Liukan air di bawah jembatan itu seperti membisikkan sesuatu pada Made Arka. Ia tak segan – segan memelototi arah dan akhir jalannya air. Ia seperti berpikir bahwa hidup ibaratnya aliran air. Terkadang jernih. Terkadang keruh. Kadang berbau. Kadang pekat.

Ia perhatikan  liukkan air membentur batu . Sela – sela batu seperti memberikan jalan. Air di bawah jembatan itu tak pernah berhenti mengalir. Seperti aliran hidup yang tiada pernah terputus.

Di hulu jembatan itu, terdapat sebuah terowongan kecil sebagai penghubung sumbar mata air yang di hulunya. Arka  seperti ingat betul tempat – tempat itu. Tanah yang sekarang ini sudah disulap menjadi ruko dan sisanya untuk bangunan sekolah sebuah SMA sebenarnya tanah orang tuanya dulu. Ia tak berani menentang sebuah keputusan. Jika itu dilawannya mungkin hari ini tak sempat lagi melihat liukkan air di bawah jembatan itu.

Jembatan itu terbuat dari bambu. Di samping kanan dan kirinya dipasangi penyangga dari turus hidup. Turus hidup itu menunjukkan dirinya bisa hidup meski dibebani dengan empat buah bambu. Bambu – bamb itu sepertinya punya kuasa terhadap kehidupannya. Dalam himpitan hidupnya itu, turus hidup masih bisa bertahan dan menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah pohon. Pohon – pohon itu memberikan sedikit kesejukan, meski terkadang tangan – tangan tak bertanggung jawab mencabutnya. Ia tak marah. Bahkan, tumbuh lagi dengan tunas baru.

Arka terbiasa berdiri di tengah – tengah jembatan bambu itu. Ia mampu berlama – lama memperhatikan liukkan air. Ia tak sadar bahwa ia sebenarnya juga memberi beban pada pohon yang menyangganya. Anehnya,  Arka senang melompat – lompat di atas jembatan bambu itu seperti anak kecil gegirangan dibelikan boneka.

“ Hore ! Hore! Lihatlah aku. Aku bisa melompat tinggi sekali. Aku bisa sebagai pelompat tinggi. “ Ia tak tak sadar lompatannya yang  tinggi itu sebenarnya memberi tekanan pada bambu. Lebih – lebih bambu – bambu itu sudah mulai kropos.

“ Brak ! Brak! Braaak” bambu yang mendapat tekanan dari lompatan Arka remuk. Arka terjatuh ke kali itu. Ia kecipratan air. Orang – orang yang lewat tak berani tertawa takut kalau –kalau Arka tersinggung.

Arka dikenal sebagai pemuda yang cepat marah. Wataknya tak banyak berubah meski tiap hari memperhatikan jernihnya air di bawah jembatan. Ia bangun perlahan – lahan sambil memegang pinggangnya. Syukurlah cuma kakinya yang keseleo.

“ Tolong! Tolong! Bangunkan aku!”

Setelah minta tolong barulah orang – orang yang mau menyebrangi jembatan itu mengulurkan tangannya.

“ Pegang tangannya ! Pegang kakinya! Pegang pundaknya!” Hampir semua tubuhnya diminta dipegangi.

“ Janganlah suka lompat – lompatan di sini. Kau bukan seorang atlet. Kau hanya seorang guru. Kau juga bukan seorang guru olah raga. Mendingan kalau guru olah raga jatuh karena latihan melompat. Melompat juga perlu perhitungan. Kau seorang guru  mestinya banyak punya perhitungan. Otakmu digunakan. Kayak tak punya otak saja.

Arka  seorang guru sejarah. Ia hafal betul mengenai sejarah Indonesia. Sejarah Asia. Sejarah Eropa. Lucunya sejarah hidupnya tak ia ketahui. Sudah beberapa babad ia baca. Tak satupun yang memberikan jalan keluar. Semua babad mengatakan tak ada yang menuliskan jejak leluhurnya.  Gelap seperti Tilem Kepitu. Meski begitu ia tak pantang. Ia tak peduli mengenai sejarah hidupnya. Yang penting sekarang baginya bisa membuat sejarah baginya dengan melompat dan  memandangi air di bawah jembatan. Orang – orang akan menceritakan dirinya bahwa ada seseorang yang suka melompat – lompat di atas jembatan bambu. Dalam hatinya, ia berharap semoga tak diganti jembatan bambu itu. Jika diganti, sejarah barunya akan terputus. Orang – orang tidak akan mengingatnya lagi. Kisah jatuhnya di kali itu. Kisah tubuhnya yang digotong beramai – ramai akan hilang ditelan waktu. Singkatnya sejarahnya akan hilang.

“ Sudah ! Sudah kita biarkan saja Arka di sini. Ia guru yang tak waras. Guru sukanya lompat – lompatan bukannya memberi contoh malahan dicontohi agar  berbuat yang benar.

Arka sendiri tak merasa dirinya bersalah. Ia hanya mencobakan dirinya. Apakah ia kuat saat melompat atau akan jatuh. Dan berkeinginan merasakan dirinya jatuh. “ Jika tak pernah sakit. Bagaimana mungkin bisa merasakan sakit,” bisiknya.

Meski ia sakit. Ia bersyukur juga. Dengan sakitnya itu, berarti ada yang merasa disakiti. Paling tidak orang yang lewat di jembatan itu. Atau bambu – bambu itu yang ingin marah tapi tak bisa. Atau turus hidup itu yang tertekan karena bebannya yang tak masuk akal.

Bagi Arka itu tak penting,ia hanya ingin melompat saja. Dan melompat.

Arka meringis. Satupun orang – orang  tadi tak ada yang menolehnya.

Arka pulang dengan pakaian basah kuyup dan tubuhnya yang kesakitan.  Tak ada yang dilaporinya. Ia tak punya pendamping. Ia tak beranak pinak. Ia tak punya orang tua lagi. Ia dalam kesendirian. Kehidupannya biasa dijalaninya dengan kesendirian. Dalam kesendirian, Arka lebih bisa menikmati hidupnya. Rumahnya yang sederhana itu menjadikannya hidupnya semakin sederhana. Kehidupannya tak terlalu banyak berbicara. Hanya kebiasaannya yang banyak dibicarakannya orang – orang. Baik orang – orang yang melintasi jembatan atau orang – orang dekat padanya.

Karena sudah terbiasa seperti itu, tak ada yang mempedulikan Arka lagi. Setiap hari,  Arka memperhatikan liukkan air di bawah jembatan bambu itu, tidak banyak yang peduli lagi. orang – orang sepakat mengatakan Arka sudah lepas kontrol dari hidupnya yang normal sebagai manusia.

“ Ah, Arka lagi di sana. Pasti nanti ia akan terjatuh lagi. “ Orang – orang itu mengintipnya. Tapi, sampai agak siang Arka tak jatuh – jatuh juga. Arka bahkan semakin berani melompat semakin tinggi dan semakin tinggi. Bahkan hampir mendekati pohon pinang. Kalu  tidak salah kira – kira tingginya tiga meter. Orang – orang itupun semakin tak mengerti kenapa tubuh Arka kelihatan ringan sekali seperti kapas yang diterbangkan angin.?

“ Pasti Arka mendapat manik kapas hingga tubuhnya seringan angin.”

“ Aku tak percaya .”

“ Aku justru menyakininya karena usahanya yang tak kenal lelah untuk belajar terbang.”

“ Aku berpikir. Arka itu memiliki kekuatan khusus. Kudengar ia belajar ilmu terbang pada seorang balian di desa.  Balian itu mengharapkan agar Arka mewarisi segala ilmu kebatinannya. Tampaknya Arka belum maksimal. Kelihatannya ia bersemangat belajar, tapi belum mumpuni. Perlu perjuangan yang semakin keras.”

Semakin hari semakin tak terkontrol  Arka. Ia tak menghitung hari. Pagi, siang, sore, malam dipergunakannya untuk berlatih melompat di atas jembatan bambu. Tak ada rasa lelah yang kelihatan. Cuma tubuhnya yang semakin kurus karena terlalu sering berlatih.

“ Lihatlah! Arka itu terbang tinggi sekali. Lihatlah !” orang – orang itu berseru.

Orang – orang yang melintas di jembatan bambu itu terpana.

“ Tidak masuk akal. Wah, tidak masuk akal. Begitu tinggi terbangnya. “

“ Aku yakin itulah puncak ilmu terbangnya.”

“ Tidak juga. Pasti ada yang lebih tinggi dari yang diinginkan Arka. Ia ingin melayang – laying seperti burung.”

“ Hebat Arka itu ! Aku ingin seprti dia bisa terbang ke mana yang dia mau.”

“ Lihatlah ! Arka meliukkan tubuhnya . Lihatlah dia mematuk – matuk seperti seekor burung gagak. Lihatlah mulutnya yang mulai menyimpan darah temannya. “

Orang – orang itu merasa ngeri juga. “ Ternyata Arka itu seorang pembunuh. Itu ! Ituuuuu!  Kakinya menginjak kepala seseorang. Kepala orang itu tak berarti lagi. Ia jatuh.”

Arka semakin mabuk dengan bau darah. Tiba – tiba angin nglilus datang. Arka tak mampu menentangnya. Tubuhnya terpental ke bawah. Tepat mendarat di atas jembatan bambu. Orang – orang itu berkerumun. Ia perhatikan Arka. Kakinya patah. Matanya masih terbuka seperti meminta sebuah pertolongan. Ia berbisik,” Kawan terima kasih kau  telah menonton tarianku. Sedari dulu, aku ingin terbang. Terbang dan terbang menggapai harapan !

 

Catatan :

Balian              : dukun

Nglilus             : angin kencang sekali

Tilem Kepitu   : bulan mati pada bulan ketujuh kelender Bali

Turus hidup     : pohon yang digunakan untuk tiang