Judi bukanlah barang baru. Dari zaman Mahabrata, sudah ada judi. Bahkan tidak tanggung-tanggung seorang perempuan suci dipertaruhkan di meja judi. Kehormatan seorang perempuan seakan tidak ada. Di Bali juga dalam beberapa kisah menceritakan tentang pengaruh judi seperti kisah Manik Angkeran dan juga kisah Bagus Diarsa.

Permainan judi memabukkan dan kerap menimbulkan lupa diri sebagai manusia. Judi bisa menghancurkan sebuah keluarga. Judi bisa membutakan hati pelakunya. Akan tetapi, betapa sulitnya berpaling dari judi. Pengaruh lingkungan amat besar. Dalam lingkungan yang sering terjadi perjudian secara tidak langsung akan memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Genjek Kadong Isengmelantunkannya dalam Bebotoh(Pejudi).

Seniman genjek peduli terhadap fenomena sosial masyarakat. Seniman genjek menyuarakan kejadian dan dampak sosial dari judi. Judi sabungan ayam dijadikan bahan larik. Tentu saja tidak hanya sabungan ayam bentuk judian yang ada. Masyarakat modern bahkan melakukan perjudian dalam dunia maya.

Dampak Judi bagi Keluarga

Keluarga dibangun dengan penuh kasih sayang. Sejalan dengan perjalanan waktu, karakter-karakter asli akan muncul. Dalam hal inilah, pemahaman dan saling pengertian amat diperlukan. Sebuah keluarga yang di dalamnya lebih mementingan diri tentu tidak akan berjalan harmonis lebih-lebih kalau seorang suami yang sebagai kepala keluarga sudah melupakan tugas-tugasnya. Tugas utamanya tidak hanya menafkahi sang istri secara lahir-batin juga memberikan kedamaian dan keharmonisan. Akan tetapi, jika sang suami lupa diri dan terikat pada judi inilah yang akan merenggut sendi-sendi keharmonisan sebuah keluarga. Kepedulian terhadap istri tercinta akan berkurang karena hati sudah terbalut dengan sabungan ayam: Inguh keneh tiangé/ngelah somah dadi bebotoh/bingung paling peteng lemah/Beli setate sing ade jumah/tusing pesan inget tekéning gegaén/seisin umahé makejang gadéang Beli/yéning Beli menang tusing dadi ape/nanging dikalahé pianak somah dadi sasaran// (resah hati dan pikiranku, punya suami menjadi pejudi, bingung siang malam, kakak selalu tidak ada di rumah, sama sekali tidak ingat dengan pekerjaan, seisi rumah (harta benda) semua digadaikan, jika kakak menang tidak menjadi apapun, akan tetapi, saat kalah anak istri menjadi sasaran).

Dalam syair di atas, keberadaan seorang istri benar-benar tertekan batinnya. Rasa cinta kasih seorang suami yang sebagai pejudi hilang karena dipengaruhi oleh judi. Ketertekanan batin seorang istri menggambarkan betapa tidak pedulinya sang suami. Judi lebih penting dibandingkan dengan tugas dan kewajibannya. Meninggalkan istri tanpa pesan yang jelas tentulah akan membuat sang istri gundah gulana. Pekerjaan pokok sebagai suami juga dilupakan terus apa yang bisa menghidupi keluarga lebih-lebih semua harta sudah digadaikan? Yang muncul biasanya pertengkaran dan saling menyalahkan.

Larik /nanging dikalahé pianak somah dadi sasaran/ (jika kalah anak istri menjadi sasaran). Larik itu mengisyaratkan terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan fisik dan juga kekerasan psikis. Kekerasan ini berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Karena tidak mungkin, anak akan terbiasa melihat kekerasan. Dampaknya, psikis anak akan terpengaruh. Hal ini semestinya tidak boleh terjadi. Tumbuh kembang anak amat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Kekerasan dalam sebuah keluarga dan sebagai manusia berbudaya hal ini tidak pantas dilakoni oleh seorang kepala keluarga. Kepala keluarga yang mestinya memberikan ketenangaan dan keteladanan dalam kehidupan.

Egoisme seorang suami muncul. Permohonan seoarang istri agar sang suami meninggalkan kebiaaan kurang baik itu justru dijawab agar tidak usah mengurusi dirinya. Semestinya bersyukur memiliki istri yang suka mengingatkan perilaku sang suami yang dipandangnya menyimpang. Keharmonisan dalam rumah tangga akan selalu terjaga jika suami-istri saling menghormati, saling menghargai, dan saling menerima kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Pembenaran terhadap perilakunya itu dengan menyatakan bahwa sabungan ayam sedari dulu akan ditutup ternyata tetap bebas: /Eda adi sanget ngitungang déwék beliné/ampurayang yéning beli sanget pesan nyakitin adi/tusing nyandang nyelselin hidup beliné/kadén uling pidan tajéné lakar ketutup/kadén kayang jani dini ditu setate bebas/ento mekerana de sanget nyalahang beli// (jangan adik terlalu memikirkan kakak, maaf jika kakak sangat menyakiti adik,tidak perlu menyesali hidup kakak, bukankah sedari dulu sabungan ayam akan ditutup? bukankah sampai sekarang di mana-mana tetap bebas dijalankan? itu makanya jangan terlalu menyalahkan kakak). Bukannya mengubah kebiasaan berjudinya, justru menyalahkan situasi. Dalam konteks ini, pengaruh lingkungan dan ketidakkonsistenan sikap tampak sebagai seorang suami.

Anomali peraturan disindir dengan amat manis oleh seniman genjek. Peraturan menyatakan bahwa setiap bentuk perjudian dilarang. Akan tetapi, dalam kenyataan sosial sabungan ayam masih tetap berjalan. Seniman genjek mempertanyakan kembali mengenai peraturan itu. Secara tersirat seniman genjek menyatakan tidak satunya peraturan dengan pelaksanaannya. Gejala-gejala sosial seperti ini tentu tidak saja terjadi dalam sabungan ayam.

Istilah Sabungan Ayam

Istilah-istilah sabungan ayam digunakan dengan cukup variatif oleh seniman genjek Kadong Isengdalam Bebotoh (Pejudi). Kreativitas perhitungan taruhan dengan nada disentak-sentak dimainkan. Pendengar akan merasakan nuansa berbeda dalam penggunaan istilah-istilah taruhan dalam sabungan ayam.

Taruhan itu misalnya cok, gasal, nluda, dapang juga istilahpruput. Penggunaan kata-kata taruhan dalam menyelingi syair-syair yang dilantunkan membuat genjek Bebotohlebih atraktif. Selang-seling permainan kata dengan larik: /keneh inguh kantong puyung/ (Pikiran resah dan tidak beruang).

Kata-kata yang diucapkan ini seakan memberi penekanan pada dampak dari sebuah perjudian. Tidak ada sebuah judi memberi ketenangan lahir dan batin. Judi bisa memunculkan egoisme dalam bersikap. Keutuhan sebuah keluarga dipertaruhkan dalam perjudian. Seniman genjek Kadong Isengmemberi isyarat akan dampak kurang bagusnya dari sebuah perjudian. Keluarga bisa berantakan karena sang suami suka berjudi.

Seniman genjek berpesan akan lebih baik lagi tidak sampai larut dalam perjudian. Di samping itu, dengan nada satir, sang seniman mempertanyakan kembali mengenai pelarangan terhadap judi karena melihat kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat. Kepedulian sang seniman terhadap fenomena-fenomena sosial patut mendapatkan apresiasi yang positif.

Kepedulian terhadap masalah-masalah sosial digubahnya ke dalam sebuah syair dengan larik-larik yang menyentuh dan memberikan sebuah renungan untuk menyadari hakikat sebagai sebuah kepala keluarga. Keharmonisan dan kerukunan keluarga lebih utama dibandingkan dengan sebuah permainan judi. Perhatian terhadap tumbuh kembang anak perlu diutamakan. Anak adalah masa depan sebuah keluarga. Anak sudah sepatutnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang kepala keluarga.