Kuda putih yang kudapatkan di Sumba itu terus meringkik. Suaranya nyaring membangunkan denyut – denyut jantungku.

Aku memang penghobi kuda. Aku sering digelari pakatik oleh tetanggaku. Kelakuanku mirip seperti Nakula – Sahadewa  saat penyamarannya dulu. Setiap hari, aku mesti bangun lebih pagi. Kotoran kudaku kubersihkan. Kotorannya kukumpulkan dan kusiapkan untuk bunga –bunga melati yang sengaja kutanam dekat kandang kudaku. Bunganya mewangi. Memutih dan semakin putih.

Ringkikan kudaku seperti melantunkan terima kasih. Ia jilati punggungku.Ia liuk – liukkan tubuhnya di depanku. “ Hep hep hep ! “ Aku mengelus – elus tubuhnya. Ia mangguk – mangguk. Ekornya dikipas – kipaskannya.

Aku memelihara beberapa kuda. Warnanya pun beragam. Ada yang cokelat. Ada yang hitam. Yang hitam  sering kupanggil si kuda hitam. Ada yang sedikit kemerah –merahan., kupanggil si kumbang . Yang paling kugemari si kuda putih. Ia agak beda. Bulunya  mengkilat  putih.

Telah banyak pecinta kuda yang ingin memilikinya. Rata – rata mau menawar. Harganya pun lumayan mahal. Ada yang mengaku dari Yogyakarta. Ada yang mengaku dari Mataram. Ada yang mengaku dari Jakarta. Bahkan, ada yang berani menaruh uang di rekeningku.

Kapan saja aku melepaskan si kuda putih, pembeli – pembeli itu siap memabayar mahal.

Yang tergoda siapa lagi kalau bukan istriku. Ia bukannya ikut menjaga kuda putihku sebaliknya menyuruhku agar  cepat – cepat saja melepaskannya. Pikirannya sederhana . Dapat uang belikan mobil. Hidup mewah. Foya – foya. Belanja ke swalayan.

Pernah aku bertengkar gara –gara aku mengusir si pembeli kuda. Ia tidak etis di depanku. Suaranya memaksa.

“ Sekarang juga kudamu kuambil. Ini uang!” Ia meleparkan uang di hadapanku.

Aku pelototi orang itu. Aku lempar kembali dengan uangnya.

Istriku memelukku. Ia katakan orang yang dihadapi adalah orang gede. Orang gede mesti dihormati. Ia anggap wajar jika kelakuannya seperti itu.

“ Sudahlah Pak. Kita duduk bersama.” Istriku menenangkanku. Orang itu pergi. “ Pak, kuda putih Bapak banyak yang mengincarnya. Aku takut nanti ada yang meracuninya.”

“ Tidak bisa, Istriku. Ia tidak boleh pergi dari hatiku. Kuda putih ini belahan jiwaku. Jika ia mati, sama dengan setengah jiwaku telah mati. Kau tahu tidak maksudku?”

“ Tidak Pak!”

“ Benar- benar  tidak tahu ? Atau pura – pura tidak tahu?”

Aku berkata seperti itu karena istriku susah kuyakini perkataannya. Ya, sedikit curigalah. Bagaimana tidak curiga ? Ia pernah kudapati saat menawarkan kuda putihku. Syukur belum ia terima uang. Jika sudah, apa yang mesti kuperbuat?

Istriku  penasaran. Ia memelukku seperti bintang  film Bollywood. Manja sekali.

“ Pak, beritahu dong. Sedikit saja.” Pintanya.

Kubisiki telinganya. “ Bu, jika  kuda putihku mati. Aku juga mati.”

Ia kaget. “ Oh, tidak Pak. Aku tidak mau menjanda. Aku tidak kuat mendengar gunjingan .”

Giliran istriku yang kebingungan. “ Rasain!” bisikku dalam hati. “ Makanya jangan sembarangan. Mau menjual kuda putihku.”

Semenjak saat itu, istriku tak berani lagi memelas agar aku menjual kuda putihku. Ia semakin sayang. Semakin cinta. Ia turut merawatnya. Terkadang tanpa kusuruh, istriku sudah memandikannya. Memeriksa giginya.Apa ada yang tanggal. Memeriksa kakinya. Ia takut kakinya tertusuk duri. Tertusuk paku apalagi. Ia benar – benar terbalik.

“Pak ! Aku sudah carikan rumput segar kuda putihmu.”

Aku  mengacungkan jempol.

“ Coba lihat Pak! Betapa gembiranya saat ia mengunyah rumput – rumput muda itu. Pasti ia akan tetap segar dan semakin mengkilat warna bulunya.”

“ Pak, boleh tidak, kalau …?”

“ Kalau apa ?” giliranku yang penasaran.

“ Ah, nggak jadi.”

“ Kalau apa sayangku?” Aku dekatkan bibirku di telinganya. “ Aku cinta kamu.”

Istriku tersenyum. Ia ingat saat kurayu di taman budaya dulu. Saat pertama kali kukatakan kata cinta padanya.

“ Tidak, aku tidak mau mengatakannya.”

Aku terus berusaha mencari jawabannya. “ Tolonglah Istriku ! Apa yang kau inginkan. Tidak boleh ada dusta di antara kita.”

Ia tertawa. “ Seperti judul lagu saja.”

Istriku menggamit tanganku. Ia ajak mengelilingi kandang kudaku tiga kali. Aku merasa seperti orang bodoh.

Tepat di tengah kandang. Ia memelukku. “ Kita kawinkan kuda putih kita. Setuju tidak ?” Ia menatap mataku.

“ Sama siapa?”

“ Ya sama kuda. Masak denganku.”

“ Bagus juga. Terus kudanya dari mana ?”

“ Kita carikan kuda lokal. Kuda Bali. Kita mulai dari Bali Timur. Gimana ? Di sana juga ada kuda. Kudengar di tanah gersang di Bali Timur  ada kuda kuat. Larinya kuat. Meski tubuhnya sedikit lebih kecil. Mungkin karena kurang gizi. Di Bali Timur beberapa kuda bisa kita pilih. ”

“ Terus? ”

“ Kalau sudah beranak, kita carikan pakatik kuda. Biar semakin banyak kuda di Bali Timur.  Ibu takut jika keburu punah.”

“ Setelah kawin dengan kuda Bali timur kita carikan kuda di Smarapura. Kota yang menyimpan keindahan itu. Di sana juga banyak kuda. Meski akhir –akhir ini semakin jarang kudengar ringkikkannya. Aku masih ingat. Di dekat Kertaghosa dulu menjadi mangkalnya kuda.

Aku mangguk – mangguk.

Jika sudah beranak dengan kuda dari Smarapura, kita kawinkan lagi dengan kuda dari Gianyar. Wah, kalau kuda Gianyar lebih lembut. Lebih berkelok – kelok seperti tarian kuas para pelukis. Kita carikan kuda di Ubud.  Kita carikan kuda dari Sukawati. Kita carikan kuda Batuan. Kita carikan kuda Kramas. “

“ Apa tidak lelah kuda putihku kawin?”

“ Oh, tidak. Kuda semakin sering kawin akan semakin bertenaga.”

“ Terus ? “

“ Jika sudah beranak dan mandiri. Kita kawinkan dengan kuda dari Denpasar dan Badung. Di Denpasar buanyak kuda yang bisa dipilih. Denpasar gudangnya kuda.  kualitasnya juga bagus – bagus. Ringkikannya  terdengar indah. Dari Sanur, Kesiman, Kuta, Mengwi . Semuanya kuda – kuda terpilih dan terlatih.  Aku ingin kuda – kuda di sana sesekali berkumpul. Ya, saling meringkiklah.”

“ Terus ?”

“ Kita carikan kuda Tabanan. Kota sejuk dan gudangnya padi, pastilah kudanya sehat –sehat. Di Tabanan lebih mudah tumbuh rumput. “

“ Terus ?”

“ Terus ka Jembrana. Kota penjaga Bali dari Barat. Kuda di Jembrana sudah mampu kawin silang dengan kuda dari Banyuwangi. Nyebrang sedikit aja sudah tiba di Banyuwangi. Kudanya sudah biasa naik kapal laut.

“ Terus?”

“ Ka Singaraja. Kuda Banjar, kuda sukasada, kuda lovina sering kudengar. Di Singaraja kudanya beragam warna bulunya. Singaraja lebih dinamis kudanya. Kuat larinya. Sering merumput dan dipacu. Temanku  mau membuat pacuan kuda di Singaraja. Ia  banyak punya kuda . Ia mengaku punya lontar khusus tentang kuda. Ia pecinta lontar.  Lontar itu ia dapatkan di Gedung Kirtya. Aswasiksa nama ilmunya. Ia pernah mencobakan ilmu itu dan terbukti.  Usadha kuda juga ia miliki.

“ Terus?”

“ Kita lari ke Puncak Penulisan. Kita lihat indahnya Kintamani. Kita lihat kuda – kuda yang masih merumput menikmati Tirtha Bumi danau Batur.  Akan kita dapatkan kuda yang tahan dingin. Kuda yang terbiasa bersahabat dengan halimun. “

“ Terus ? “

“ Bapak, dari tadi terus – terus saja. “

Kupeluk istriku. “ Lalu kapan kita kawinkan ?”

“ Ya segera. Bulan – bulan ini bulan kuda birahi. Satwa tidak seperti kita. Ia lebih tahu diri. Ada musim kawinnya. Kalau manusia, tidak kenal musim kawin. Asalkan sudah ingin kawin. Ya, pasti kawin. Kuda tidak. Ia memilih waktu yang tepat. Suasana yang sejuk. “

“ Ooo gitu? “

“ Ah, Bapak seperti bloon saja.” Istriku ngambek. Ia meninggalkanku. Aku masih di kandang kuda sampai larut malam. Kuintip saat yang tepat untuk kukawinkan kudaku.

Tiba –tiba Hp-ku berdering. Tepat tengah malam. Kulihat siapa yang meneleponku. Tidak ada nomornya yang tertera. Nomor pribadi. Itu yang muncul.  Sampai sembilan kali berdering. Kuberanikan diri mengambilnya. Lamat – lamat kudengar suara temanku melantunkan larik puisi Kuda Putih. Kuda putih yang meringkik dalam sajaksajakku/ merasuki basabisik kantung peluh rahasia/ diamdiam kupacu terus ini binatang cinta / dengan cambuk tali anganan  dari padangpadangku //

Kegelisahanku memuncak. Aku menyepi. Menanti  musim Dewa Keindahan merasuki jiwaku.