Luh Purnami menghilang.  Telah beberapa orang diutus untuk mencarinya. Warga banjar mengeluarkan gongnya. Diperkirakan Luh Purnami disembunyikan memedi. Jurang dan sungai didekat rumahnya disusuri. Luh Purnami tak ditemukan juga. Mereka sepakat Luh Purnami tidak akan kembali lagi.

Luh Purnami dulu bekerja pada sebuah LPD. Lembaga Perkeriditan Desa yang mengharapkan rakyat di desa bisa lebih makmur. Bisa lebih enak hidupnya. Rumor berkembang, Luh Purnami menggelapkan uang LPD. Lebih –lebih semenjak ia menjadi bendahara LPD, kehidupannya semakin membaik. Rumahnya diperbaikinya. Ayahnya semakin jarang  marah – marah. Orang di banjar itu mengibaratkan dirinya kembang semusim. Sebuah kembang yang memberi keindahan hanya beberapa bulan. Lalu menghilang. Ia gadis yang tahu  menempatkan dirinya. Ia menyadari  berasal dari keluarga yang tidak akur.

Ia  lupa  menikah. Seakan tidak ada waktu untuk memikirkan seorang laki – laki. Ia lebih senang hidup menyendiri, single parent sering digelari. Baginya, menikah akan membuatnya terganggu. Hidup mesti dibagi. Ia seakan tidak rela diatur oleh seorang laki – laki. Ada  yang mengatakan ia tidak menikah karena orang tuanya bercerai. Ibunya selalu mendapatkan siksaan. Hati kecilnya berkata,” Laki – laki tidak pernah hormat pada seorang perempuan.”

Waktu terus berjalan. Orang – orang di banjar itu tidak ada yang ingat lagi. Seperti biasa, setelah 42 hari tidak akan ingat lagi pada masalah. Kedudukan Luh Purnami sudah diganti oleh Ketut Wiratni. Ketut Wiratni sedikit kelabakan karena ia di samping belum siap juga tidak terlalu paham dengan pembukuan. Ia hanya mampu sebagai pemungut tabungan para nasabah. Tapi, ketua LPD memaksanya. Sebagai bawahan, ia akhirnya  bersedia .

Entah kenapa, semenjak jabatan bendahara diambil oleh Ketut Wiratni keuangan LPD tidak jelas. Uang yang masuk dan keluar tidak pernah balance. Selalu saja kurang. Kurangnya semakin hari semakin bertambah. Kecurigaan muncul  antara pengurus LPD terjadi persaingan tidak sehat. Berita lucu muncul, ada pengurus yang memelihara bererong sehingga uang nasabah terus berkurang.

Kasak – kusuk terus berkembang.Para nasabah sepakat untuk menanyakaan keberadaan uangnya. Bendahara dan ketuanya tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan. Para nasabah ingin mengambil uangnya. Kepercayaannya hilang pada LPD. Rush menghantui LPD. Ketua LPD tidak bisa memberikan jaminan terhadap nasabah. Nasabah merasa dibohongi. Ia menyampaikan masalahnya pada bendesa adat. Bendesa adat rencananya akan memanggil ketua LPD.

Hari pemanggilan sudah disepakati pada Redite Umanis. Balai desa ramai oleh pengurus LPD dan para nasabah. Tumben hari itu balai desa ramai. Biasanya ramai jika ada sabungan ayam saja.

Perdebatan sudah dimulai. Bendesa adat ingin tahu siapa  yang paling banyak meminjam di LPD. Ketua bersama  bendahara LPD saling pandang.

“ Siapa yang paling banyak meminjam di LPD? Siapa yang paling banyak menunggak atau tidak mau mencicil?”

Ketua dan bendahara tak menjawab. Keduanya tampak berkeringat karena yang terbanyak meminjam uang justru bendesa adat dan sudah beberapa bulan tidak membayarnya lagi.

Pada saat pemilihan ketua LPD memang ada perjanjian agar memberikan kebebesan kepada bendesa adat untuk meminjam uang. Berapa pun yang diinginkan mesti dipenuhi. Kalau tidak tidak akan terpilih menjadi ketua LPD.

Bendesa adat terus membentak. “ Siapa yang menilep  uang nasabah? Siapa? Kalau tidak jelas kita akan laorkan pada yang berwajib atau dikenai sanksi adat. Tiang bisa menjatuhkannya sekarang juga.”

Kembali ketua LPD dan Ketut Warti saling pandang. Ketua LPD dengan berat hati mengatakan.” Luh Purnami, Jro Bendesa.”

“ Ha ! Lagi – lagi perempuan itu. Ia telah menghancurkan LPD kita. Pantas saja ia menghilang. Baiklah! Para nasabah sudah mendengar tadi yang menilep uang para nasabah tiada lain Luh Purnami. Jelas sekarang permasalahannya. Dan seperti yang para nasabah ketahui, Luh Purnami menghilang. Tiang teramat yakin. Luh Purnami menjadi biang kerok kehancuran LPD kita.”

“ Lantas apa langkah Bendesa sekarang?”

“ Kita tidak bisa berbuat apa – apa sekarang. “

“ Bagaimana kalau rumahnya disita oleh LPD?”

“ Tiang setuju.”

“ Tiang juga amat setujuuuuuuuuu!”

“ Baiklah kalau begitu, mulai bulan depan seluruh kekayaan Luh Purnami milik desa. Uangnya untuk pengembalian dana nasabah.”

Sangkepan berakhir, semua pulang. Yang masih hanya bendesa bersama ketua dan  bendahara LPD.

“ Terima kasih. Kau telah menyelamatkan mukaku di hadapan para nasabah dan juga di hadapan pengurus yang lain. “

Keduanya bersalaman. “ Kita harus bisa bermain sandiwara. Semoga saja berjalan lancar. Semoga Luh Purnami sudah mati saja.”

“ Ayo kita pulang!”

Keduanya kembali ke rumah masing – masing.

Malam semakin malam. Ketut Wiratni tidak bisa tidur. Hatinya gelisah. Ia merasa berbohong pada para nasabah. Tubuhnya berkeringat. Sudah empat kali ia ke kamar mandi. Panas  dingin tubuhnya.

Pukul setengah duabelas matanya bisa dipejamkan. Bayangan Luh Purnami datang.

“ Kejujuran memang agak susah dijalankan. Kebohongan teramat mudah dilakasanakan. Kau telah menghancurkan dirimu sendiri. Kau telah menjadi budak bagi Bendesamu.”

“ Maafkan tiang Luh. Tiang tidak bisa berbuat apa. Jika saya tidak berbohong, saya akan dipecat. Luh tahu. Saya tidak bisa bekerja selain pekerjaan ini. “

Luh Purnami tertawa. “ Karena itu, kau menghancurkan orang lain. Sayangilah dirimu Tut!”

Sampai pagi Ketut Wiratni tidak bisa memenjamkan matanya. Ia merasa bersalah pada Luh Purnami. Pagi itu, ia tidak bekerja. Dan sebentar lagi bendesa adat akan menyita harta Luh Purnami.

Para nasabah disertai dengan bendesa adat sudah siap – siap mengambil alih tempat tinggal Luh Purnami. Ayahnya  tak bisa berbuat banyak. Ia tidak memiliki cukup bukti untuk menolak permintaan Jro Bendesa dan para nasabah.

“ Kita sita aja. Kita sita saja!” teriak Jro Bendesa.

“ Lernyata Luh Purnami berlaku tidak baik kepada kita.”

Entah karena lelah atau karena apa. Tiba – tiba para nasabah melihat Luh Purnami berdiri di setiap pintu rumah. Di setiap pojok rumah. Pekarangan rumah Luh Purnami dipenuhi dengan kehadiran Luh Purnami.

Semua menjerit. “ Luh Purnami hidup. Luh Purnami hidup. “

Bendesa adat, ketua LPD, dan Ketut Waratni tiba – tiba meninggalkan rumah Luh Purnami.

 

Catatan :

Banjar  : nama organisasi kemasyarakatan  di Bali

Bererong : makhluk halus yang dipercayai mampu mengambil uang

Bendesa adat  : pemimpin adat