Tepat Saraswati ini, 10 Agustus, aku ingat dengan seseorang. Ia pemelihara kuda. Bukan hanya ratusan kuda bahkan ribuan kuda dipeliharanya. Kesukaannya menuliskan setiap kuda menjadi beberapa puisi. Setiap judul yang diciptakannya selalu ditempelkannya. Dinding hatinya bertaburan beberapa puisi. Ia sengaja menata puisi-puisinya itu seperti menata kata-katanya. Keindahan kata yang diciptakannya mencerahkan  jiwa sang penikmat puisi.

Entah kenapa Saraswati ini kegelisahanku ingin bertemu dengan sang Penuntun Kuda. Dulu, ia pernah berbisik,”Aku lahir tanggal itu.”

Aku tak memedulikan saat itu. Tapi, hari ini, aku digedor-gedor oleh kehadirannya. Lebih-lebih saat itu, aku melihat dokar melintas di catus pata. Patung Nyama Catur di Klungkung pagi hari, 10 Agustus ini, aku membayangkan keindahannya menunggangi kuda. Ringkikkannya, derit rodanya dan irama gemerincingannya seakan klakson yang membangunkan kegelisahanku.

Lebih gelisah lagi saat melintasi jembatan Tukad Unda seorang penuntun kuda kulihat. Kuda warna cokelat berjalan mengiringi sang penuntun. Ekornya bergerak naik turun seirama gerak kakinya. Sepatu kuda satu dua kudengar bertemu dengan aspal hitam. Air Tukad Unda saat itu kulihat bening mungkin karena hujan sudah semakin berkurang.

Ketenangan kurasakan. Kudanya sempat diajak bercengkrama. Wajahnya sumringah. “Nanti kau akan mendapatkan banyak penumpang. Maaf selama ini nafasmu telah kupergunakan untuk menjalani hidup.”

Ekor kuda itu bergerak-gerak. Matanya tampak berbinar seakan mengatakan,”Aku melayanimu dengan ketulusan dan kejujuran. Aku berharap kau juga menjadi orang-orang jujur.”

Pelana kuda dipasang. Dokarnya juga diikatkan. Kuda itu memikulnya. Tapi, ia tetap meringkik. Jalannya pasti.

Lelaki itu tampak gelisah. Kudanya dirasakannya sedikit terganggu kesehatannya. Tubuhya dielus-elusnya. Ada aliran darah yang tersumbat. Lelaki tua penuntun kuda itu berhenti sejenak.

“Aku telah terlalu lama menjadikan kuda ini sebagai penghidupan. Aku merasa berhutang budi. Aku tak ingin kehilangan. Aku tak ingin berpisah dengannya. Ia bagian dari hidupku.”

Ia tatap wajah kudanya. Ia tatap dokar yang selalu bertengger di punggungnya. Dokar itu telah lusuh. Pedatinya tampak kurang terawat. “Kenapa aku tak peduli dengan dokarku yang telah menjadikan hidupku lebih baik. Aku ini tak bisa berterima kasih.”

Ia kembali pulang. Hari itu tak jadi mencari penumpang.

“Beli kenapa pulang?” tanya istrinya.

Sang penuntun kuda menerawang.”Kuda kita sakit.”

“Sakit Beli. Bukankah kemarin sehat?”

“Benar Istriku. Tadi, saat kuraba, tubuhnya agak panas. Beli lihat agak pucat.”

“Pantas tak terdengar ringkikannya sedari pagi. Kasihan kuda kita.”

“Itulah Istriku. Beli amat sayang pada kuda ini.”

“Sebaiknya kita carikan dokter hewan.”

“Beli setuju.”

Pagi itu sang penuntun kuda menuju rumah dokter hewan. Tapi, sayang dokter hewan sudah berangkat kerja.

“Maaf Pak, suami saya telah berangkat ke kantor. Ada keperluan apa?”

“Kuda saya sakit, Bu.

“Nanti, saya sampaikan pada suami saya. Mungkin sore bisa ke rumah Bapak.”

“Terima kasih.”

Sang penuntun kuda dengan nada lesu pulang. Ia langsung ke kandang kuda. Ia elus-elus tubuhnya. Ia rasakan denyut jantungnya.

“Maafkan kudaku. Aku tak bisa menjaga kesehatanmu. Aku teramat jarang peduli denganmu.” Mata kuda itu tampak berbinar. Tuannya amat memerhatikan dirinya. Dalam keadaan sakit, tak diberikan kerja mencari penumpang. Penuntun kuda itu mengambilkan rumput-rumput yang masih segar. Kuda kesayangannya itu menikmatinya walau dengan gerak mulut yang amat perlahan. Sampai siang, penuntun kuda itu menemani. Tak sampai hati melihat kudanya dalam kesendirian, dalam kesepian.

“Gimana Beli kuda kita?”

“Sudah bisa makan sedikit rumput. Semoga lekas sembuh.”

Istri penuntun kuda itupun tak mau diam. Ia buatkan sajen agar diberkati oleh Tuhan, khususnya Dewa Rare Anggon. Ia haturkan pejati. Hatinya berucap.”Tuhan berikanlah kesembuhan pada kuda kami. Kami amat menyayanginya. Tanpa kuda ini, kami tak bisa tenang. Ia kami anggap sebagai bagian dari hidup kami. Ia sudah puluhan tahun bersama kami. Jiwa kami seakan menjadi belahan dari jiwanya.”

Kepulan asap dupa membawa kedamaian dan kesejukan apalagi hari itu adalah hari suci. Ia panjatkan doa-doa dengan kekusyukan hati. Tuhan mendengar permohonannya. Kuda hitam kecokelatan berbulu indah itu semakin menampakkan kebingarannya.

“Beli! Beli! Kuda kita sudah semakin sehat.”

Lelaki penuntun kuda dengan mata berkaca-kaca mengelus-elus bukunya yang hitam mengkilat. Sesekali kuda kesayangannya menyengir. “Jangan tinggalkan kami, kudaku. Tanpa kau, aku tak bisa seperti sekarang ini. Semoga Tuhan selalu memberi kecerahan pada hatimu.”

“Apa yang kau bisikkan pada kuda kita, Suamiku?”

“Ah, kau ingin tahu saja. Rahasia.”

Istri sang penuntun kuda itupun pergi sambil berkata, “Yang utama kuda kita sehat dan tetap bersama kita.”

Catatan:
Beli: kakak
Pejati: nama salah satu banten
Tilem: hari bulan gelap
Saraswati: hari turunnya ilmu pengetahuan.