Supir bajaj yang kutumpangi tersenyum saat aku berbahasa Bali. Ia mengaku pernah tinggal di Bali. Pernah belajar bahasa Bali. Ia menceritakan senang dengan bahasa Bali. Sebenarnya, ia cinta sekali dengan Bali. Sempat merasakan Nyepi. Sempat merasakan gong Bali. Sempat melihat para gadis Bali menari. Sempat melihat orang-orang Bali melasti. Sempat melihat ombak menari. Sempat melihat matahari terbit juga matahari terbenam. Ia menceritakan saat itu masih jarang turisnya. Turis yang datang kebanyakan peneliti atau pelukis. Para turis itu terbius dengan Bali sampai menikah dengan gadis Bali mengajarkan orang-orang Bali menggambar. Semenjak  para turis datang, para pelukis tradisi Bali tahu akan cat lukis. Biasanya mewarnai dengan warna khas Bali. Tempat menginap turis juga di rumah warga Bali menyatu dengan warga Bali. Hotel masih bisa dihitung dengan jari.

Ia mengaku orang Betawi. Kuberi nama Bang Betawi sudah lama menjadi supir bajaj. Bajaj itu dari mencicil. Kalau tidak seperti itu, tidak punya bajaj. Tidak ada digunakan untuk mencari penghidupan. Tidak ada gratis di Jakarta.Hidup di Jakarta susah sekali. Kadang-kadang saudara sendiri tidak dipedulikan.

“Bang Betawi di mana tinggal?”

“Jangan menanyakan tempat tinggal. Saya malu mengatakan. Kalau hidup di Jakarta, bantaran sungai paling mudah.”

“Kok mudah?”

“Karena hidupnya sama. Sama miskinnya. Sempat saling tersenyum sempat juga bertukar pikiran.”

“Oooo begitu!”

“Ya, rumah sama. Berdinding koran. Kardus. Syukur kalau berdinding seng. Tidak seperti di Bali. Masih bagus.”

Aku terdiam. Karena Bali sudah sesak nafas. Iseng aku menutup hidung. Bang Betawi tertawa.

“Mas belum biasa dengan bau. Di Jakarta, susah mencari tempat tak berbau. Air sungai kental. Hitam. Kira-kira di Ancol atau di Taman Mini agak bersih. Lain dari itu, berbau. Langit selalu tampak sedih. Asap kendaraan, asap pabrik memenuhi angkasa sudah terlalu banyak kendaraan. Berapa pun jembatan layang dibangun tidak menyelesaikan masalah. Selalu kurang.

Dadaku berdegup. Mobil mendekati bajaj. Mau disengol. “Pelan-pelan Bang!”

“Yaaaaa. Mobil itu tak berani sama bajaj. Biayanya tak cukup dengan penjualan bajaj ini. Suruh nabrak, tak mau.”

Aku tersenyum.

“Di Bali belum seperti Jakarta.”

“Selama ini belum. Lagi sebentar bisa jadi. Sudah sering macet. Sudah banyak supermarket berdiri. Sudah banyak tanah subak berubah menjadi swalayan. Sudah jarang orang bekerja di sawah karena sawah sudah tak ada.”

“Tunggu saja.“ Bang Betawi tertawa. “Dulu, Jakarta sama seperti Bali. Pepohonan masih rindang. Burung-burung masih sempat bersuara. Tidak ada pencuri. Apalagi berpikiran yang tidak benar. Tentram. Saya senang sekali masa-masa itu.”

“Semakin lama semakin kurang bagus saja. Dulu, saya banyak dapat warisan tanah. Istriku kaya tanah. Saya terbius uang. Uang membutakan hati. Saya jual sedikit demi sedikit sampai habis. Akhirnya, bantaran sungai menjadi tempat tinggal. Bersahabat dengan makhluk halus. Sekarang, saya menjadi tamu di tanah sendiri.”

Aku bengong. Aku ingat Bali sudah seperti kena rayap, sedikit demi sedikit dimakan pelan-pelan.  Sudah biasa Pura dikitari hotel. Sudah biasa susah mencari tempat melasti. Sudah terbiasa mendengar orang merampok. Orang mencuri. Orang memperkosa sampai anak-anak kecil dipermalukan.

“Itu lihat! Di bawah jembatan layangnya, itu saudara saya. Tidur beralaskan koran. Di Bali belum ada. Itu hidup dengan meminta-minta. Ada yang mengamen. Yang utama dapat uang. Anak-anak kecil di sana tak kenal rasa takut. Hidup dan mati sama saja. Sudah tidak tahu siapa orang tuanya. Saya bersyukur bisa menjadi supir bajaj. Dulu, mengayuh becak. Memutar pedal. Keringat merembes. Panas membakar kulit. Nafas bergemuruh naik turun. Sekarang, becak sudah menjadi tempat tinggal ikan. Di sana, di Tanjung Priuk.”

Aku mendengarkan ceritanya. Bus kota berlomba-lomba berebut penumpang. Suara belnya memekakkan. Terasa pecah genderang telingaku. Warnanya beragam, ada yang seperti macan. Ada yang berisi iklan. Iklan obat, iklan racun nyamuk menjadi satu. Ada juga busway lewat. Bang Betawi bilang transportasi baru. Katanya untuk mengurangi kemacetan. Polisinya bingung. Prit!Prit!Priiiiiiiiiiit! Dikalahkan suara kendaraan. Waktu itu, aku ka Atrium Senen yang pernah dibom. Aku turun. Bang Betawi melanjutkan mencari penumpang. Besoknya, tak kukira bertemu lagi. Ia sudah menunggu di depan rumah iparku. Padahal, tak sempat berjanji.

“Mas Bali akan ka Mangga Dua?”

Aku mengangguk. “Kok ia tahu rencanaku?” Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku naik bajajnya.

“Mas hidup semakin lama semakin susah saja. Pikiran semakin lama semakin banyak juga yang diminta. Gimana akan jadinya nanti?”

“Saya tak tahu yang akan datang. Yang nanti saja belum sempat dipikirkan. Jalani saja hidup ini. Jangan terlalu banyak dipikirkan karena sudah membawa bekal dari alam sana. Kita menjalankan takdir saja. Hidup seperti piknik. Bertengger di sana-sini setelah itu kembali lagi.”

“Benar sekali. Jangan memikirkan yang belum jelas.”

Ia menceritakan jalan hidupnya. Pernah menjadi penjaga di terminal lama-lama tidak kuat. Setelah itu, menjadi satpam juga tidak lama. Bosnya yang perempuan ada maunya. Setiap hari, diberi uang. Setiap hari menceritakan suaminya punya selingkuhan. Bang Betawi ingat dengan diri. Tidak suka mengganggu rumah tangga orang lain. Meskipun tak punya harta, hati masih punya. Ia merasa bersyukur. Lantas pergi. Ia mencari kerja menjadi tukang potong rambut. Beberapa kepala orang sudah sempat dipegang. Dari kepala kelas pedagang, kepala politikus, kepala camat dan kepala pengaman. Segala bentuk kepala ia tahu. Ada yang berbau terasi. Ada yang berbau map. Ada yang berbau brankas. Setiap ingat, ia tertawa.

“Beragam isi alam ini. Senang melihat perputaran hidup. Meskipun serba kekurangan, tak terlalu menyesal. Meski disesalkan toh juga tak akan berganti.”

Aku senyum-senyum saja. Bersyukur bertemu dengan orang yang beragam hidup pernah dirasakannya.

Aku memang suka bepergian. Besoknya, lagi bertemu di depan rumah iparku. Ingat juga aku tak sempat berjanji.

“Mas Bali akan ke WTC Cempaka?”

“Yaa. Kok ia tahu?” bisikku. Ia selalu menceritakan dirinya. Ia menceritakan rumahnya kena gusur karena membuat kumuh sungai. Membuat air kotor. Katanya tak ada yang peduli dengan dirinya. Aku hanya mendengarkan saja.

“Nanti, saya tak punya tempat tinggal. Di kolong jembatan, saya akan tidur. Di Bali tak ada seperti saya tak punya rumah.”

“Ada,” jawabku.

“Ah, masak?”

“Ya. Sudah semakin banyak saja.”

“Artinya saya punya juga saudara di Bali.”

Aku terdiam.

“Di Bali ada peminta-minta?”

“Banyak.”

“Banyak?”

“Ya. Dulu, pernah kutanyai. Kenapa minta-minta? Gampang ia menjawab.”

“Gimana?”

“Orang atas saja minta-minta.”

“Jadinya mengikuti perilaku orang-orang besar. Itu peminta-minta pintar namanya.”

“Terus gimana?”

“Semenjak itu, aku tak mau memberi uang lagi agar tak terbiasa minta-minta.”

“Yang di bawah bisa diperlakukan seperti itu. Yang di atas tidak bisa karena sudah terbiasa.”

Sudah dua hari ini, aku tak sempat bertemu dengan Bang Betawi. Semenjak rumahnya digusur.

Tak kuduga. Ia mengumpulkan teman-temannya. Mencari kebenaran. Mencari jalan keluar. Kantor dewan, kantor gubernur didatangi. Banyak juga yang menyetujui tindakannya.  Ada yang memberi nasi bungkus. Ada yang memberi air minum. Ada yang memberi baju bertuliskan, “Suara Orang Kecil”. Kendaraan semua minggir tak berani. Polisi antihuru hara  berbaris. Mendekat membawa tameng. Membawa pecut akan memecuti saudara sendiri. Aku terkejut. Kok pintar sekali Bang Betawi. Di mana ia belajar? Di mana memeroleh guru? Mungkin karena sudah bertumpuk-tumpuk  kekesalan di dadanya, makanya bagai pelor keluar suaranya.

Ia menahan kemarahannya. Saat itu akan menjelang pemilihan gubernur, ia mencalonkan diri. “Agar pernah orang kecil menjadi orang besar,” begitu bisiknya. Aku terkejut.  Tak percaya. Ia berani seperti itu. Teman-temannya bilang, ia seorang pemberani. Orang yang ingat akan harga diri.

Tentang pencalonannya dipersiapkan betul. Ia bawa ijazahnya. Ia bilang tamat S-1 alias sekolah dasar. Yang mendengar semua tertawa.

Semua mendoakan agar pernah orang kecil menduduki kursi bagus. Kalau orang besar, susah tahu hidup orang kecil karena tidak pernah hidup menjadi orang kecil Tidak pernah miskin. Tidak pernah kelaparan. Tak pernah berkeringat mencari sesuap nasi.

Aku gembira. Akan tetapi, takut juga. Di mana akan mencari uang? Saat ditanyai anggarannya, gampang ia menjawab. Kejujuran hati adalah uangnya. Kesetiaan hati adalah  uang utama. Semua terbengong-bengong. Tumben calon gubernur seperti itu. Tidak membawa anggaran. Tanpa modal. Akan tetapi, ada juga yang membantu. Ada yang membelikan dasi. Ada yang membelikan jas. Ada yang membelikan sepatu bagus. Bang Betawi tampak ceria. Ia memakai sepatu, jas, dan dasi serba baru. Sesama supir bajaj bergembira. Para peminta-minta bersuka cita. Para pengamen tak ketinggalan. Penjual jamu apalagi. Yang tidak suka siapa lagi? Calon yang lain karena merasa percuma melawan orang tak punya nilai. Kalau tak dilawan, mesti dilawan. Kalau dilawan percuma juga.

Pemilunya datang. Ia disuruh memperlihatkan kemampuannya. Ditanyai oleh orang-orang pintar sekelas profesor doktor, semuanya botak-botak. “Apa tujuannya menjadi gubernur?”

Dengan mudah ia menjawab.  “Agar  tidak hanya baju saja yang bersih. Pikiran dan hati juga bersih.” Semua bengong. Bang Betawi mengatakan malu melihat orang berdasi, guru besar, orang-orang  pintar menginap di hotel prodeo. Yang sepatutnya menjadi contoh lantas berbuat tak benar.

Semua bertepuk tangan. “Hidup Bang Betawi! Hidup Bang Bajaj! Hiduuuuuuuuuuuup! Hiduuuuuuuuuuuuuuuuuup! Hiduuuuuuuuuuuuuuuuup!” meskipun tumben muncul di TV, ia tak gemetar mungkin karena desakan hatinya penyebabnya

Entah kenapa semakin lama, semakin mengecil suaranya. Bang Betawi pingsan. Tubuhnya bergetar. Matanya mendelik. Semua berhamburan. Semua membopong. Selanjutnya tak bisa dibantu. Ia mati.

Berita di media massa ramai sekali. Dikatakan sakit jantung. Ada yang bilang kalah beradu ilmu. Ada yang bilang, ia tak membawa tameng. Ada yang bilang disantet. Ada yang bilang karena terlalu berani apalagi saat berpidato mengatakan akan mengganti pejabat yang korupsi.

Mayatnya disemayamkan. Ramai yang membantu. Ada karangan bunga. Aku terkejut karena  dalam karangan bunga tertulis, Muhammad Ida Bagus Kompyang. Aku ingat. Ayahku punya sepupu lari ke Jakarta saat G/30/S/PKI menjadi tokoh partai terlarang. Grianya di bakar. Di Bali sudah diabenkan karena tak pernah ada beritanya lagi. Ayahku mengatakan sepupunya itu tak bisa diberi tahu. Saat akan pergi tak meninggalkan pesan apapun. Jika ada yang tahu saat akan pergi, pastilah akan dibunuh.

Jadi, yang kutumpangi setiap hari adalah pamanku. Terus apa yang harus kuperbuat sekarang? Aku sadar. Pastilah sudah pindah agama. Ada ustad mendoakan. Aku hanya mendoakan di hati. Semoga baik jalannya. Ada yang membawa kain kafan. Ada yang membawa peti mayat. Banyak yang berbela sungkawa.

Mayatnya dimasukkan ke dalam peti. Diisi bendera seperti warna bajajnya. Entah kenapa tiba-tiba hujan lebat sekali turun seperti ikut berduka. Yang menjaganya seperti terkena kantuk berat. Semuanya tertidur termasuk aku. Pikiranku melayang. Aku merasakan seperti ada yang masuk bertopeng ninja. Saat mau kutanya, mulutku terkunci. Teman-temannya sesama supir bajaj tidak ada yang bangun.

Pagi tiba, aku terbangun. Suara kendaraan berlomba. Mohammad Ida bagus Kompyang akan dikubur. Semua menangisi kepergiannya. Banyak yang turut serta mulai dari lurah, camat, dan juga calon gubernur. Peti dibuka. Semua kaget. Mayatnya tak ada.       Ada yang bilang diambil orang sakti. Tiba-tiba semua memencet hidungnya. Ada bau busuk menebar ke segala arah