Suamiku  laki – laki yang tangguh. Tubuhnya atletis. Tinggi. Wajahnya lumayan. Kukenal pertama kali saat aku bekerja di  Kuta. Kupanggil Kobi. Ia anak campuran Ayahnya Ambon . Ibunya Jawa.

Aku bekerja sebagai waitres sebuah hotel . Kobi bekerja sebagai gaid freelance. Ia juga pintar berselancar. Banyak turis mancanegara belajar  padanya. Aku bangga punya suami yang mampu melayani orang lain. Ia amat dikenal di antara sesama pemandu peselancar. Hampir setiap peselancar mengakui kelebihan – kelebihannya. Liukkannya saat bermain – main dengan ombak susah ditiru. Ia  menjadi idola para peselancar. Keseimbangan tubuhnya benar – benar dijaga.

Ia ramah pada setiap orang yang mencari penghidupan di Kuta. Apalagi terhadap tamu asing. Tamu meski dihormati dan diperlakukan seperti diri sendiri. Hendaknya bisa menjadi pelayan yang baik. Pelayanan  nomor satu jika ingin bercengkrama dengan turis.

Keluargaku  tidak menaruh simpati padanya. Masa depan Kobi  tidak menjanjikan.  “Seorang freelance tidak akan mampu membahagiakan sebuah keluarga. Keluarga tidak hanya dibangun dengan cinta. Perlu uang, “ katanya.

Cinta ternyata mengalahkan segalanya. Aku menikah meski tanpa restu keluarga. Aku menikah tanpa disaksikan oleh keluarga. Aku dibawa ke Jakarta. Ayahnya bekerja di sana. Upacara pernikahan berjalan lancar – lancar saja. Aku pindah agama. Semenjak itulah, aku baru tahu bahwa Kobi berasal dari keluarga tak harmonis. Ayahnya menceraikan istrinya karena ketahuan menghianati tali pernikahannya. Tapi, saat pernikahan kami, ibunya diundangnya juga. Aku dipeluknya erat sekali. Tetesan air mata perlahan – lahan merembes di pipinya yang mulai termakan usia.

“ Maafkan Ibu,’ katanya. “ Ibu tidak mampu menjadi seorang ibu yang diharapkan. “

Aku tidak menjawabnya. Apalagi aku baru kenal dalam beberapa jam saja. Tidak baik bercerita tentang masa lalunya. Untuk apa  aku mengivestigasi masa lalu? Masa lalunya bukan milikku. Bagiku lebih baik melangkah maju ke masa depan. Masa lalu kuanggap sebagai jembatan yang mengantarkan ke masa depan. Masa depan lebih berarti bagiku.

“ Kau harus menjadi istri yang baik. Jangan mengikuti jejakku. Ibu perempuan yang hina. Hidupku suram.”

Upacara pernikahan berakhir. Aku bersama Kobi kembali ke Bali. Kembali menekuni pekerjaanku sebagai waitres. Kobi sebagai pemandu wisata dan pemandu tamu berselancar. Keluarga kami, damai – damai saja. Kobi pun menjadi seorang suami yang bertanggung jawab.

Sebagai seorang istri, aku menjadikannya seorang suami yang berharga di hatiku. Aku tempatkan di atas segala – galanya. Lebih – lebih semenjak aku berbadan dua. Kobi tak pernah lupa membisikkan kata cita di telingaku.

“ Sri doakan, ya. Aku dapat tamu dari Jerman. Ia ingin belajar berselancar denganku. “

Aku memeluknya. “ Tentu, Sayang.”

“ Ia seorang perempuan. Apakah kau tak mencemburuiku?”

Mataku menatap wajahnya. Tumben Kobi berkata seperti itu. Hari – hari sebelumnya tak pernah ia menanyakan tentang kesetiaanku.

“ Selama ini belum, Suamiku. Bukankah cemburu itu pertanda cinta.”

Kobi  menciumku. “ Aku tetap milikmu.”

Akhir – akhir ini, hari – harinya lebih sering digunakan untuk menemani turis – turis perempuan. Aku menyadari  mencari tambahan uang tidaklah gampang lebih – lebih dalam situasi seperti sekarang ini. Kehidupan bukannya semakin mudah, melainkan bertambah parah.

Pulang dari berselancar, Kobi membawakanku beberapa puluh ribu. “ Ini hasil kejaku hari ini. Maaf tak seberapa yang kudapat. “

Aku tersenyum. “ Bagiku, kau bisa kembali pulang sudah bersyukur. Ayo kita makan.” Kami makan di teras kamar kos kami. Kami masih kos. Gaji kami tak cukup untuk membeli tanah apalagi rumah.

Kami merasa menikmati karunia Tuhan hari ini.

“ Tamu di hotelmu gimana?”

“ Seperti biasa. Mereka ada yang menghabiskan liburannya. Ada juga yang hanya sekadar makan di cafe. Beberapa tamu sepertinya sudah mengenal betul tentang Bali. Ia jarang mau menginap di hotel berkelas. Lebih suka bermalam di hotel melati .”

Perutku semakin membuncit. Ia merasa sebagai seorang laki – laki setelah melihatku bisa mengandung anaknya. “ Kau semakin cantik Sri.”

Aku menjadi malu. “Kau pun semakin dewasa. Dan sudah cocok menjadi seorang ayah. “

Kobi menggamit tanganku. “ Ayo kita ke luar. Sekali waktu kita mengingat masa pacaran kita.”

Aku pergi menuju pantai Kuta. Kami berjalan menyusuri pantai berpasir putih itu. Deburan pantai serasa menggetarkan jalan batinku. Entah kenapa ada ketakutan saat aku melihat gelombang pantai.

“ Kenapa?”

“ Tidak. Aku terkenang saat kau pertama kali merayuku di bawah pohon waru itu.”
Kobi tertawa. “ Pohon penyejuk yang menyatukan kita.”

Keluarga kami cukup bahagia meski masih hidup dalam rumah kontrakan. Kobi selalu saja menyempatkan diri bercengkrama. Ia tahu jiwaku belum pulih benar karena tidak mendapatkan restu dari keluargaku menikah keluar keyakinanku.

“ Aku mau jemput tamuku di hotel lagi sebentar. Ia amat baik padaku. “

Aku tak menjawab. Ia tampak penasaran.

“ Kenapa ? Sepertinya Sri tak setuju?”

“ Aku merasa takut saja.”

“ Jangan takut. Aku tidak akan terlena dipelukan turis asing. Keluarga kita  tetap akan kujaga.”

“ Terima kasih.”

Kegundahan hatiku berjalan siring perjalanan rumah tangga  kami. Kobi semakin sibuk saja. Ia paling sering mengaku menjemput tamu – tamu asing. Tamunya rata – rata perempuan. Kecurigaanku kusampaikan padanya. Ia tetap berkilah. “ Hanya ada Sri di hatiku.”

Kutulis unek – unekku dalam selembar kertas. Sengaja kutaruh di atas meja. Kuberharap Kobi sempat membacanya.

“ Kobi, Sayangku. Aku perempuan. Hati nuraniku mengatakan kau telah dimiliki oleh orang asing. Kau telah menjual tubuhmu. Aku tahu itu Kobi.  Bau nafasmu tak seperti dulu lagi. Sorot matamu menyembunyikan ketakjujuran. Berterus teranglah Kobi. Kau menukar harga dirimu demi uang. Aku takut sekali, Kobi. Takut…. Keluarga kita  bisa tersiksa karena ulahmu. Kehidupan kita bisa sampai di sini Kobi.”

Kobi datang. Ia mengambil kertas yang kutulisi. Ia tak  membacanya. Ia  meremas dan membuangnya ke tempat sampah.