Sahabatku Wulang. Terkadang kupanggil Langu. Keindahan kira- kira maknanya. Lelaki yang kukenal di Jogya dulu. Perkenalan kami saat makan di Malioboro. Makan lesehan sambil menikmati masakan khas kota Jogyakarta, gudeg. Saat itu, aku pas berhadap – hadapan. Ia di depanku. Ia tidak makan. Cuma memesan kopi jahe.

“ Kenalkan,aku Wulang.”

Aku menjabat tangannya. “ Aku Nyoman.”

“ Aku sudah tahu.”

“ Lho kok sudah tahu?” Aku balik bertanya.

“ Nyoman kuliah di UGM. Jurusan Filsapat.”

“ Benar!”

Aku sedikit heran. Kenapa ia begitu kenal denganku? Padahal aku sendiri tidak tahu siapa Wulang. Jangan – jangan punya mata –mata.

“ Bang Wulang kuliah di mana?”

“ Aku kuliah di Malioboro.”

Kami tertawa.

Semenjak perkenalan itu, hampir setiap Sabtu kami bertemu. Aku juga ingin tahu siapa sebenarnya Wulang. Kutanyakan pada penjual gudeg.

“ Mbak Rika kenal dengan Wulang?”

“ Siapa yang tak kenal dia. Ia Presiden Malioboro.”

“ Ah, Mbak ngerjain .”

“ Benar . Ia Presiden  di sini. Tentu berbeda  dengan presiden di  Jakarta sana. Presiden Malioboro tak pernah dapat gaji. Tidak ada Paspanpres. Tidak ada mobil yang pakai sirena itu. Presiden Malioboro melepaskan diri dari keterikatan. Kudengar juga ia keturunan raja. Tapi, ndak mau jadi raja.  ” Mbak Rika tertawa.

“ Kok Mbak tertawa?”

“ Mbak ingat dengan kisah Sutasoma. Ia ndak mau menjadi raja. Lebih suka dengan petualangan menemukan Sang Diri. Kalau sekarang, mana ada seperti itu. Pasti rebutan. Ndak ada yang mengalah. “

“ Wulang diangkat jadi presiden oleh anak – anak Malioboro . Ia Sangalana. Pengelana mencari makna hidup. Ia pernah kuliah. Tapi, tak nyambung. Mata kuliah perpuisian lebih menantangnya.”

Penjual gudeg itu tersenyum. Tangannya cekatan menyiapkan gudeg buatku.”Ini gudegnya.” Aku menikmatinya.

“Pemilihannya benar – benar demokratis. Tidak ada kecurangan yang terdengar. Tidak ada kartu panggilan. Apalagi  money politic. Benar – benar bersih. Pemilih itu yang merasa terpanggil. Kebetulan pemilihan itu dilakukan di sini. “

“ Saat pemilihan, semua peserta wajib menulis sebuah puisi. Ini masih kusimpan puisinya. “  Mbak Rika mengeluarkan puisi – puisi yang tertinggal.

“Setelah menulis lantas membacakannya. Ramai dan menarik. Warung ini lumayan ramai jadinya. “

Aku manggut – manggut. “ Pantesan semua temanku kenal padanya. Jika tak kenal sama Presiden Malioboro, katanya rugi kuliah di Jogya. Mendingan pulang saja.” Teman – temanku meledekku.

“ Itu Pak Presiden datang. “ Tangan Mbak Rika menunjuk pada Wulang. “ Kedatangannya tak usah dipikirkan. Terkadang kalau terlalu diharapkan Pak Presiden tak datang. Kalau datang, bisa menyamar. Kunjungannya mendadak. Turba ( turun ke bawah) seperti kata – kata bapak – bapak yang di Jakarta itu. “

Wulang kulihat tumben agak  necis.

“ Presiden yang merakyat ,”  bisikku. “ Jika setiap presiden seperti Wulang. Tentu  terbiasa mendengar suara rakyat.Tidak akan ada demo yang membakar ban. Tak ada lemparan batu. Tak ada pentungan yang mematahkan leher. Tidak ada darah dan nyawa melayang.  ”

Aku dan teman – temanku bersiap menyambut kedatangannya. Meski hati ini degdegan juga. Pak Presidan tidak menghampiri kami. Ia justru menatap awan  dan sepasang burung elang yang melintas tepat di depannya. Sampai menghilang di sapu awan.

Pak Presiden tersenyum. Entah apa yang membuatnya berseri – seri?Apa karena elang itu? Apa karena kami yang dilihatnya agak lucu ? Yang jelas kami tak berani berkata.

“ Sudah lama.”

Kami saling pandang. Aku jawab baru saja. Temanku mengatakan sudah dari tadi.

“ Lho. Mana yang benar ?”

Kami kembali saling pandang. “ Nyoman sudah duluan menunggu. Aku baru saja.” Temanku Haris  memberikan penjelasan.

“ Mana puisimu, Haris? “

“ Ini, Pak Presiden.” Kami serempak mengeluarkan puisi.

“ Ini bukan puisi. Ini rintihanmu.”

Aku mau tertawa. Aku tahan. Tak berani. Aku  kurang yakin akan puisiku. Apakah bagus atau tidak.

“ Ayo sana!” bentaknya. “ Buat puisi lagi.Malu- maluin  saja.”

“ Nyoman mana puisimu?”

Aku menyerahkan kertas putih. Yang menurutku bukan puisi. Tapi sakadar corat – coret saja.”

Pak Presiden membacanya berulang – ulang. Ia komat – kamit seperti pawang hujan. Keningnya sedikit berkerut. Wulang seperti mengingat – ingat sesuatu. Ia mangguk – mangguk. Justru aku yang keringatan.

“ Ini puisi.Tapi, perlu digulat lagi.Biar lebih menukik pada jiwa puisi.”

Temanku seperti kecewa.

“ Ayo sana! Kita kumpul di pinggiran sana. Biar lebih leluasa. Kita nikmati malam ini dengan puisi. Biar sampai pagi. Toh juga besok kau tak kuliah.”

Kami mencari tempat yang lebih luas . Koran bekas sebagai alas duduk kami. Kami  melingkar. Di tengah lingkaran sengaja kami nyalakan sebuah lilin. Sinarnya meliuk – liuk diterpa angin.

Aku disuruh membaca puisiku. Aku baca biasa saja. Tampaknya Pak Presiden menikmati.

“ Kau akan menjadi penulis nantinya.Meski kau kuliah di Filsapat. Puisi itu akan mengantarkanmu menjadi seorang filosof yang bagus.”

Bapak presiden memujiku. Menurut teman – temanku, jarang sekali kata – kata pujian yang keluar dari bibirnya. Tumben pujian itu datang lagi.

Pagi menjemput kami. Kami kembali ke tempat kos. Sabtu depan kami mesti membawa puisi yang baru lagi.

Aku berusaha membuat puisi yang sejenis dengan yang dipujinya Sabtu lalu. Tapi, sampai batas akhir tak juga kunjung tercipta. Aku mau menangis. “ Oh, Dewi, Keindahan . Bantulah diriku. Biar dapat kucipta sebuah puisi untuk Bapak Presiden. “

Kertas yang kutulisi hampir tak beraturan lagi. Kucorat –coriti semau perasaanku. “ Biar tak kenapa. Biar aku dihukum.”

Sabtu tiba. Aku kembali bersama teman – temanku ke Malioboro. Sampai larut malam, Pak Presiden tidak datang.

“ Kira – kira ke mana kunjungan Presiden kita?”

“ Mana aku tahu?”

“ Ayo kita ke rumahnya.”

“ Di mana ia tinggal?”

“ Aku tak tahu.”

“ Tadi mengajak ke rumahnya.”

“ Kita sama – sama tak tahu rumahnya. Sama – sama tak pernah menanyakan di mana istana  Pak Presiden .”

“ Dulu, ia mengatakan berumah di atas angin.”

“Ah, kau ada – ada saja.”

“ Kita pulang saja.”

Kami pun pulang ke tempat kos masing – masing.

Minggu malamnya. Tiba – tiba Pak Presiden datang ke kosku. Aku kaget.
“ Malam Pak Presiden.”

Ia tak menyahut. Ia duduk di kursi. Ia lihati tumpukan bukuku yang tak beraturan.
“ Nyoman, aku mau ke Bali.”

“ Kapan?”

“ Ya. Dekat – dekat ini.”

“ Untuk apa?”

“ Aku mau bertemu Ni Reneng. “

“ Pak Presiden kenal Ni Reneng.”

“ Belum. Ku dengar ia seorang penari. Aku mengagumi keindahan tariannya. Puisi itu sama seperti tarian. Ada iramanya.  Ada sentakannya. Kadang mendayu. Kadang sedikit keras. “

“ Kebeulan Pak Presiden. Mulai Senin depan kami libur semesteran. Kita sama – sama ke Bali.”

“ Baiklah! ”

Diperjalanan kami tak banyak bicara. Aku tahu pak Presiden tak senang diganggu. Kapal kami merapat di Gilimanuk. Kami kembali ke bus. Wajahnya berbinar saat memasuki alam Bali. “ Mistis. Nuansa religius kurasakan di sini.” Bisiknya.

“ Benar Pak Presiden ?”

“ Jangan panggil aku Pak Presiden. Panggil saja Wulang. Nanti kedengaran  sama penumpang sebelah . Malu – maluin saja. “

“ Baik Langu.”

“ Ah, kau Nyoman.” Wulang tertawa. Tumben ia tertawa lepas. Mungkin menikmati  Bali.

“ Bali itu puisi. Bali itu keindahan,“ pujinya. “ Kau mesti bisa merawat Bali. Jangan sakiti Balimu. Aku saja bersyukur memiliki Bali. Mestinya, Nyoman lebih bersyukur lagi.

“ Bagiku, Bali itu gula . “

“ Jangan begitu, kau lahir, hidup atau mungkin mati di Bali. Termasuk aku mau mati di Bali.”

“ Ah, Bang Wulang. Jangan mikir yang nggak – nggak.”

Sampai di terminal Ubung. Kami istirahat sejenak sambil menikmati kopi Bali. “ Kita langsung saja ke Ni Reneng. “

Tampaknya Wulang sudah tak sabaran. Kuajak ke rumah Ni Reneng.  Wulang kaget.  Rumah Ni Reneng  sudah terkunci.