Bulan: September 2015

Cerpen Bajaj Betawi

Supir bajaj yang kutumpangi tersenyum saat aku berbahasa Bali. Ia mengaku pernah tinggal di Bali. Pernah belajar bahasa Bali. Ia menceritakan senang dengan bahasa Bali. Sebenarnya, ia cinta sekali dengan Bali. Sempat merasakan Nyepi. Sempat merasakan gong Bali. Sempat melihat para gadis Bali menari. Sempat melihat orang-orang Bali melasti. Sempat melihat ombak menari. Sempat melihat matahari terbit juga matahari terbenam. Ia menceritakan saat itu masih jarang turisnya. Turis yang datang kebanyakan peneliti atau pelukis. Para turis itu terbius dengan Bali sampai menikah dengan gadis Bali mengajarkan orang-orang Bali menggambar. Semenjak  para turis datang, para pelukis tradisi Bali tahu akan cat lukis. Biasanya mewarnai dengan warna khas Bali. Tempat menginap turis juga di rumah warga Bali menyatu dengan warga Bali. Hotel masih bisa dihitung dengan jari. Ia mengaku orang Betawi. Kuberi nama Bang Betawi sudah lama menjadi supir bajaj. Bajaj itu dari mencicil. Kalau tidak seperti itu, tidak punya bajaj. Tidak ada digunakan untuk mencari penghidupan. Tidak ada gratis di Jakarta.Hidup di Jakarta susah sekali. Kadang-kadang saudara sendiri tidak dipedulikan. “Bang Betawi di mana tinggal?” “Jangan menanyakan tempat tinggal. Saya malu mengatakan. Kalau hidup di Jakarta, bantaran sungai paling mudah.” “Kok mudah?” “Karena hidupnya sama. Sama miskinnya. Sempat saling tersenyum sempat juga bertukar pikiran.” “Oooo begitu!” “Ya, rumah sama. Berdinding koran. Kardus. Syukur kalau berdinding seng. Tidak seperti di Bali. Masih bagus.” Aku terdiam. Karena Bali sudah sesak nafas. Iseng...

Read More

Cerpen Lukisan Bali

“Apa kau tak menyesal mendampingi diriku?” “Menyesal Tuan? Oh, tidak, Tuan. Aku ingin menebus dosa-dosaku terhadap orang tuaku. Aku telah membuat hatinya sakit. Mungkin teramat perih bagi orang tuaku. Aku ingin kesalahan masa laluku terobati dengan menjadi pendamping Tuan.” “Aku berharap kemarahan orang tuaku sedikit reda. Aku memang bersalah meninggalkan orang tuaku saat mereka membutuhkan diriku. Ia juga sedang sakit saat kutinggalkan menuju Paris ini. Entahlah sekarang. Aku sendiri tidak tahu. Apakah masih hidup di Bali ataukah sudah diabenkan. Sudah hampir duapuluh tahun, aku tak menyentuh tanah Bali, Tuan. Semenjak Tuan menerima saya sebagai pembantu di rumah ini, semenjak itulah saya tak pernah berkabar lagi padanya. Saya yakin Tuan, ayahku sudah diabenkan.” Perempuan itu meneteskan air matanya. Ia teringat betapa cinta orang tuanya kepadanya. Satu hal yang tidak bisa diterimanya agar jangan meninggalkan tanah Bali. Tapi, hatinya tak bisa dipisahkan dengan Ricardo. Laki-laki yang mengaku belum beristri. Pertemuan yang hanya sebentar itu membius hatinya. Ia diboyong ke Prancis. Hatinya sempat berbunga-bunga karena keindahan Paris. Itu sebentar saja. Barulah ia tahu bahwa suaminya itu sudah beristri. Hatinya merasa dibohongi. Ia meninggalkan Ricardo. Ia terlunta-lunta. Tak dinyana, ia bertemu dengan sang pelukis di kota Paris yang tak sampai hati melihat deritanya. Ia diajak ke rumahnya dan bekerja sebagai pembantu di sana. Mungkin sudah perjalanan, hatinya terpaut pada sang pelukis. Keduanya menjalin tali kasih. “Terima kasih. Kau seorang perempuan yang berhati putih.”...

Read More