Masa remaja adalah masa menuntut ilmu. Jika dilihat dari perkembangan mental, masa remaja dimulai dari jenjang SMP sampai SMA. Masa remaja akan muncul rasa ingin tahu. Umumnya gejolak seksualitasnya mulai tumbuh. Pengawasan dari orang tua dan juga dari pendidik amat diperlukan. Amat disayangkan jika masa remaja berakhir dengan pernikahan dini ataupun kehamilan dini. Beban mental tidak hanya dialami oleh si gadis juga orang tua serta pihak sekolah. Umumnya remaja yang hamil akan meninggalkan sekolah dan itu artinya masa remaja dan masa belajarnya akan terganggu.

Anak sekolah menikah dalam usia teramat muda amat beresiko baik secara mental maupun secara fisik. Usia muda sudah menjadi calon ibu. Kelangsungan pendidikannya juga akan terputus. Masa depan yang sebelumnya telah direncanakan kandas. Dalam hal inilah, perhatian lebih dari orang tua diperlukan agar yang telah direncanakan sebelumnya bisa terwujud.

Pengawasan Orang tua

Orang tua tentu selalu mengharapkan agar anak kandungnya berhasil dan bisa meraih masa depannya. Akan tetapi, kenyataannya harapan luhur dari orang tua kandas di tengah perjalanan. Sebagai orang tua akan makan hati akibat ulah anak tercintanya. Kehamilan yang tidak diharapkan ini akan menjadikan remaja menjadi bersalah. Dampaknya tidak hanya bagi kelangsungan pendidikannya juga bagi perkembangan mental sosialnya. Kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran, dan rasa tidak terima dengan kenyataan yang sedang dihadapinya akan muncul. Meski pemerintah masih menjalankan paket B maupun paket C akan lebih baik lagi melakukan pencegahan sedari awal.

Sebagai langkah awal pengawasan dari orang tua amatlah diperlukan. Orang tua agaknya perlu juga mengenal teman-teman dekatnya di samping mengenal kebiasaan si anak. Kemajuan teknologi bisa memengaruhi perkembangan mental dan kepribadian anak yang dalam masa mencari identitas dirinya. Hp yang dimilikinya sesekali juga dibuka bahkan jika perlu mengawasi juga saat membuka internet karena tidak jarang remaja bisa dipengaruhi oleh hal-hal yang teramat sering ditontonnya. Bukanlah berarti orang tua sebagai polisi bagi anaknya.Orang tua yang suka mendengar keluh kesah anak kandungnya menumbuhkan keberaniannya untuk mengutarakan isi hatinya. Remaja umumnya akan merasa lebih dekat dengan sesama remaja. Untuk itulah perlu mengenal asal-usul teman dekatnya. Karena tidak jarang hal-hal sifatnya pribadi diutarakannya dengan sesama teman seusianya.

Pengawasan tidak hanya berhenti sampai di sana. Kerja sama dengan lembaga tempat si remaja menempuh pendidikan tidak kalah pentingnya. Guru adalah orang tua keduanya di sekolah. Di sekolah, ada guru wali kelas, ada juga guru bidang studi, maupun guru bimbingan bisa sebagai tempat meminta informasi mengenai perkembangan si remaja. Remaja yang merasa disayangi dan dicintai akan tumbuh sebagai remaja yang percaya diri dan peduli dengan sesamanya.

Menerima Kenyataan

Remaja yang hamil sebelum menamatkan jenjang pendidikan akan mengalami tekanan mental sosial yang teramat sangat. Lingkungan sosialnya akan mengecapnya sebagai remaja yang tidak bisa menjaga martabat keluarga dan juga harga dirinya sebagai remaja. Tatapan sinis akan diterimanya. Di sinilah, sikap berani menerima kenyataan perlu ditumbuhkan. Remaja yang terbiasa dengan kemanjaan perlu disadarkan bahwa dirinya tidak lagi sebagai remaja. Ia perlu diberikan bimbingan secara mental dan sosial. Diperlukan sikap lapang dada dari orang tua maupun dari si remaja. Keberaniannya berbuat disertai dengan keberanian bertanggung jawab.

Jika sebaliknya terjadi, si remaja akan terus-menerus merasa dirinya bersalah dan merasa tidak memiliki masa depan dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Mempersiapkan mental si remaja yang sudah salah langkah memang tidaklah mudah. Ia akan merasa minder karena sudah menjadi orang tua. Mentalnya belum siap. Akan tetapi, ia mesti menjadikan dirinya sebagai orang tua baru. Sikap-sikap yang tidak bisa menerima kenyataan akan amat rentan akan terjadinya perceraian. Sebuah perceraian tentu dampaknya kurang baik tidak hanya bagi dirinya juga bagi anak yang dilahirkannya.

Pernikahan dini akan berdampak bagi kelangsungan pendidikan si remaja. Pengawasan dari orang tua juga dari lembaga pendidikan amat diperlukan agar remaja terhindar dari pernikahan dini. Kesiapan mental remaja yang menikah dini belum maksimal. Remaja yang karena sudah salah langkah sebaiknya diberikan pengarahan bahwa dirinya masih punya nilai dalam hidup. Sikap yang terus-menerus menyalahkan akan membuat remaja itu menjadi minder dan berpengaruh bagi bayi yang dikandungnya. Remaja yang hamil sebelum menyelesaikan pendidikannya perlu didampingi agar tumbuh sikap menerima sebuah kenyataan hidup.