Bulan: Maret 2014

Kritik Sosial dalam Genjek

Seniman adalah makhluk sosial. Ia tidak akan berpangku tangan tatkala masyarakat dipenuhi oleh oknum-oknum mabuk kekuasaan, munafik, gila harta. Seorang seniman akan “memberontak” pada ketidakadilan, penguasa yang menindas, menghisap dan menyengsarakan rakyatnya. Seniman menggugat sekaligus mengkritisi keadaan serta memberikan solusi (Wibowo, 2013:108). Seniman melakukan kritik sosial terhadap sebuah ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. Ketimpangan-ketimpangan itu bisa dalam tata pergaulan, tata perbuatan, tata pemerintahan. Sebagai seorang seniman genjek, gelisah melihat ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. Dengan harapan, ketimpangan itu bisa segera diperbaiki sehingga terjalin sebuah keharmonisan. Lantunan-lantunan larik genjek sebagai media dalam penyaluran kritik-kritik sosial itu. Bermediakan seni, kritik-kritik pedas bisa menjadi menghibur yang disindir pun tidak akan merasa direndahkan martabatnya. Justru bisa sebaliknya yang dikritik bisa menyadari bahwa dirinya perlu mengubah perilakunya. Kritik menghibur amat diperlukan. Manusia umumnya tidak bisa menerima jika dikritik secara langsung. Melihat kecenderungan seperti inilah, larik-larik genjek hadir dalam ranah kehidupan manusia. Seniman genjek berolah rasa dengan memainkan kata-kata. Diksi dipilih dan terpilih dengan menggunakan perbandingan-perbandingan dihadirkan. Ketimpangan ekonomi dan harga barang yang selalu naik menjadi perhatian para seniman genjek. Permainan kata yang menyindir sekaligus memberi renungan agar berbuat lebih baik khususnya para pejabat dan pengambil kebijakan hendaknya peduli rakyat. Ketimpanagn ekonomi yang terlalu mecolok akan menimbulkan kecemburuan sosial yang bisa berdampak kurang baik bagi kemajuan sosial-budaya dan ekonomi masyarakat. Kesenjangan ekonomi menurut sang seniman genjek indikasikasikan sebagai sebuah zaman kaliyuga. Dalam Hindu, ada empat kurun zaman (Catur Yuga),...

Read More

Genjek : Pengaruh Judi dalam Keluarga

Judi bukanlah barang baru. Dari zaman Mahabrata, sudah ada judi. Bahkan tidak tanggung-tanggung seorang perempuan suci dipertaruhkan di meja judi. Kehormatan seorang perempuan seakan tidak ada. Di Bali juga dalam beberapa kisah menceritakan tentang pengaruh judi seperti kisah Manik Angkeran dan juga kisah Bagus Diarsa. Permainan judi memabukkan dan kerap menimbulkan lupa diri sebagai manusia. Judi bisa menghancurkan sebuah keluarga. Judi bisa membutakan hati pelakunya. Akan tetapi, betapa sulitnya berpaling dari judi. Pengaruh lingkungan amat besar. Dalam lingkungan yang sering terjadi perjudian secara tidak langsung akan memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Genjek Kadong Isengmelantunkannya dalam Bebotoh(Pejudi). Seniman genjek peduli terhadap fenomena sosial masyarakat. Seniman genjek menyuarakan kejadian dan dampak sosial dari judi. Judi sabungan ayam dijadikan bahan larik. Tentu saja tidak hanya sabungan ayam bentuk judian yang ada. Masyarakat modern bahkan melakukan perjudian dalam dunia maya. Dampak Judi bagi Keluarga Keluarga dibangun dengan penuh kasih sayang. Sejalan dengan perjalanan waktu, karakter-karakter asli akan muncul. Dalam hal inilah, pemahaman dan saling pengertian amat diperlukan. Sebuah keluarga yang di dalamnya lebih mementingan diri tentu tidak akan berjalan harmonis lebih-lebih kalau seorang suami yang sebagai kepala keluarga sudah melupakan tugas-tugasnya. Tugas utamanya tidak hanya menafkahi sang istri secara lahir-batin juga memberikan kedamaian dan keharmonisan. Akan tetapi, jika sang suami lupa diri dan terikat pada judi inilah yang akan merenggut sendi-sendi keharmonisan sebuah keluarga. Kepedulian terhadap istri tercinta akan berkurang karena hati sudah terbalut...

Read More

Genjek, Penjaga dan Pelestari Budaya

Seniman Genjek Kadong Iseng tidak hanya memerhatikan masalah-masalah sosial di luar Seraya. Ia juga memedulikan seni warisannya khususnya seni Gebug yang ada di Desa Seraya agar tetap dijaga dan dilestarikan. Sebagai pewaris budaya, sudah sewajarnya memiliki rasa keterpanggilan untuk selalu menjaga dan melestarikan budaya yang diwarisi dari para leluhur. Gebug Seraya tidak hanya untuk masyarakat Seraya saja. Setiap 17 Agustus, biasanya masyarakat umum bisa menikmati keindahan, keberanian para penari gebug dalam memainkan gebud. Lapangan Candra Bhuwana tempat pementasannya. Tarian ini selalu dinanti-nanti oleh masyarakat Karangasem karena menampilkan kelincahan dan kemampuan penari untuk berkelit. Dua orang penari beradu ketangkasan. Kelengahan berarti kekalahan dan tubuh siap merah karena terkena pecut. Penonton mengitari para penari. Sorak-sorai terdengar.Tangan kiri memegang tameng dan tangan kanan memegang pecut. Pecut ini terbuat dari rotan. Kelincahan penari diiringi tetabuhan membangkitkan semangat untuk merubuhkan lawan. Secara geografis desa Seraya di Kabupaten Karangasem berada paling timur. Desa Seraya paling awal menyambut sinar matahari Bali. Alam yang panas sudah menjadi tantangan tersendiri. Masyarakatnya kuat dalam menghadapi keadaan alam yang panas lebih-lebih berada di perbukitan. Gebug sebagai salah satu seni yang diwarisi sedari dulu. Seni Gebug diharapkan terus lestari meskipun arus pariwisata sudah merambah Desa Seraya khususnya yang berdekatan dengan pantai. Keterpanggilan untuk selalu menjaga, merawat, melestarikan warisan budaya merupakan sebuah tanggung jawab moral: Sujatin ring Sraya saking dumun sampun kasinahang/indik seni gebuk tetamian anak lingsir/ngiring sareng sami patut lestariang mangde...

Read More

Genjek: Mencari Keadilan Hukum

Tatanan hukum yang kurang berkeadilan menarik perhatian dari seniman genjek. Para pelaku seni genjek melantunkan larik-larik yang mengungkapkan ketimpangan-ketimpangan dalam ranah hukum. Seniman genjek tidak berdiam diri. Lantunan-lantunan larik sebagai tanda keterwakilan hatinya terhadap hukum yang dirasakannya, dipikirkannya tidak sesuai dengan harapannya. Hukum mesti berjalan sesuai simbol yang dipilihnya berupa timbangan. Setiap pencari keadilan dirasakannya amat sulit untuk memeroleh keadilan. Ada perasaan tidak terima dengan oknum-oknum penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim) yang justru melakukan perbuatan kurang sesuai dengan ranah hukum. Seniman genjek seperti menyuarakan ketimpangan akan pelaku-pelaku hukum yang tidak taat pada hukum. Yang semestinya menjadi contoh atau teladan dalam hukum justru menyimpang dari hukum: tusing ada jaman jani mengkeban/indik pidabdab pare penegak hukum/beneh lan pelihé/kéweh pesan baan ngenehang/dija ngalih pematut?// (tidak ada jaman sekarang menyembunyikan, tentang perilaku para penegak hukum,benar dan salah, sulit sekali untuk memikirkan, di mana mencari kepastian hukum). Seniman genjek bertanya-tanya di mana akan mencari kebenaran. Ada rasa cemas, was-was akan ketimpang-ketimpangan hukum yang terjadi. Harapannya yang benar dikatakan benar, yang salah dikatakan salah agar seperti timbangan hukum. Sesuai dengan namanya, fungsi timbangan menyeimbangkan antara kedua belah pihak yang bersengketa. Keputusan yang diberikan oleh hakim bisa diterima oleh pencari keadilan: pang seken jujur ngorahang/ané saje orahang beneh/ané tusing orahang pelih/apang saje buke daciné/side nemu keadilan//(agar pasti yang benar disampaikan, yang benar dikatakan benar, yang salah dikatakan salah, agar benar seperti timbangan, berhasil memeroleh keadilan)....

Read More

Genjek: Katakan Tidak pada Narkoba

Pesan yang tertulis pada judul di atas teramat sering dibaca. Pesan itu mengingatkan agar selalu waspada terhadap peredaran narkoba. Narkoba tidak hanya merambah perkotaan saja juga sudah sampai ke pelosok desa. Bahkan kalangan anggota dewan, kalangan yang tahu hukum juga ada yang terpengaruh karena narkoba. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dari semua kalangan baik pemerintah, masyarakat, maupun kalangan pendidik. Amat disayangkan, generasi muda sampai tercemari oleh narkoba. Tidak hanya membahayakan secara fisik juga mental, psikis, dan juga sosial-sepiritual. Tidak jarang para pecandu akan melakukan tindak kriminal yang mengganggu sendi-sendi kehidupan masyarakat. Kerja sama semua komponen masyarakat perlu terus digalakkan agar peredaran narkoba tidak membuat generasi muda penerus bangsa tergantung pada narkoba. Seniman genjek juga tergelitik dengan keberadaan narkoba. Genjek Narkoba mengisyaratkan bahaya dari pengaruh narkoba. Harapannya agar terbina kerja sama dalam memberantas keberadaan narkoba. Menyadari bahaya narkoba membawa pengaruh yang kurang sehat, maka larik-larik genjek menyampaikan pesan-pesannya: unduké jani irage perlu waspada/ané mekade rakyaté sanget resah/obat narkoba ané mentik buka jani/to sube nyusup di tengah masyarakaté/narkoba obat terlarang sampun akéh mebukti/ ané ngeranayang tua bajang buduh paling// (melihat situasi sekarang kita perlu waspada, yang menyebabkan rakyat sangat resah, narkoba yang tumbuh seperti sekarang ini, itu sudah menyebar di tengah masyarakat, narkoba obat terlarang sudah banyak terbukti, yang menyebabkan tua muda terganggu jiwanya). Perhatian dan kewaspadaan perlu terus ditumbuhkan. Narkoba seperti tertulis di atas sudah memengaruhi kalangan orang tua maupun...

Read More
  • 1
  • 2