Bulan: Februari 2018

Tukad Unda, Gangganya Bali

Tukad Unda secara tersurat memisahkan dua kabupaten Karangasem dengan Klungkung. Jika dicermati dalam pemisahan itu ada aliran sungai yang memberikan sejuk setiap yang melewatinya. Bagi tetua, tukad Unda memilii cerita yang unik. Masyarakat yang akan menyeberang ke timur atau ke barat akan dilakukan secara bertahap, yang diistilahkannya dengan “Ngunda”. Dalam cerita itu, tersirat makna betapa terjalin hubungan yang harmonis antarwarga, saling memperhatikan, saling menjaga keselamatan, dan ada canda tawa di dalamnya. Keseimbanagn tampak dalam setiap langkah kehidupan. Bisa dikatakan bahwa sungai terbesar di Bali ini sebagai Gangganya Bali. Di sini tersirat makna betapa sucinya tukad Unda, merasa bersyukur jika airnya yang bening tetap terpelihara. Kesuburan akan tampak jika tukad Unda berair bening, besar, dan suaranya memberikan inspirasi bagi setiap yang melewatinya. Air bening dan besar mengisyaratkan akan betapa pentingnya keseimbangan dengan pelemahan. Gunung di hulu, pepohonan di hulu terjaga kelestariannya memberikan tanda kehidupan yang subur bagi yang ada di hilir. Itu artinya, hulu dengan hilir harus tetap terjaga kelestariannya. Ada catatan babad yang menuliskan bahwa tukad Unda berair amat deras dan besar. Ketika Dalem Waturenggong dengan Danghyang Nirarta pulang dari Silayukti-tempat Mpu Kuturan memikirkan Bali dengan konsep Tri Murti- tiba di tukad Unda dihadang banjir besar.  Tukad Unda disucikan. Dimohon agar bisa diseberangi. Dengan kekuatan dan kesucian Danghyang Nirarta diberikanlah ilmu Aswasiksa (ilmu tentang mengendarai kuda) kepada Dalem. Kekuatan pecut yang telah dimantrai bisa membuat air menjadi terbalik. Dalem,...

Read More

Tonya Dadi Pedanda: Penampilan Perlu Diwaspadai

Tonya dadi Pedanda (roh halus menjadi orang suci) itulah judul cerita rakyat yang ada dalam kumpulan satua Bali (cerita Bali) yang ditulis oleh I Buyut Dalu diterbitkan oleh CV. Kayumas Agung, Denpasar 2013. Sebuah cerita rakyat (foklore) yang menyadarkan agar waspada terhadap penampilan seseorang. Cerita rakyat ini juga menyiratkan bahwa orang suci pun tidak luput dari godaan. Dikisahkan seorang seorang Pedanda (gelar sulinggih dari wangsa Brahmana) muda yang baru menikah. Sang istri berkeinginan akan madu lebah karena sedang mengandung calon jabang bayi. Sebagai seorang suami, Pedanda Lanang ’laki-laki’ bersedia mencarikannya. Pembicaraan itu didengar oleh tonya (ruh halus) yang berada di pohon timbul. Kesempatan itu dipergunakan oleh tonya (roh halus) untuk menjalankan niat jahatnya. Setelah pergi ke tengah hutan, berubah wujudlah tonya itu menjadi seorang Pedanda yang mirip dengan Pedanda (suaminya) membawa madu dari hutan. Betapa senangnya Pedanda Istri (perempuan’). Tak dinyana dilayanilah si Pedanda palsu itu sebagai suaminya. Setelah beberapa lamanya, datanglah Pedanda Lanang ’laki-laki’. Betapa kagetnya Pedanda asli, ternyata ada Pedanda yang mengaku sebagai suaminya. Pertengkaran terjadi sampai diadukan kekerajaan puri Bajanegara. Sang raja mengalami kesulitan dan tidak bisa memberikan jalan keluarnya. Diadakanlah sayembara siapa yang bisa menyelesaikan masalah itu akan dijadikan patih (abdi kerajaan). Hal itu didengar oleh I Blibis (Angling Dharma) yang menyuruh Demang Klungsur mengatasi masalah Pedanda yang asli dengan yang palsu. Demang Klungsur diberikan strategi oleh Blibis (Angling Darma) dengan menyuruh yang bisa masuk...

Read More

Stop! Pelecehan di Sekolah

Tugas peserta didik adalah belajar. Peserta didik hendaknya menyadari hakikat dirinya sebagai seorang yang sedang menjalani dan mengalami proses pembelajaran. Pembelajaran itu mengembangkan, menggali, menumbuhkan sikap-sikap mulia, memperdalam ilmu pengetahuan yang nantinya bisa dimanfaatkan bagi kemaslatan umat manusia. Sekolah sebagai tempat menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Sekolah memberikan ruang untuk berinteraksi dan menyadari hakikat kemanusiaan. Penanaman konsep penyadaran ini memang memerlukan waktu. Artinya, peserta didik yang belajar ke sekolah fokus utamanya adalah belajar bukan melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji. Misalnya, melakukan tindakan tidak senonoh dengan teman-teman sekelasnya atau dengan teman-teman lainnya ataupun dengan gurunya ataupun guru terhadap peserta didik. Apapun alasannya, tindakan itu adalah tindakan yang kurang terpuji. Yang menjadi permasalahan mengapa peristiwa tidak senonoh itu terjadi di sebuah lembaga pendidikan yang nota bene tempat menyemaikan nilai-nilai karakter? Tentu akan beragam jawaban bisa dijadikan penyebab dari sebuah peristiwa dalam sebuah lembaga pendidikan. Sebuah lembaga pendidikan pastilah berusaha dan berupaya agar anak didiknya menjadi manusia-manusia yang berkarakter dan memiliki rasa menghargai sesama. Nilai-nilai ini belum meresap di dalam hati peserta didik hingga dengan mudahnya melakukan tindakan kurang terpuji di dalam lembaga pendidikan. Tindakan pelecehan ataupun mem-bully bukanlah sebuah tindakan yang terpuji. Sebagai peserta didik, hendaknya mengutamakan dan selalu belajar agar menjadi anak-anak bangsa yang membawa bangsa lebih baik lagi ke masa yang akan datang. Pendidikan mengutamakan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, sosial, dan budaya. Penghormatan terhadap harga diri sesama manusia mutlak dilakukan. Sekolah...

Read More

Siwaratri Perjalanan Mencari Tuhan

Siwaratri sebagai hari raya Hindu memujaTuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Siwaratri memberikan ruang pada umat Hindu lebih mendekatkan diri pada Dewa Siwa. Dewa Siwa adalah penyebab pertama dari alam semesta (Ṥrī Ṥwāmi Ṥiwananda, 2003). Siwaratri diperkuat lagi dengan adanya kisah Lubdaka (Nisada) dalam kekawin Siwaratri Kalpa. Kisah Lubdaka mencari Siwa selalu menarik untuk kenang dan dihayati. Lubdaka seorang Nisada yang belum mendapatkan karunia Dewa Siwa terus berupaya mencari jalan pencerahan (jagra). Pencerahan ditemukan saat Panglong ping empat belas sasih Kapitu (sekitar Desember-Januari) yang pada tahun 2018 ini jatuh pada hari Senin, 14 Januari 2018 (Soma Kliwon, Uye). Bulan Tilem (bulan gelap), puncak gelap alam semesta, justru Lubdaka mendapatkan pencerahan. Apakah ini yang sering diberbincangkan oleh tetua yang menggeluti dunia spiritual bahwa di dalam kegelapan Jiwa hendaknya ada sinar penerang, cahaya kesadaran.. Siapa sinar itu. Tetua akan menjawab atma. Mengapa atma, karena atma sebagai percikan terkecil dari Paramatma. Perjalanan demi perjalanan yang dilakoni Lubdaka tentulah tidak sekali dua kali. Ia berlangsung selama hidupnya. Berlangsung selama prana ada dalam tubuh Lubdaka. Lubdaka yang tiada lain adalah kita yang sedang mencari hakikat sang sejati. Tidak cukup dijalani dengan satu atau dua langkah. Mpu Tanakung mengilhami perjalanan Lubdaka yang berburu sampai kepuncak gunung. Gunung sebagai simbol lingga. Lubdaka mempersembahkan daun bilwa sebanyak 108 buah pada lingga Dewa Siwa. Pencarian puncak gunung tidaklah mudah perlu pendakian, perlu keyakinan, perlu ketulusan untuk mendekatkan diri...

Read More

“Seberkas Puisi Cinta “: Keberagaman Makna Cinta dan Kritik Sosial

Seberkas Puisi Cinta karya  Wimpie Pangkahila, seorang guru besar di Fakultas Kedokteran, Unud, diterbitkan oleh Buku Arti, Februari 2017, sebuah kumpulan puisi yang menyiratkan keberagaman makna cinta yang tumbuh, hidup, mekar, berbuah dalam kehidupan manusia dan kritik sosial. Suka duka cinta yang hidup mengantarkan sebuah makna dalam hidup. Cinta memberikan keberagaman keindahan dalam hidup. Perlu kemampuan untuk mewujudkannya dalam laku sikap dan tindak dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Cinta dalam pandangan Pangkahila memiliki konteks yang amat luas dan mulia. Cinta sesama, cinta Tuhan, cinta ibu pertiwi, cinta kepada yang tidak mengenal cinta, cinta pada alam semesta. Keberagaman makna cinta ini diwujudkan dalam larik-larik puisi yang yang cukup indah. Puisi pembuka dalam kumpulan ini Pada Suatu Malam di Sebuah Kamar (hlm. 1), misalnya, melukiskan betapa cintanya seorang ayah kepada anaknya karena kesibukan yang terus mendera dalam kehidupannya, maka terkadang belum sempat melihat kecerian anaknya. Si anak terburu tertidur dan sang ayah yang terikat dunia kerja. Perubahan terjadi dalam kehidupan manusia. Cinta sang ayah belum sempat bertemu dengan sang anak karena terbentur tuntutan kerja. Hal-hal ini terjadi di kota-kota besar: …/ anakku/ telah kupecahkan rindumu/ untuk bermanja dalam pangkuanku/dan merasakan kehangatan pelukanku/ karena aku diburu waktu/ luluh dalam kerja yang tak pernah selesai//…//…/ karena esok aku harus meninggalkanmu lagi/ karena tidak ada yang abadi di dunia ini/ sayang sekali//. Kutipan di atas betapa kasih sayangnya seorang ayah kepada sang anak dan sang...

Read More