Bulan: November 2013

Cerpen Indah Itu Luka

Aku Indah. Nama pemberian orang tuaku. Kelahiranku memang tidak terlalu diharapkan oleh ayahku. Ayahku curiga pada ibuku. Saat menikah dengan ayahku, ibuku sudah berbadan dua.  Tidak meyakini bahwa yang dikandung ibuku darah dagingnya. Berulang kali, ayahku meminta agar ibuku mau menggugurkan kandungannya. Tapi, tak diturutinya. Kata hatinya berkata, yang di rahimnya adalah benih dari ayahku. Ibuku memang cantik. Banyak laki – laki yang terpikat pada kecantikannya. Ia idola di banjarku. Hampir setiap lelaki yang normal menaruh hati padanya. Ibuku menyadari hal itu. Hampir setiap malam ada saja laki – laki yang mengunjungi rumah kakekku. Kakekku tumbuh juga kekhawtirannya. “ Jangan – jangan ibuku akan menjadi luh jalir di banjarku.” Nama baik keluarga bisa hancur karena kelakuan anaknya. Ibuku memang rebutan. Bapa Ardana sampai berani menjual harta warisannya untuk membeli guna – guna agar mampu menyunting hati ibuku. Bapa Kertia lain lagi. Ia belajar pada seorang balian agar dapat menguasai ilmu pelet. Bapa Rupawan bahkan berjanji akan memenuhi segala keinginannya jika mampu memperistri ibuku. Tapi, tak satupun yang menyentuh hati ibuku. Setiap yang datang selalu dianggapnya sebagai kakaknya. Entah kenapa ibuku justru terpikat pada ayahku sekarang ini. Ayahku tidak ganteng dan juga tidak kaya seperti laki – laki yang menaruh hati pada ibuku. Ayahku menurut penilaianku biasa – biasa saja. Tapi, hati ibuku seperti terhipnotis saat bertemu dengannya. Saat ayahku menyatakan cintanya, ibuku langsung membalasnya. Ayahku pun tidak terlalu yakin...

Read More

Cerpen Hamil

Faisah hamil. Sebagai seorang istri, ia merasa bersyukur. Sudah lima tahun ia menanti sebuah kehamilan. Usahanya tidak sia – sia. Tabib – tabib yang pernah didatanginya menyatakan bahwa Faisah tidak mungkin bisa hamil karena ada gangguan pada rahimnya. Dokter sepesialis kandungan juga menyatakan hal yang sama. Faisal tidak bisa hamil, tapi nyatanya ia bisa hamil. Nurdin, suaminya juga merasa bahagia. Sebagai seorang laki – laki ia merasa jantan karena mampu menghamili istri tercintanya. Setiap datang dari kerja, ia mengelus – elus kehamilan istrinya. Kadang – kadang dibisiki kata – kata yang berisi harapan pada anaknya. “ Jadilah anak yang berbakti pada orang tua. Jadilah seorang anak yang pantang menyerah. Jadilah seorang anak yang bisa memimpin diri sendiri, sebelum memimpin orang lain.” Ada geliat pada kehamilan Faisah. Ia tatapi gerakan – gerakan anaknya. “ Bu lihat anak kita tampak gembira melihat kita akur.” Faisah memeluk suaminya. “ Aku saying, Mas. Karena Mas, saya bisa menjadi seorang ibu. Anak kita akan memanggil kita ayah dan ibu. Aku sudah lama menanti panggilan itu.” “ Sama Bu. Aku  rasanya sudah ingin memomongnya.” Malam berjalan, suami istri itu tertidur. Mereka menikmati indahnya mimpi.Dengan mimpi, melewati gejolak hidup yang semakin tak menentu.   Bayangan kakeknya hadir dalam mimpinya. Kakeknya amat mengasihi cucunya. Apalagi Faisah dikenalnya sedari kecil. Faisal juga amat hormat pada kakek Nurdin. Pertemuannya pun sepertinya diatur oleh sang kakek. “ Anakku, jagalah kehamilan itu....

Read More

Cerpen Derita Ibu Deritaku

Ayahku terkena struk. Sudah hampir setahun ini ibu dan aku disibukkan untuk mengurus ayahku. Pengeluaran keluargaku semakin bertambah. Biaya rumah tangga, adat, dan biaya pengobatan. Tabungan Ibu semakin hari semakin menipis. Ayahku dulu seorang kabag sebuah  dinas. Ia tidak bisa terima saat tiba – tiba terjadi mutasi besar – besaran di dinasnya. Ayahku bukannya hanya dicopot jabatannya, tapi juga diturunkan pangkatnya. Alasan penurunannya karena tidak loyal pada atasan. Ayahku memang agak idealis. Ia sering mengutarakan ketimpangan – ketimpangan yang  terjadi di dinasnya. Ayahku tak mau diajak membuat laporan fiktif terhadap sebuah proyek yang didanai dari pusat. Kepala dinas tidak terima . Ayahku kena getahnya. Tidak lagi menjadi kabag. Ia menjadi pegawai biasa, tanpa jabatan. Rupanya ayahku tak bisa terima. Ia merasa sakit hati.  Karena tak kuat lagi, ia terkena struk. Awalnya mulutnya yang miring. Kedua kaki dan tangannya menjadi kaku. Terakhir ayahku tak bisa bicara lagi. Ibuku sudah berusaha mencarikan obat. Beberapa balian sudah didatangi. Pengobatan alternatif juga dijalani. Tabib – tabib yang mempromosikan dirinya di media massa sudah kami datangi. Toh Ayahku tak bisa sembuh. Sekarang, ia hanya bisa duduk dikursi dengan pandangan kosong. Karena sakitnya yang teramat sangat itu, ayahku dipensiunkan. Meski usia pensiunnya sebenarnya belum waktunya. Otomatis gajinya juga tidak penuh kami dapatkan. Keluargaku berusaha menerima cobaan ini. Ibuku berusaha semaksimal mungkin menutupi pengeluaran keluargaku. Ia mengajar di sebuah SMP Negeri. Sorenya dengan terpaksa mengadakan les...

Read More

Cerpen Berita Hangat

“ Aku mesti bisa mengubah nasibku. Tidak ada yang mampu mengubah jalan hidup seseorang kalau bukan dari orangnya,” bisik Gede Aditya. Ia hidup dalam kesendirian. Ayahnya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya, sedangkan ibunya menikah lagi . Dalam kesehariannya, ia hidup dengan berjualan surat kabar. Orang menyebutnya sebagai loper koran. Penjaja warta kepada pencinta berita. Aditya tidak tamat SMP. Ia tak kenal baju putih dengan celana biru. Yang sempat dikenalnya hanya celana merah. Tapi, ia tetap bersyukur karena masih sempat belajar membaca. Sebelum koran – Koran itu dijualnya. I baca dulu hingga bisa sedikit menceritakan kepada pembeli mengenai isinya. “ Berita hangat ! Berita hangat !” Sapanya.” Ada demo. Ada bentrokan antarbanjar. Ada pencurian. Ada koruptor yang lari ke Singapura. Koran ! Koran! Koran !” Satu, dua  sepeda motor berhenti dan membeli korannya. “ Terima kasih Pak!” sapanya dengan enuh hormat. Orang – orang itu ngeloyor pergi dan meninggalkannya. Aditya kembali memanggil – manggil pembeli. “ Koran ! Koran! Ada perampokan di siang bolong. Ini lihat ! “ Gede Aditya memperlihatkan gambar orang yang diikat. Mulutnya disumpal dengan kain. “ Cari satu, Dik!” “ Terima kasih, Pak.” Aditya dikenal sebagai loper koran yang ramah. Jika ada pembeli, yang hanya baca – baca sambil bolak – balikkan halamannya, ia tak marah.  Hitung – hitung cari teman. Ia  menghitung penjualan korannya di hari itu. Lumayan lakunya. Ucapan syukur tiada henti – henti...

Read More

Cerpen Arisan

Istriku punya kebiasaan terbaru. Ia mengumpulkan teman – temannya untuk mengadakan arisan. Anehnya semuanya menyambutnya dengan suka cita. Bahkan disertai canda tawa. Arisan pertama, arisan alat – alat rumah tangga. Sebelum arisan dilaksanakan, seperti biasa disertai dengan kegiatan ngrumpi. Yang diceritakan tentang suaminya yang tak betah di rumah. Anak yang  tak menurut pada orang tua. Anak gadisnya yang meminta HP . Tetangga yang memiliki mobil baru. Yang paling dominan ceritanya tentang suami yang suka berselingkuh. Terkadang aku tinggalkan mereka saat ngrumpi. Waktu yang dihabiskan untuk mengocok undian yang hanya beberapa menit dikalahkan dengan cerita ngalor ngidul yang kuanggap   tak perlu. Agar tak membuat tersinggung, aku berusaha tersenyum saat meninggalkan mereka. “ Maaf, tiang mau ke rumah sakit sebentar. Teman kantor tiang ada yang kecelakaan kemarin.” Aku sengaja tidak memberikan mereka melanjutkan bertanya.Misalnya, kapan kecelakaannya? Di mana kecelakaan? Dengan siapa bertabrakan? Toh tidak akan diperlukan baginya. Aku cepat – cepat pergi. Saat aku pulang. Kutemui istriku dengan senyumnya yang khas. Ia manja sekali. “ Bli tadi aku yang dapat undiannya. Itu lihat barangnya?” Istriku menunjuk pada sebuah panci dan alat masak yang lain. “ Kan sudah punya alat masak. Kenapa mau ngambilnya? Kasi yang belum punya.” “ Ah, Bli. Bisa untuk nanti.” “ Ya, sudah.Kumpulkan saja. Biar jadi sarang tikus.” Istriku merasa tersinggung. Ia cemberut. Aku tinnggalkan saja dia sendirian. Aku cuci tangan lalu mandi. Takut ada tertempel virus di...

Read More