Aku Indah. Nama pemberian orang tuaku. Kelahiranku memang tidak terlalu diharapkan oleh ayahku. Ayahku curiga pada ibuku. Saat menikah dengan ayahku, ibuku sudah berbadan dua.  Tidak meyakini bahwa yang dikandung ibuku darah dagingnya.

Berulang kali, ayahku meminta agar ibuku mau menggugurkan kandungannya. Tapi, tak diturutinya. Kata hatinya berkata, yang di rahimnya adalah benih dari ayahku.

Ibuku memang cantik. Banyak laki – laki yang terpikat pada kecantikannya. Ia idola di banjarku. Hampir setiap lelaki yang normal menaruh hati padanya. Ibuku menyadari hal itu. Hampir setiap malam ada saja laki – laki yang mengunjungi rumah kakekku. Kakekku tumbuh juga kekhawtirannya. “ Jangan – jangan ibuku akan menjadi luh jalir di banjarku.” Nama baik keluarga bisa hancur karena kelakuan anaknya.

Ibuku memang rebutan. Bapa Ardana sampai berani menjual harta warisannya untuk membeli guna – guna agar mampu menyunting hati ibuku. Bapa Kertia lain lagi. Ia belajar pada seorang balian agar dapat menguasai ilmu pelet. Bapa Rupawan bahkan berjanji akan memenuhi segala keinginannya jika mampu memperistri ibuku. Tapi, tak satupun yang menyentuh hati ibuku. Setiap yang datang selalu dianggapnya sebagai kakaknya.

Entah kenapa ibuku justru terpikat pada ayahku sekarang ini. Ayahku tidak ganteng dan juga tidak kaya seperti laki – laki yang menaruh hati pada ibuku. Ayahku menurut penilaianku biasa – biasa saja. Tapi, hati ibuku seperti terhipnotis saat bertemu dengannya. Saat ayahku menyatakan cintanya, ibuku langsung membalasnya. Ayahku pun tidak terlalu yakin pada cintanya akan diterima. Rupanya ayahku menyadari kekurangannya.

Waktu terus berjalan, orang – orang di banjarku hampir semuanya sudah mengetahui, ayahku yang dipilih ibuku. Hingga suatu ketika, ibuku dinikahi. Orang tuaku katanya amat bahagia saat itu.

Ayahku seorang petani. Ia bekerja menghabiskan waktunya di sawah. Sawah kakekku diolahnya dengan amat bagusnya. Penghasilannya pun lumayan juga. Bisa untuk mencukupi keperluan kami. Tanah sawah kakekku dirawatnya seperti merawat dirinya. Jika musim panen, selalu menyempatkan mengucapkan puji syukur pada Ibu Bumi. Sesajen selalu dipersembahkan. Tampaknya ayahku meyakini benar karunia Hyang Widhi.

Kotoran sapi yang di gubuk tidak ada yang sampai menumpuk. Jika sudah kering ditebarkan ke tengah sawah. Jarang sekali kulihat ayahku membeli pupuk. Jerami sisa panen tidak dibuang. Tapi, diolah menjadi pupuk kompos. Tanah leluhur kami terawat dengan baik. Hampir tidak pernah mengalami gagal panen.

Entah karena apa ayahku seperti mencurigai kesetian ibuku. Katanya aku bukan darah dagingnya. Cerita ini kudapat secara tidak langsung mendengarkan perbincangan bibiku. Ia menceritakan bahwa kecacatanku karena ibuku dipaksa mengugurkan kandungannya. Ibuku dipaksa meminum beragam ramuan. Sebagai seorang ibu, ibuku menuruti saja. Dalam hatinya, ia merasa bersalah. Merasa berdosa.  Nuraninya  berkata, “ Anakku, jangan bersedih. Kau memang anak ayahmu . “

Sampai akhirnya aku lahir. Kelahiranku yang tidak terlalu diharapkan oleh ayahku. Ayahku tidak pernah peduli pada ibuku. Ia merasa tidak memiliki diriku. Setiap hari hanya ibuku yang merawat diriku.

Umur tiga bulan kejadian itu terjadi. Aku panas  yang teramat sangat. Ibuku terus menangisi diriku. Aku dilarikan ke bidan desa. Aku diobati. Syukurlah aku bisa berangsur – angsur sembuh. Tapi, kakiku seperti tak mampu kugerakkan. Seperti tak bertenaga. Aku dinyatakan volio. Sampai usiaku sekarang ini. Aku tidak bisa berjalan normal. Aku berjalan dengan tongkat.  Ada juga yang menyumbangkan kursi roda buatku. Aku tidak bersedih. Apalagi menaruh dendam pada ayahku. Kupikir ayahku saking terlalu curiganya pada ibuku yang menyebabkan sampai pikiran dan hatinya tertutup kegelapan.

Masa – masa sekolah kujalani dengan baik. Aku tidak mau dimasukkan di sekolah anak – anak cacat. Aku sendiri tidak merasa cacat. Aku belajar dengan anak – anak normal. Tuhan  sungguh adil. Dalam keterbatasan fisikku, aku dikaruniai kecerdasan yang cukup tinggi. Teman – temanku tidak ada yang menjauhi diriku. Mereka selalu menganggapku sebagai anak normal.

Di sekolah, aku selalu mendapatkan juara umum. Setiap semesteran, ibuku yang  mengambilkan raporku. Air matanya membasahi pipinya yang putih. Lebih – lebih kepala sekolah selalu memujiku. Beasiswa sebagai siswa berprestasi kudapatkan.

Aku tidak mau berhenti bersekolah. Aku mau kuliah seperti anak – anak normal lainnya. Ibuku tetap mendukungku. Tapi, ayahku masih tetap teguh pada pendiriannya. Tidak terlalu bersemangat saat kusampaikan akan kuliah di jurusan farmasi. Bahkan, aku disuruh berhenti saja kuliah. Aku tidak mau.

“ Baiklah ! Kalau engkau ingin kuliah, ayah tidak mau membiayai kuliahmu. Silakan minta uang sama ibumu.”

Kulirik ibuku. Ia tersenyum.

“ Ayah, tolonglah jangan terus membenci anakmu ini. Aku darah dagingmu, Ayah. Aku bukan anak haram, “ bisikku dalam hati.

Semenjak keinginan ayahku tak kuturuti, ia tidak mau peduli lagi akan kuliahku. Ibuku sampai menjual gelang yang dibawanya saat menikah dulu untuk membiayai kuliahku. Ibuku terus bekerja siang malam.  Ia ingin buktikan mampu menanggung biaya pendidikanku.

Ibuku memang terampil dalam menjahit pakaian. Hampir orang – orang di banjarku memuji jahitannya. Orderan selalu datang. Lebih – lebih saat aku kuliah, hampir tidak pernah sepi. Ibuku bersyukur bisa membiayai kuliahku. Saking lelah jiwa dan raganya, ibuku jatuh sakit. Ibuku terkena radang paru – paru. Kadang – kadang batuknya teramat kuat. Aku merasa bersalah . Ibuku sakit karena aku. Kukatakan jika ibu terlalu berat membiayai kuliahku, aku akan berhenti kuliah. Ibuku tak setuju. Ia marah. Katanya dengan ilmu, aku  berbakti pada orang tua.

Aku kembali ke kota. Ibuku menatapku dengan tatapan sayu. Tubuhnya semakin ringkih. Kelihatan seperti memaksakan dirinya. Radang paru – paru menggerogoti tubuhnya. “ Hyang Widhi, berikanlah kesembuhan pada ibuku.”

Sebagai anak, aku pun tidak menyia – nyiakan perjuangan ibuku. Aku belajar siang malam. Aku ingin buktikan pada ayah dan ibuku bahwa aku wajar dihargai. Aku mendapatkan beasiswa lagi. Aku manfaatkan dengan sebaik mungkin. Jika teman – temanku bermalam minggu, aku menghabiskan waktuku dengan belajar. Aku memang cerdas. Semua mata kuliahku lulus dengan memuaskan.

Kadang – kadang aku tumbuh juga rasa iri pada teman – teman kuliahku. Ia bisa berpacaran dan menikmati masa remaja dengan indahnya. Tapi aku, selalu berkutat dengan derita batin. Fisikku yang cacat seperti berpadu dengan sikap ayahku yang tidak peduli padaku. “ Tuhan bukalah hati ayahku.”

Jujur kukatakan, aku cantik., sesuai dengan namaku, Indah. Teman – teman priaku memujiku. Tapi, fisikku yang cacat menjadikan ia tidak berani menyatakan cintanya. Ia tahu orang tuanya pasti tidak akan merestui hubungannya. Ia tidak mau menyakiti hatiku. Aku memakluminya.

Hari – hari akhir kuliah sudah semakin dekat. Aku sengaja menyusun skripsi dengan mengambil sampel orang – orang cacat. Skripsiku dianggap menarik bagi dosen – dosenku. Aku lulus cumlaude. Dan aku berhak bekerja di almamaterku di bagian laboratorium.

Aku  cepat – cepat pulang. Aku ingin bersujud di kaki orang tuaku. Akan kupeluk ibuku . Akan kucurahkan kebahagianku.

Aku tiba di banjarku. Aku kaget. Kudengar kulkul banjarku bertalu – talu.  Kebakaran ! Kebakaran ! Kebakaraaaaaaaaaaaaaan! ” teriaknya. Aku gelagapan. Kulihat kepulan asap membungbung di atas rumahku.

 

Catatan

Bapa                : Ayah, bapak

Banjar              : nama organisasi kemasyarakatan di Bali

Balian              : dukun

Hyang Widhi  : Tuhan

Kulkul             : kentongan

Luh jalir           : perempuan penghibur