Bulan: November 2013

Cerpen Kobi

Suamiku  laki – laki yang tangguh. Tubuhnya atletis. Tinggi. Wajahnya lumayan. Kukenal pertama kali saat aku bekerja di  Kuta. Kupanggil Kobi. Ia anak campuran Ayahnya Ambon . Ibunya Jawa. Aku bekerja sebagai waitres sebuah hotel . Kobi bekerja sebagai gaid freelance. Ia juga pintar berselancar. Banyak turis mancanegara belajar  padanya. Aku bangga punya suami yang mampu melayani orang lain. Ia amat dikenal di antara sesama pemandu peselancar. Hampir setiap peselancar mengakui kelebihan – kelebihannya. Liukkannya saat bermain – main dengan ombak susah ditiru. Ia  menjadi idola para peselancar. Keseimbangan tubuhnya benar – benar dijaga. Ia ramah pada setiap orang yang mencari penghidupan di Kuta. Apalagi terhadap tamu asing. Tamu meski dihormati dan diperlakukan seperti diri sendiri. Hendaknya bisa menjadi pelayan yang baik. Pelayanan  nomor satu jika ingin bercengkrama dengan turis. Keluargaku  tidak menaruh simpati padanya. Masa depan Kobi  tidak menjanjikan.  “Seorang freelance tidak akan mampu membahagiakan sebuah keluarga. Keluarga tidak hanya dibangun dengan cinta. Perlu uang, “ katanya. Cinta ternyata mengalahkan segalanya. Aku menikah meski tanpa restu keluarga. Aku menikah tanpa disaksikan oleh keluarga. Aku dibawa ke Jakarta. Ayahnya bekerja di sana. Upacara pernikahan berjalan lancar – lancar saja. Aku pindah agama. Semenjak itulah, aku baru tahu bahwa Kobi berasal dari keluarga tak harmonis. Ayahnya menceraikan istrinya karena ketahuan menghianati tali pernikahannya. Tapi, saat pernikahan kami, ibunya diundangnya juga. Aku dipeluknya erat sekali. Tetesan air mata perlahan – lahan...

Read More

Cerpen Kembang Semusim

Luh Purnami menghilang.  Telah beberapa orang diutus untuk mencarinya. Warga banjar mengeluarkan gongnya. Diperkirakan Luh Purnami disembunyikan memedi. Jurang dan sungai didekat rumahnya disusuri. Luh Purnami tak ditemukan juga. Mereka sepakat Luh Purnami tidak akan kembali lagi. Luh Purnami dulu bekerja pada sebuah LPD. Lembaga Perkeriditan Desa yang mengharapkan rakyat di desa bisa lebih makmur. Bisa lebih enak hidupnya. Rumor berkembang, Luh Purnami menggelapkan uang LPD. Lebih –lebih semenjak ia menjadi bendahara LPD, kehidupannya semakin membaik. Rumahnya diperbaikinya. Ayahnya semakin jarang  marah – marah. Orang di banjar itu mengibaratkan dirinya kembang semusim. Sebuah kembang yang memberi keindahan hanya beberapa bulan. Lalu menghilang. Ia gadis yang tahu  menempatkan dirinya. Ia menyadari  berasal dari keluarga yang tidak akur. Ia  lupa  menikah. Seakan tidak ada waktu untuk memikirkan seorang laki – laki. Ia lebih senang hidup menyendiri, single parent sering digelari. Baginya, menikah akan membuatnya terganggu. Hidup mesti dibagi. Ia seakan tidak rela diatur oleh seorang laki – laki. Ada  yang mengatakan ia tidak menikah karena orang tuanya bercerai. Ibunya selalu mendapatkan siksaan. Hati kecilnya berkata,” Laki – laki tidak pernah hormat pada seorang perempuan.” Waktu terus berjalan. Orang – orang di banjar itu tidak ada yang ingat lagi. Seperti biasa, setelah 42 hari tidak akan ingat lagi pada masalah. Kedudukan Luh Purnami sudah diganti oleh Ketut Wiratni. Ketut Wiratni sedikit kelabakan karena ia di samping belum siap juga tidak terlalu paham...

Read More

Cerpen Kaca Mata

“ Mana kaca mataku? Mana kaca mataku?’ teriak Nenek Rika. Ia tak bisa melihat tanpa bantuan kaca mata. Gangguan matanya cukup membuat pusing suaminya, Kakek Brata. Mata kananya plus. Mata kirinya selinder. Telah beberapa kali diperiksakan pada dokter ahli mata. Toh tak sembuh dengan baik. Nenek Rika dulunya seorang pejabat di sebuah BUMN. Ia katanya pernah menjabat direksi. Tapi, karena terlalu mengikuti keinginannya, ia tertangkap tangan saat melakukan transaksi dengan seorang markus. Nenek terlalu banyak menilep uang perusahaannya. Agar terbebas dari jeratan hokum, nenek bersedia membayar mahal komplotan markus. Hari – hari tua nenek Rika dihabiskan dengan merenungi jalan nasibnya. Ia lebih banyak mendekatkan hatinya pada Yang Kuasa. Hampir tidak ada hari tanpa mendengarkan kotbah dari pemuka – pemuka agama. Nenek Rika berharap dalam sisia hidupnya masih ada yang bisa diperbuatnya. Meski telah banyak yang ditinggalkannya. Salah satu yang lama menjadi musuhnya adalah ia tak biiasa berkata jujur. Dengan hatinya sendiri ia sering berbohong apalagi pada orang lain. Meski begitu ia berhararap banyak pada perubahan yang terjadi pada dirinya. Minimal dalam detik – detik terakhirnya ada keringanan hukuman yang dirasakannya. Dalam setiap perkataannya nenek selalu saja berakhir dengan ampun dan puja – puji pada Tuhan. Setiap yang ada yang menanyai apa yang membuatnya berubah. Ia selalu menjawab. “ Ampun, aku sudah mendekatkan diri pada Tuhan. Jangan diganggu lagi dengan hal – hal yang bersifat duniawi. Aku ingin merasakan kesejukan...

Read More

Cerpen Jembatan Bambu

Liukan air di bawah jembatan itu seperti membisikkan sesuatu pada Made Arka. Ia tak segan – segan memelototi arah dan akhir jalannya air. Ia seperti berpikir bahwa hidup ibaratnya aliran air. Terkadang jernih. Terkadang keruh. Kadang berbau. Kadang pekat. Ia perhatikan  liukkan air membentur batu . Sela – sela batu seperti memberikan jalan. Air di bawah jembatan itu tak pernah berhenti mengalir. Seperti aliran hidup yang tiada pernah terputus. Di hulu jembatan itu, terdapat sebuah terowongan kecil sebagai penghubung sumbar mata air yang di hulunya. Arka  seperti ingat betul tempat – tempat itu. Tanah yang sekarang ini sudah disulap menjadi ruko dan sisanya untuk bangunan sekolah sebuah SMA sebenarnya tanah orang tuanya dulu. Ia tak berani menentang sebuah keputusan. Jika itu dilawannya mungkin hari ini tak sempat lagi melihat liukkan air di bawah jembatan itu. Jembatan itu terbuat dari bambu. Di samping kanan dan kirinya dipasangi penyangga dari turus hidup. Turus hidup itu menunjukkan dirinya bisa hidup meski dibebani dengan empat buah bambu. Bambu – bamb itu sepertinya punya kuasa terhadap kehidupannya. Dalam himpitan hidupnya itu, turus hidup masih bisa bertahan dan menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah pohon. Pohon – pohon itu memberikan sedikit kesejukan, meski terkadang tangan – tangan tak bertanggung jawab mencabutnya. Ia tak marah. Bahkan, tumbuh lagi dengan tunas baru. Arka terbiasa berdiri di tengah – tengah jembatan bambu itu. Ia mampu berlama – lama memperhatikan liukkan...

Read More

Cerpen Janet

Janet saking Australi. Ipun kantun bajang. Jejeeg ipuné langsing. Bok ipuné cendet  masawang gading kadi bungan jagung. Kulit ipuné putih sentak. Sanunggil sané ngantenang minab jagi nué rasa demen ring ipun.  Kocap  ipun kantun dados mahasisia ring universitas ring Perth. Ipun meled pisan uning indik budaya sané wénten ring Bali. Ipun cumpu ring kebudayaan sané wénten ring Bali. Manahang ipun wantah ring Bali manten sané pinih soléha panggihin ipun. Sadurung ka Bali, ipun taler maosin buku – buku indik budaya Bali. Sané masurat antuk basa Inggris pinih seringa baosin ipun. Tiosan ring buku mabasa Indonésia. Midep taler ipun mabasa Indonésia. Ring Australi taler polih basa Indonésia, yadiastun durung cacep pisan. Sakéwanten gumanti tetikas anak duranagara sané demen mlajah. Gelis taler ipun mabasa Indonesia. Kija – kija makta buku. Galahné jarang anggén ipun nuturang anak lian. Katahan anggéna sané mabuat ring kauripan kakaryanin. Sasih dinginé ring Australi anggén ipun galah ka Bali. Ipun sampun nué timpal mawit saking facebook . Mawasta Wayan Widana.  Ring facebook-e, Wayan Widana nyantenang déwék Bli Wayan. Mangda dangan kocap mabaosan.  Wayan Widana ngrereh ipun ring Bandara Ngurah Rai. Wayan Widana makta sesuratan Janet . Nénten sué Wayan Widana ngantosang. Janet sampun makenyem pateh kadi kenyemné ring facebook-é. Makesiyur  manahné  Wayan Widana. Jadma bajang jegég wénten ring arepné. Sang kalih ka parkirané. Mabaos – baosan . Sarwi saling kenyemin. Wayan Widana nénten purun ngebutang makta mobilné....

Read More