncak penyadaran. Penyadaran (Kapitu)’memulai tuhu’. Orang bijak menyatakan sapta timira (tujuh kegelapan) selalu menghantui manusia, maka diperlukan penyadaran hingga keseimbangan hidup terus berjalan meskipun godaan selalu menghampiri kehidupan.

Pemujaan Saraswati memberikan makna betapa mulianya ilmu pengetahuan itu lebih-lebih yang mampu memberikan titik kesadaran sejati sebagai umat. Jika memiliki kesadaran, dapat dikatakan Saraswati sudah tumbuh di hati dan memberikan sinar pada diri dan sesama.