Entah sudah berapa kali aku menenggok ke ruang dokter. Aku menunggu giliran untuk memeriksakan diri. Penyakit yang kuderita memang rada misterius. Beberapa balian mengatakan bahwa aku ini terkena pepasangan. Pepasangan itu akan bereaksi saat menjelang Kajeng Kliwon. Setiap akan menjelang Kajeng Kliwon, pasti aku tidak bisa tidur, gelisah. Mata mengantuk , tapi otak  tetap berjalan seperti bersuka cita.

“Bu dapat giliran nomor berapa?”

“Nomor sembilan.”

“Bapak nomor berapa?”

“Nomor dua belas. Bisa ditukar Bu?”

“Maaf Pak. Tiang juga ingin cepat sembuh.”

Aku tidak berani lagi melanjutkan permintaanku. Aku menyadari semua orang ingin cepat sehat. Aku semakin gelisah. Kepalaku tidak bisa diajak kompromi lagi. Sakitnya minta ampun. Aku memegang kepalaku. Mataku melotot. Orang-orang di sampingku berusah membantuku. Ia memijat-mijat kepalaku. Urat di leherku diurut secara pelan-pelan. Aku merasakan ketenangan. Aku tarik nafas.

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama. Tiang dulu juga pernah seperti Bapak.”

“Maksud Bapak? Sakit kepala seperti ditusuk dengan paku merah?”

“Benar. Tiang carikan balian. Balian Bali dan balian Lombok. Tiang kombinasikan. Lama sekali prosesnya. Tiang akhirnya bisa lebih baik. Sekarang, tiang bantu dengan obat dokter. Kalau tidak dikombinasikan mungkin nyawa saya sudah melayang.”

“Nanti akan tiang ikuti saran Bapak.”

“Sebaiknya seperti itu. Penyakit kalau dipelihara ia akan merasa disanjung. Obati saja.”

“Terus balian Balinya dari mana?”

Lelaki di sampingku menuliskan alamat dukun yang membantu penyembuhannya dulu.  “Ini dari Bali. Ini yang dari Lombok.”

“Yang dari Bali dulu. Setelah itu, balian yang dari Lombok.”

“Itu lebih baik.”

“Bapak Gede silakan masuk.”

“Maaf, tiang duluan.”

“Silakan.”

Aku memasuki ruangan dokter. Dokter menyuruh buka baju. Jantungku di tekan-tekan dengan stetoskop. Kepalaku di pegang.

“Pak kepala Bapak panas sekali. Tekanan darah Bapak cukup tinggi. Bapak sebaiknya mengurangi makan daging.”

“Tiang sudah enam bulan tidak menyentuh daging. Tapi tekanan darah tiang tetap tinggi dan kepala ini rasanya mau pecah.”

“Ada yang Bapak pikirkan?”

“Rasanya tidak.”

“Sering terjadi, kita tidak merasa memikirkan sesuatu, tetapi sebenarnya memikirkan. Alam bawah sadar, tidak pernah istirahat. Ini saya beri Bapak obat. Ingat kurangi memikirkan sesuatu yang tidak perlu.”

Aku memang sering merasa curiga dengan setiap orang yang mendekati istriku. Dulu, istriku menjadi idola di kampusku. Wajar kecantikannya menjadi incaran para lelaki yang kurang kerjaan. Aku menjadi kurang percaya padanya. Aku sering mendapatkan pujian dari teman-temanku. “Pak, istrinya cantik.”

Dari nada bicaranya aku menjadi curiga terhadap istriku. Apa maksudnya? Apakah ini yang menyebabkan aku tidak bisa tidur. Kepala sering sakit. Jantung berdebar-debar. Tapi, aku berusaha menenangkan diri. “Terima kasih.”

Karena semakin sering pujian-pujian itu kudengar. Kecurigaanku menumpuk di pikiranku. Aku memata-matai istriku. Setiap ada SMS yang diterimanya pasti aku lebih dulu yang membacanya. Ada telepon untuknya pasti aku yang mengambilnya. Istriku sampai jenuh dengan sikapku. “Apa maunya Bapak. Ini Hp tiang.”

“Apa tidak boleh tiang membaca SMS Ibu?”

“Boleh! Tapi, kenapa setiap ada SMS Bapak ngecek dan mencari siapa yang mengirimi?”

“Hanya ingin tahu saja.”

“Tidak mungkin kalau hanya ingin tahu. Pasti Bapak curiga sama tiang.”

“Oh tidak.”

Aku segera meninggalkan rumahku. Aku pergi menuju lapangan sepak bola. Aku berolah raga. Aku kellingi lapangan sepak bola hampir sepuluh kali. Biar bisa lelah dan cepat bisa tidur.

“Tumben bapak itu berlari seperti itu. “

“Memangnya ada yang aneh?”

“Masak larinya seperti orang kesurupan. Bisa-bisa jantungnya terganggu.”

“Mungkin lagi semangat berolah raga.”

Aku tidak memedulikan perkataan orang-orang yang berolah raga sore itu. Aku terus berlari dan berlari. Aku ngos-ngosan. Aku berjalan sempoyangan. Blag! Aku terjerembab. Orang-orang di lapangan menggotongku. Bajuku  dibuka. Ada yang mengambilkan air putih.

“Bapak jangan terus memacu larinya. Seperti ini jadinya.”

“Terima kasih.” Aku menenangkan diri. Aku pulang. Kudengar istriku sedang bersenda gurau dengan seseorang. Kudengar pembicaraannya bernada romantis.

“Bapak dari mana?”

Istriku mematikan Hp-nya. Kulihat tangannya segera menghapus nomor yang meneleponnya.

“Bapak sakit?”

Aku tak menjawab. Aku menuju tempat tidur. Mataku ngantuk. Mungkin karena kelelahan. Aku tertidur. Kulihat wajah istriku amat cantik dan wajah laki-laki sedang menunggu giliran. Aku menjerit. Tanganku mencengkram wajah-wajah itu. Darahnya merembes.

“Pak bangun! Bangun! Ada yang mencari.”

Kubuka mataku. Kulihat wajah orang-orang yang hadir dalam mimpiku tadi.

Catatan
Balian: dukun
Pepasangan: benda-benda gaib yang diyakini mampu mengganggu
Tiang: saya
Kajeng Kliwon: nama hari raya yang datangnya setiap 15 hari sekali