Faisah hamil. Sebagai seorang istri, ia merasa bersyukur. Sudah lima tahun ia menanti sebuah kehamilan. Usahanya tidak sia – sia. Tabib – tabib yang pernah didatanginya menyatakan bahwa Faisah tidak mungkin bisa hamil karena ada gangguan pada rahimnya. Dokter sepesialis kandungan juga menyatakan hal yang sama. Faisal tidak bisa hamil, tapi nyatanya ia bisa hamil.

Nurdin, suaminya juga merasa bahagia. Sebagai seorang laki – laki ia merasa jantan karena mampu menghamili istri tercintanya. Setiap datang dari kerja, ia mengelus – elus kehamilan istrinya. Kadang – kadang dibisiki kata – kata yang berisi harapan pada anaknya. “ Jadilah anak yang berbakti pada orang tua. Jadilah seorang anak yang pantang menyerah. Jadilah seorang anak yang bisa memimpin diri sendiri, sebelum memimpin orang lain.”

Ada geliat pada kehamilan Faisah. Ia tatapi gerakan – gerakan anaknya. “ Bu lihat anak kita tampak gembira melihat kita akur.”

Faisah memeluk suaminya. “ Aku saying, Mas. Karena Mas, saya bisa menjadi seorang ibu. Anak kita akan memanggil kita ayah dan ibu. Aku sudah lama menanti panggilan itu.”

“ Sama Bu. Aku  rasanya sudah ingin memomongnya.”

Malam berjalan, suami istri itu tertidur. Mereka menikmati indahnya mimpi.Dengan mimpi, melewati gejolak hidup yang semakin tak menentu.   Bayangan kakeknya hadir dalam mimpinya. Kakeknya amat mengasihi cucunya. Apalagi Faisah dikenalnya sedari kecil. Faisal juga amat hormat pada kakek Nurdin. Pertemuannya pun sepertinya diatur oleh sang kakek.

“ Anakku, jagalah kehamilan itu. Anak itu akan menjadi seorang pemimpin. Ia akan mengangkat hidupmu. Kesusahan hidupmu akan terlewati dengan menjadi ayah dan ibu bagi anak itu.”

“ Ya Kek. Aku akan menjaganya. Meski himpitan hidup terus mendera keluarga kami. “

“ Bagus! Kakek akan mengawasi perjalanan hidupmu. Jangan kau sisa- siakan kehamilan istrimu itu.”

“ Tentu saja Kakek. Aku telah banyak berkorban agar bisa istriku hamil. Sekaranglah permohonan kami direstui. Kami merasa karunia ini amat berharga. Semoga ia menjadi harapan – harapan keluarga kita.”

Kakek Nurdin tersenyum. “ Kakek tidak bisa lama – lama bersamamu. Kakek mesti menuju alam Tuhan.”

Nurdin tersadar dari mimpinya. Ia melihat istrinya masih mendengkur. Diciumi keningnya berulang –ulang.

Faisah membuka matanya.” Ada apa Mas?”

“ Nggak. Maaf aku mengganggu tidurmu..”

“ Tidak. Kulihat Mas seperti ceria sekali.”

“ Aku bermimpi didatangi kakekku. Ia berpesan agar kita menjaga kehamilanmu.”

“ Tentu saja, Mas. Ini masa depan kita.” Faisah mengelus perutnya.

“ Semoga ia menjadi yang terbaik buat kita.”

“ Harapanku juga seperti itu. Aku sudah teramat lama menanti saat – saat seperti ini.”

Keduanya saling menatap dan melanjutkan tidurnya. Pukul 4 pagi keduanya sudah bangun. Seperti biasa sembahyang pagi dan mempersiapkan masakan untuk siangnya. Faisah menikmati pernikahannya. Sama indahnya dengan pagi itu. Ayam piaraannya berkokok saling bersahutan. Mawar merah  memunculkan baunya. Semerah kasih sayang yang dibinanya selama ini.

Nurdin pun berkemas untuk  bekerja. Ia sebagai supir taksi. Penghasilnya tidak tetap. Terkadang mendapatkan penghasilan yang lebih, kadang – kadang kurang. Bahkan, pernah tidak mendapatkan satu penumpang pun. Ia menghela nafas.” Hidup benar – benar tak bersahabat. Sudah kuusahakan agar menjadi yang terbaik hari ini ternyata sebaliknya.”

“ Istriku kuatkan imammu. Aku akan bertanggung jawab terhadap keluarga kita,” bisiknya. “ Aku akan membahagiakan   keluarga kita.”

Siang harinya, ia dipanggil oleh atasannya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi. Di benaknya berkelebat beragam permasalahan. . “ Semoga tak terjadi sesuatu,” bisiknya. Ia menyadari taksinya pernah bermasalah. Antara izin dengan plat operasinya tak sama. Atasannya sudah mengakui kesalahannya. Tapi, karena itu ia dipanggil. Nurdin tak tahu.

“ Silakan duduk, Pak.”

“ Terima kasih.”

“ Pak, maaf dengan berat hati mesti saya sampaikan.”

“ Kenapa, Pak?”

“ Manager memberikan surat ini pada saya. Dan, saya harus menyerahkannya kepada Bapak.”

Nurdin berkeringat. Hatinya bergemuruh. “ Tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu padaku.”

Nurdin membukanya  pelan – pelan. Atasannya memperhatikan. Ia baca surat itu. Jelas tertera managernya mengadakan PHK terhadapnya.

Maaf Pak, terpaksa hal ini kami lakukan.Perusahaan tidak bisa lagi mempekerjakan Bapak. Setoran Bapak terus berkurang semenjak dua bulan ini, sedangkan perusahan sedang mengalami masalah. Dengan berat hati, kami merumahkan Bapak. Terima kasih.”

“ Oh, Tuhan. Kenapa hal ini mesti kualami. Saat kami memerlukan banyak biaya untuk mempersiapkan kelahiran anakku. Aku tak bisa berbuat apa lagi.”

“ Maaf, Pak. Sekali lagi, maaf. Dengan berat hati, saya mesti memberikan surat ini.”

“ Ndak apa – apa. Saya menyadari kesulitan perusahaan. Sampaikan salam saya pada manager.”

Nurdin pun menyerahkan surat – surat mobilnya, beserta kuncinya. Ia pulang dengan menumpang angkot. Hatinya gelisah teramat amat.” Tuhan kenapa mesti ini kualami. Tolonglah hambamu, Tuhan.”

“ Istriku dan  Anakku.Maaf ayah tak bisa memberikan kehidupan buatmu. Tapi, ayah akan terus berusaha”

Ia sampaikan pada istrinya bahwa dirinya telah di- PHK. Perusahaannya melakukan perampingan. Tidak hanya dirinya saja yang di- PHK teman – temannya juga kena ,tapi masalah hidupnya tentu berbeda.

“ Pak, untuk sementara kita masih bisa hidup. Kita jual saja kalung ini untuk biaya hidup kita.”

Dengan berat hati, Nurdin menjual kalung istrinya satu –satunya. Biaya hidupnya bisa tercukupi untuk sementara waktu.

Bulan terus berjalan. Tuan rumahnya memintanya agar segera membayar tunggakkan sewa kamar. Sudah empat bulan ini, Nurdin tak membayarnya. Jika tidak membayarnya sampai bulan ini akan diusir secara paksa atau dilaporkan pada pihak berwajib.

“ Gimana ini, Mas. Tuan rumah kita terus meminta uang kontrakkan,sedangkan kita tak ada memiliki apa – apa lagi. Aku punya usul. Semoga Mas tidak marah.”

“ Apa usulmu?”

“ Kita jual saja anak kita ini.”

Nurdin terperanjat. Ia tak menyangka usul istrinya seperti itu. Selama hidupnya baru sekarang, seorang istri yang tega menjual anak kandungnya.

“ Apa aku tak salah dengar, Bu ?”

“ Tidak Mas. Aku sudah bulat. Meski ini terasa berat. Kita mesti melakukannya. Aku tidak ingin anak kita juga sama dengan kita. Ia mesti menjadi harapanmu. Ia mesti menjadi pemimpin masa depan.”

Nurdin memandang istrinya. Ia memeluknya erat sekali.